Kamis, 19 Januari 2012

Asupan Vitamin B Tinggi Menurunkan Keluhan PMS (Premenstrual Syndrome)


Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, premenstrual syndrome (PMS) dapat mengenai sekitar 85% wanita menstruasi. Meskipun kebanyakan wanita mengalami gejala ringan, sekitar 3-8% mengalami gejala PMS yang lebih berat yang disebut dengan premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Gejala PMS meliputi iritabilitas, menangis, peningkatan nafsu makan, depresi, retensi air, kembung, dll. Hal ini merupakan salah satu alasan bahwa 30% dari mereka akan berobat ke dokter.

Etiologi PMS masih sulit dimengerti. Stres atau kebiasaan makan yang buruk dapat menjadi penyebab PMS. Banyak dari gejala umum yang dikaitkan dengan PMS dapat dikurangi dengan suplemen dan perubahan gaya hidup. Peningkatan konsumsi vitamin B baik melalui diet maupun suplementasi dapat mengurangi kemungkinan gejala PMS tersebut bermanifestasi.

Suatu studi di US meneliti kebiasaan makan, penggunaan suplemen, dan ada tidaknya gejala PMS selama periode 10 tahun. PMS didiagnosis pada 1057 partisipan (36%), sedangkan 1968 wanita diidentifikasi tidak mengalami PMS atau gejala menstrual lainnya. Hasilnya menunjukkan bahwa wanita dengan asupan vitamin B yang lebih tinggi, khususnya thiamine (B1) dan riboflavin (B2) mempunyai risiko terjadinya gejala PMS yang secara bermakna lebih rendah. Pada wanita yang mengonsumsi thiamine dengan kadar tinggi, risiko terjadinya gejala PMS menurun 25%, sedangkan wanita yang mengonsumsi riboflavin dengan kadar yang lebih tinggi mengalami penurunan gejala PMS 35%.

Diyakini bahwa vitamin B dapat membantu mempengaruhi PMS dengan membantu sintesis neurotransmiter di otak. Vitamin B2 berperan penting dalam pembentukan vitamin B6 yang berperan menghasilkan serotonin. Gejala kecemasan, depresi, dan sakit kepala rendah saat kadar serotonin tinggi.  Sedangkan vitamin B1 diperlukan untuk mensintesis neurotransmiter lain yang disebut GABA yang dikaitkan dengan tingkat kecemasan. Jadi asupan thiamine dan riboflavin yang lebih tinggi telah dikaitkan dengan risiko PMS yang lebih rendah.

0 komentar:

Poskan Komentar