Sabtu, 28 Januari 2012

Penanganan Rheumatoid Arthritis (RA): Pendekatan Agresif dengan Kontrol Ketat



Agen biologis terbukti secara klinis efektif untuk penanganan RA, baik sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan metotresat atau DMARDs (Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drugs) lainnya. Keberhasilan agen biologis ini juga berdampak terhadap pendekatan terapi RA dan tujuan terapi. Dahulu, dengan metode pengobatan konvensional, setiap perbaikan dianggap baik. Sekarang terjadi perubahan dengan konsep “pendekatan agresif dengan kontrol ketat”. Pada RA, remisi klinis dianggap sebagai tujuan akhir terapi.

Pertemuan American College of Rheumatology (ACR) akhir tahun 2010 membahas penggunaan agen biologis dan biosimilar baru untuk pengobatan rheumatoid arthritis (RA). Beberapa makromolekul inhibitor TNF telah disetujui di AS dan di beberapa negara lain, untuk pengobatan RA dan sejumlah kondisi peradangan sistemik auto-imun: Etanercept, Infliximab, Adalimumab, Pegol certolizumab, Golimumab. Tocilizumab – antibodi monoklonal (MAB) yang bekerja menghambat reseptor interleukin-6 – merupakan agen biologis terbaru yang disetujui oleh FDA di tahun 2010.


Dalam uji klinis Behandel Strategieen (Best), 508 pasien dengan RA dini (artritis <2 tahun) secara acak menerima 1 dari 4 kelompok pengobatan:
1. Monoterapi sekuensial (dimulai dengan methotrexate)
2. Terapi kombinasi step-up (dimulai dengan methotrexate)
3. Terapi kombinasi awal dengan methotrexate, sulfasalazine, dan prednison dosis tinggi.
4. Terapi kombinasi awal dengan methotrexate dengan infliximab

Di semua kelompok, dilakukan evaluasi pasien dengan interval 3 bulan. Pasien yang tidak mencapai target terapi (aktivitas penyakit rendah, skor DAS ≤ 2,4) akan diubah rencana perawatannya (dengan algoritma) untuk setiap kelompok. Jika pasien memberikan respons baik pada pengobatan, terapi dapat dikurangi atau bahkan ditarik.

Hasil : Selama 7 tahun periode follow up, 46% pasien mencapai remisi (DAS <1,6); tidak ada perbedaan signifikan dalam parameter kesembuhan antara kelompok, 16% - 17% pasien mencapai dan tetap berada dalam remisi dengan semua obat DMARDs dan atau agen biologis dihentikan.

Kesamaan respons klinis di semua kelompok menunjukkan pilihan pengobatan awal mungkin tidak berpengaruh penting untuk memperbaiki kondisi penyakit.

Data ini menunjukkan adanya periode "window of opportunity" pada tahap awal penyakit, yang memerlukan pendekatan agresif diikuti dengan penyesuaian pengobatan sesuai dengan respons terhadap terapi.

Metode ini terbukti memiliki hasil klinis yang signifikan dengan tingkat remisi yang tinggi, memungkinkan pengurangan dosis atau bahkan penghentian pengobatan untuk pasien RA. Pada awalnya agen biologis digunakan pada pasien dengan RA sedang–berat. Tetapi dengan adanya konsep “pendekatan agresif” ini, agen biologis mungkin dapat digunakan pada pasien dengan RA dini. Tantangannya adalah bagaimana memprediksi pasien yang responsif terhadap agen tertentu dan bagaimana memantau aktivitas penyakit saat menggunakan agen tersebut. 


REFERENSI :
1. Kavanaugh A. Early aggressive treatment, tight control, and emerging biosimilars. Medscape Education Rheumatology 2010.
2. Waknine Y. Tocilizumab Approved for Refractory Rheumatoid Arthritis. Medscape Medical News.
3. Dirven L. Seven year results of DAS steered treatment in the BeSt study: clinical and radiological outcomes. Program and abstracts of the American College of Rheumatology (ACR) 2010
Annual Scientific Meeting 2010.
4. Etanar RF. Therapy in real-life patients with rheumatoid arthritis. Program and abstracts of the American College of Rheumatology (ACR) 2010 Annual Scientific Meeting 2010.

Sumber: 




0 komentar:

Poskan Komentar