This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 20 Desember 2012

Gambaran CT Scan Non-Kontras pada Stroke Iskemik


Risalina Myrtha*, Shabrina Hanifah**
*Dokter, RS Anak Astrini, Kaliancar, Selogiri, Wonogiri,
** Dokter muda, RS Dokter Muwardi, Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia

ABSTRAK

Stroke merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia. Pada kasus stroke iskemik hiperakut (0-6 jam), CT scan biasanya tidak sensitif dalam mengidentifi kasi infark serebri; namun, cukup sensitif dalam mengidentifi kasi berbagai bentuk perdarahan intrakranial akut dan lesi makroskopik lain yang menjadi kontraindikasi penggunaan terapi trombolitik. Gambaran infark hiperakut pada CT scan berupa pendangkalan sulkus disertai menghilangnya batas substansia alba dan grisea pada infark kortikal superfi sial (mis., tanda insular ribbon), hipodensitas ganglia basalia (mis., hipodensitas nuklei lentiformes), tanda hiperdensitas arteri serebri media (middle cerebral artery, MCA), dan tanda Sylvian dot. Dalam periode akut (6-24 jam), perubahan gambaran CT scan non-kontras akibat iskemia menjadi makin jelas. Distribusi pembuluh darah yang mengalami infark juga makin jelas pada fase ini. Pada periode subakut (1-7 hari), terjadi perluasan edema dan efek massa yang menyebabkan pergeseran jaringan infark ke lateral dan vertikal (pada kasus infark yang mengenai daerah pembuluh darah besar). Infark kronis ditandai dengan hipodensitas yang mencolok dan berkurangnya efek massa pada gambaran CT scan; densitas daerah infark sama dengan cairan serebrospinal.

Kata kunci: stroke iskemik, infark hiperakut, infark akut, infark subakut, infark kronis

PENDAHULUAN
Survei Departemen Kesehatan RI pada 987.205 subjek dari 258.366 rumah tangga di 33 provinsi menunjukkan bahwa stroke merupakan penyebab kematian utama pada usia di atas 45 tahun (15,4% dari seluruh kematian).
Penelitian prospektif tahun 1996/1997 mendapatkan 2.065 pasien stroke di 28 rumah sakit di Indonesia. Di Yogyakarta, dari 1.053 kasus stroke di 5 rumah sakit, tercatat angka kematian sebesar 28,3%. Mortalitas pasien stroke di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menduduki peringkat ketiga setelah penyakit jantung koroner dan kanker.
Pada tahun 1995, National Institute of Neurologic Disorders and Stroke (NINDS) melaporkan penggunaan aktivator plasminogen jaringan rekombinan (recombinant tissue plasminogen activator, rt-PA) dalam 3 jam sejak onset gejala dapat memperbaiki hasil akhir terapi. Hal ini menyebabkan pentingnya dilakukan CT scan dini untuk menyingkirkan adanya perdarahan intrakranial dan penyebab non vaskular, misalnya tumor serebri (karena t-PA meningkatkan risiko perdarahan intrakranial).1-3

DEFINISI
Stroke adalah gangguan fungsional otak fokal maupun global akut, lebih dari 24 jam, berasal dari gangguan aliran darah otak dan bukan disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak sepintas, tumor otak, dan stroke sekunder karena trauma maupun infeksi.
Stroke dengan defi sit neurologik yang terjadi tiba-tiba dapat disebabkan oleh iskemia atau perdarahan otak. Stroke iskemik disebabkan oleh oklusi fokal pembuluh darah otak yang menyebabkan berkurangnya suplai oksigen dan glukosa ke bagian otak tertentu. Oklusi dapat berupa trombus, embolus, atau tromboembolus, menyebabkan hipoksia sampai anoksia salah satu daerah pendarahan
otak tersebut. Stroke hemoragik dapat berupa perdarahan intraserebral atau perdarahan subarakhnoid.4,5

PERUBAHAN GAMBARAN CT SCAN PADA STROKE ISKEMIK
Infark Hiperakut
Pada kasus stroke iskemik hiperakut (0-6 jam setelah onset), CT scan biasanya tidak sensitif mengidentifi kasi infark serebri karena terlihat normal pada >50% pasien; tetapi cukup sensitif untuk mengidentifi kasi perdarahan intrakranial akut dan/atau lesi lain yang merupakan kriteria eksklusi terapi trombolitik. 
Gambaran CT scan yang khas untuk iskemia serebri hiperakut adalah sebagai berikut2,3,5-7:
• Gambaran pendangkalan sulcus serebri
(sulcal eff acement)
Gambaran ini tampak akibat adanya edema difus di hemisfer serebri. Infark serebral akut menyebabkan hipoperfusi dan edema sitotoksik. Berkurangnya kadar oksigen dan glukosa seluler dengan cepat menyebabkan kegagalan pompa natrium-kalium, yang menyebabkan berpindahnya cairan dari ekstraseluler ke intraseluler dan edema sitotoksik yang lebih lanjut. Edema serebri dapat dideteksi dalam 1-2 jam setelah gejala muncul. Pada CT scan terdeteksi sebagai pembengkakan girus dan pendangkalan
sulcus serebri.5,7


• Menghilangnya batas substansia alba dan substansia grisea serebri Substansia grisea merupakan area yang lebih mudah mengalami iskemia dibandingkan substansia alba, karena metabolismenya lebih aktif. Karena itu, menghilangnya diferensiasi substansia alba dan substansia grisea merupakan gambaran CT scan yang paling awal didapatkan. Gambaran ini disebabkan oleh influks edema pada substansia grisea. Gambaran ini bisa didapatkan dalam 6 jam setelah gejala muncul pada 82% pasien dengan iskemia area arteri serebri media.3,7,8
• Tanda insular ribbon
Gambaran hipodensitas insula serebri cepat tampak pada oklusi arteri serebri media karena posisinya pada daerah perbatasan yang jauh dari suplai kolateral arteri serebri anterior maupun posterior.3

• Hipodensitas nukleus lentiformis
Hipodensitas nukleus lentiformis akibat edema sitotoksik dapat terlihat dalam 2 jam setelah onset. Nukleus lentiformis cenderung mudah mengalami kerusakan ireversibel yang cepat pada oklusi bagian proksimal arteri serebri media karena cabang lentikulostriata arteri serebri media yang memvaskularisasi
nukleus lentiformis merupakan end vessel.3



• Tanda hiperdensitas arteri serebri media
Gambaran ekstraparenkimal dapat ditemukan paling cepat 90 menit setelah gejala timbul, yaitu gambaran hiperdensitas pada pembuluh darah besar, yang biasanya terlihat pada cabang proksimal (segmen M1) arteri serebri media, walaupun sebenarnya bisa didapatkan pada semua arteri. Arteri serebri media merupakan pembuluh darah yang paling banyak mensuplai darah ke otak. Karena itu, oklusi arteri serebri media merupakan penyebab terbanyak stroke yang berat. Peningkatan densitas ini diduga akibat melambatnya aliran pembuluh darah lokal karena adanya trombus intravaskular atau menggambarkan secara langsung trombus yang menyumbat itu sendiri. Gambaran ini disebut sebagai tanda hiperdensitas arteri serebri media (Gambar 4).1-3,5,6



• Tanda Sylvian dot menggambarkan adanya oklusi distal arteri serebri media (cabang M2 atau M3) yang tampak sebagai titik hiperdens pada fi sura Sylvii (Gambar 5).5,7



Infark Akut
Pada periode akut (6-24 jam), perubahan gambaran CT scan non-kontras akibat iskemia makin jelas. Hilangnya batas substansia alba dan substansia grisea serebri, pendangkalan sulkus serebri, hipodensitas ganglia basalis, dan hipodensitas insula serebri makin jelas.
Distribusi pembuluh darah yang tersumbat makin jelas pada fase ini.1

Infark Subakut dan Kronis
Selama periode subakut (1-7 hari), edema meluas dan didapatkan efek massa yang menyebabkan pergeseran jaringan infark ke lateral dan vertikal. Hal ini terjadi pada infark yang melibatkan pembuluh darah besar.
Edema dan efek massa memuncak pada hari ke-1 sampai ke-2, kemudian berkurang. Infark kronis ditandai dengan gambaran hipodensitas dan berkurangnya efek massa. Densitas daerah infark sama dengan cairan serebrospinal (Gambar 6).


RINGKASAN
Pada pasien dengan gejala klinis stroke, pemeriksaan CT scan perlu dilakukan untuk menyingkirkan perdarahan intrakranial dan penyebab nonvaskular lain, karena terapi aktivator plasminogen jaringan rekombinan untuk stroke iskemik dapat meningkatkan risiko perdarahan intrakranial.

Pada kasus stroke iskemik hiperakut (0-6 jam setelah onset), CT scan terlihat normal pada >50% pasien. Gambaran CT scan yang khas untuk iskemia serebri antara lain pendangkalan sulkus serebri, menghilangnya batas substansia alba dan substansia grisea, misalnya tanda insular ribbon; hipodensitas
nukleus lentiformis, hiperdensitas arteri  serebri media, dan tanda Sylvian dot. Pada infark akut (6-24 jam), gambaran-gambaran tersebut dapat terlihat makin jelas. Selama periode subakut (1-7 hari), edema meluas dan didapatkan efek massa yang menyebabkan pergeseran jaringan yang mengalami infark ke lateral dan vertikal. Infark kronis ditandai dengan gambaran hipodensitas dan berkurangnya efek massa; densitas daerah infark sama dengan cairan serebrospinal.





DAFTAR PUSTAKA
1. Xavier AR, Qureshi AI, Kirmani JF, Yahia AM, Bakshi R. Neuroimaging of Stroke: A Review. South Med J. 2003;96(4). http://www.medscape.com/viewarticle/452843
2. Choksi V, Quint DJ, Maly-Sundgren P, Hoeff ner E. Imaging of Acute Stroke. Applied Radiology. 2005;34 (2):10-19. Available at: http://www.medscape.com/viewarticle/500443_print
3. Tomandl BF, Klotz E Handschu R Stemper B, Reinhardt F, Huk WJ, Eberhardt KE, Fateh-Moghadam S. Comprehensive Imaging of Ischemic Stroke with Multisection CT. RadioGraphics 2003;
23:565–592. Available at: http://radiographics.rsna.com/content/23/3/565.full.pdf+html
4. Setyopranoto I. Stroke: Gejala dan Penatalaksanaan. CDK 2011; 38 (4).
5. Warren DJ, Musson R, Connoly DJA, Griffi ths PD, Hoggard N. Imaging in Acute Ischaemic Stroke: Essential For Modern Stroke Care. Postgrad Med J. 2010;86:409-18. Available at: http://pmj.
bmj.com/content/86/1017/409.full.pdf
6. Hakimelahi R, Gonzales RG. Neuroimaging of Ischemic Stroke with CT and MRI: Advancing Towards Physiology-Based Diagnosis and Therapy. Expert Rev Cardiovasc Ther. 2009;7(1):29-48.
Available at: http://www.medscape.com/viewarticle/587073
7. Harrigan MR, Deveikis JP. Trombolysis for Acute Ischemic Stroke. In: Handbook of Cerebrovascular Disease and Neurointerventional Techniques. New York: Humana Press, 2009. p. 326-
30.
8. Foundation for Education and Research in Neurological Emergencies (FERNE). Neuroimaging in Stroke. 2003. Available at: http://www.ferne.org/Lectures/neuroimaging%200501.htm


Minggu, 28 Oktober 2012

Apa Itu Glasgow Coma Scale ?

Glasgow Coma Scale yaitu suatu skala untuk menilai kuantitas tingkat kesadaran seseorang dan kelainan neurologis yang terjadi. Ada tiga aspek yang dinilai, yaitu reaksi membuka mata (eye opening), reaksi berbicara (verbal respons) dan reaksi gerakan lengan serta tungkai (motor respons).

Rincian dari Glasgow Coma Scale adalah sebagai berikut:
Respon membuka mata      
Dapat membuka spontan dengan adanya kedipan  4
Dapat membuka mata dengan suara (dipanggil)     3
Dapat membuka mata bila dirangsang nyeri           2
Tidak dapat membuka mata (tidak ada reaksi) dengan rangsangan apapun  1

Respon berbicara (verbal)
Komunikasi verbal efektif, jawaban tepat, kata-kata bermakna, senyum, mengikuti objek    5
Bingung, disorientasi waktu, tempat dan orang, menangis tapi bisa diredakan        4
Dengan rangsangan, reaksi hanya kata, tak berbentuk kalimat, terus menerus rewel  3
Dengan rangsangan, reaksi hanya suara, tak berbentuk kata, gelisah, teragitasi 2
Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun/ diam saja 1

Respon motorik
Mengikuti perintah  6
Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan 5
Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan 4
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal 3
Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal 2
Dengan rangsangan nyeri, tidak ada gerakan 1



Cara Jitu Mencegah Sirosis Hati

Jika anda ingin terhindar dari sirosis hati, maka gaya hidup sehat dengan menghindari alkohol serta diet sehat menjadi syarat yang mutlak. Selain itu kenali faktor resiko yang berkaitan dengan penyakit hati, misalnya transfusi darah, hubungan seks yang tidak aman, serta penggunaan jarum suntik bergantian sebagai cara penularan hepatitis B dan C. Dengan mengenali hal-hal tersebut, maka anda dapat lebih bijaksana dan waspada sehingga penyakit akan terdeteksi lebih dini.

Cara Benar Menggunakan Obat Tetes Mata


  1. Bersihkan tangan sebelum meneteskan obat
  2. Berdiri atau duduk di depan kaca
  3. Miringkan kepala ke arah belakang dan secara perlahan tarik bagian bawah bola mata, untuk meneteskan obat mata. Usahakan agar bagian dar tempat obat tidak mengenai mata, bulu atau kelompat mata
  4. Berkediplah beberapa kali. Hal ini untuk membantu obat menyebar ke seluruh bagian permukaan mata
  5. Bersihkan cairan yang tersisa dan tidak masuk ke dalam bola mata
  6. Jika anda diberikan lebih dari satu obat tetes mata, atau perlu meneteskan kembali tunggulah beberapa menit sebelum meneteskan kembali. Hal itu memberi waktu tetesan pertama beredar di bola mata dan dapat bereaksi dengan baik.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Ini Yang Harus Anda Ketahui Sebelum Mendonor Darah

Syarat-syarat menjadi pendonor darah (menurut aturan PMI) yaitu:

  • Umur 17-60 tahun (untuk umur 60 tahun dengan pertimbangan dokter)
  • Berat badan minimun 45 kg
  • Temperatur tubuh 36,6 - 37,5 C (oral)
  • Tekanan darah baik: Sistolik 110-160 mmHg, Diastolik: 70-100 mmHg
  • Denyut nadi teratur 60-100 kali/ menit
  • Hemoglobin: perempuan 12 gr%, Laki-laki 12,5 gr%
  • Jumlah penyumbangan pertahun paling banyak 5 kali dengan jarak penyumbangan sekurang-kurangnya 3 bulan

Selasa, 04 September 2012

Primary Care Stroke Program Mengurangi Kebutuhan Akan Perawatan Jangka Panjang

Stroke adalah salah satu penyebab penting yang membuat disabiliti pada orang dewasa, dan penulis dari penelitian ini memberikan review untuk modifikasi faktor resiko dari stroke. Sekitar 90% stroke terdapat 10 faktor resiko. Penanganan dan modifikasi hipertensi arterial, merokok, diabetes mellitur, atrial fibrialasi dan dislipedimia telah terbukti mengurangi resiko stroke.
Akan tetapi, terdapat bukti meskipun sedikit modifikasi aktifitas fisik, obesitas, ketergantungan alkohol dan hiperkolesterolmia mengurangi juga resiko stroke, meskipun kehadiran faktor tersebut berhubungan dengan resiko tinggi stroke.
Jika modifikasi dari faktro resiko primer dapat mengurangi resiko stroke, tipe intervensi ini juga bisa mengurangi resiko ketergantungan perawatan jangka panjang. Penelitian yang dilakukan oleh Bickel dan kolega berusaha menjawab pertanyaan ini.

Selasa, 10 Juli 2012

Flunarizine Bermanfaat untuk Penanganan Migraine pada Anak

Migren merupakan salah satu masalah umum pada anak. Perkiraan prevalensi pada anak usia prasekolah dan usia sekolah berkisar antara 3,2%-10,6%. Meskipun tingkat keparahan dari penyakit ini pada anak tidak sebesar pada orang dewasa, migren dapat menganggu kehidupan normal anak dan orang tua. Kadang kala, bermacam jenis migren, termasuk hemiplegia yang diidentifikasikan sebagai kondisi autosom dominan dan migren basiler, dapat terjadi dan dapat menyebabkan defisit neurologis fokal.

Banyak obat yang dapat digunakan untuk mencegah migren seperti beta-blocker, antikonvulsan, antiinflamasi non-steroid dan antidepresan. Obat penghambat saluran kalsium telah disetujui sebagai obat pencegahan migren yang efektif pada orang dewasa. Studi terbaru yang dilakukan oleh Dr. Mohamed dan kolega menunjukkan bahwa flunarizine memberikan manfaat untuk penanganan migraine pada anak, studi yang dipublikasikan dalam Developmental Medicine & Child Neurology tahun 2012 ini bertujuan untuk melaporkan pengalaman pada satu pusat pelayanan kesehatan tentang efek flunarizine pada migren anak dengan fokus pada keamanan dan efektivitasnya.

Peneliti melakukan audit observasi retrospektif pada 72 anak (40 anak laki-laki dan 32 anak wanita dengan rerata usia 13 tahun; kisaran usia 1 tahun 6 bulan hingga 17 tahun) pada unit pediatri-neurologi tertier antara tahun 1998 dan 2009. Anak-anak diikutsetakan di dalam penelitian jika didiagnosis mengalami migren dan setidaknya menjalani satu penilaian follow up dan setidaknya 3 bulan diterapi dengan flunarizine.

Dari 102 anak yang diidentifikasi, 30 orang dikeluarkan dari penelitian karena tidak ada data mengenai hasil (n =13), bukan penderita migren (n =9), catatan medis hilang (n =4), atau durasi pengobatan tidak adekuat (n =4). Dari kohort akhir (72 anak), 44 anak mengalami migren tanpa aura, 15 mengalami migren dengan aura atau setara dengan migren anak, delapan mengalami migren hemiplegi sporadis, dan lima mengalami migren hemiplegi familial. Usia median adalah 13 tahun dan median durasi migren adalah 48 bulan. Dosis awal adalah 5 mg. Dosis lain yang digunakan adalah 2,5 mg (tiga anak), 7,5 mg (satu anak), dan 10 mg (enam anak). Durasi perawatan adalah 12 bulan.

Keberhasilan pencegahan, yang dinilai dengan setidaknya 50% penurunan pada frekuensi serangan, terlihat pada 57% (41/72). Angka respons lebih tinggi di antara anak yang mengalami migren hemiplegi (85%) dibandingkan anak yang tidak mengalami migren hemiplegi (51%). Efek samping terlihat pada 15 anak (21%) (depresi, n =6; peningkatan berat badan/nafsu makan, n =5; kelelahan/mengantuk, n =2, dan perburukan sakit kepala, n =2) dan menyebabkan penghentian pengobatan pada 13 anak.

Dari penelitian kohort pada anak dengan migren ini, flunarizine tampaknya lebih efektif pada anak dengan migren hempilegia. Efek samping terlihat pada 1/5 anak yang mentebabkan penghentian pengobatan sebesar 18%.(SFN)


Referensi:
Mohamed BP, Goadsby PJ, Prabhakar P. Safety and efficacy of flunarizine in childhood migraine: 11 years' experience, with emphasis on its effect in hemiplegic migraine. Dev Med Child Neurol. 2012 Mar;54(3):274-7.


Asam Hialuronat Bermanfaat untuk Penyembuhan Luka Pembedahan maupun Luka Kronik

Hyaluronic asam (HA) adalah polisakarida yan gumum terdapat pada sebagian besar spesies dan ditemukan di banyak bagian dalam tubuh manusia, termasuk kulit dan jaringan lunak. Suatu review sistemik dan meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Wound Repair and Regeneration Mei 2012 ini, menujukkan bahwa pemberian asam hialuronat memberikan mamfaat pada akselerasi penyembuhan dari luka bakar, luka pembedahan maupun luka kronik.

Meta-analisis tersebut bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan derivatif HA dalam penyembuhan luka bakar, bedah epitel, dan luka kronis. Sembilan studi diidentifikasi, yang memenuhi kriteria pencarian dan parameter penilaian utama adalah hasil klinis yang lengkap, persentase pengurangan ukuran dari proses penyembuhan luka pada kelompok yang menggunakan HA vs baik komparator aktif atau pasif. Dari yang ditemukan, sebagian besar studi terkontrol acak (delapan dari sembilan) yang HA derivatif secara signifikan meningkatkan penyembuhan luka vs terapi tradisional atau plasebo (baik melalui penyembuhan lengkap atau penurunan yang signifikan dalam ukuran luka) yang terjadi dari luka bakar, insufisiensi vena , diabetes, insufisiensi neuropatik, dan bedah penghapusan lapisan epitel (untuk penghapusan tato). Dalam studi lainnya yang tersisa, satu rumusan HA dibandingkan dengan yang lain, dengan konsentrasi yang lebih tinggi menunjukkan karakteristik yang lebih baik. Selanjutnya, ditemukan pada meta-analisis pada subset dari pasien dengan ulkus kaki diabetik (neuropati) bahwa derivat HA menyembuh jenis luka ini secara signifikan lebih cepat dari perawatan standar.

Studi-studi ini dalam acara agregat menunjukkan bahwa derivat HA mempercepat proses penyembuhan pada luka bakar, luka bedah epitel, dan luka kronis.

Referensi: Hyaluronic acid derivatives and their healing effect on burns, epithelial surgical wounds, and chronic wounds: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials; Voigt J, Driver VR; Wound Repair and Regeneration 20 (3), 317-31 (May 2012)


Ringer Acetate untuk Pasien Sepsis Berat

Cairan intravena adalah terapi utama yang digunakan untuk menangani pasien dengan hipovolemia yang disebabkan oleh sepsis berat. Studi terbaru, menunjukkan bahwa pemberian ringer acetate pada pasien sepsis berat memberikan efek yang lebih baik. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Dr. Perner dan kolega yang dipblikasikan dalam New England Journal of Medicine tahun 2012 ini.

Studi tersebut dilakukan secara acak dan tersamar ganda terhadap 798 pasien dengan sepsis berat di ICU yang memerlukan resusitasi cairan dan diberikan HES 6% 130/0,4 atau Ringer’s Acetate dengan dosis 33 mL/kgBB ideal/hari. Parameter yang dinilai adalah angka mortalitas dan juga fungsi ginjal setelah 90 pasca-pengelompokan acak pemberian cairan.

Hasil dari studi tersebut, jumlah pasien yang menerima blood products lebih banyak secara bermakna pada kelompok ringer’s acetate dibandingkan dengan kelompok HES (p=0,002). Angka mortalitas secara bermakna lebih tinggi pada kelompok HES jika dibandingkan dengan kelompok ringer’s acetate (p=0,03). Jumlah pasien yang menerima terapi pengganti ginjal lebih banyak secara bermakna pada kelompok HES jika dibandingkan dengan kelompok ringer’s acetate (p0,04). Jumlah pasien yang mengalami perdarahan hebat lebih banyak secara bermakna pada kelompok HES jika dibandingkan dengan kelompok ringer’s acetate (p=0,09).

Kesimpulan: Pemberian Ringer’s Acetate lebih baik jika dibandingkan dengan HES 6% 130/0,4 pada pasien dengan sepsis berat. Pemberian HES 6% 130/0,4 pada pasien dengan sepsis berat meningkatkan angka mortalitas pada hari ke-90 dan juga peningkatan kebutuhan terapi pengganti ginjal jika dibandingkan dengan pasien yang menerima Ringer’s Acetate.


Referensi: Perner A, Haase N, Guttormsen AB, Tenhunen J, Klemenzson G, Aneman A, et al. Hydroxyethyl starch 130/0.4 versus ringer’s acetate in severe sepsis. N Engl J Med. 2012. DOI: 10.156.NEJMoa1204242.

Kuadripel Terapi, Levofloxacin 5 Hari Efektif dan Aman untuk Eradikasi Helicobacter pylori

Helicobacter pylori telah menjadi resisten terhadap agen antimikroba, sehingga akan menurunkan angka eradikasi. Regimen sequensial 10 hari yang menggunakan levofloxacin memberikan hasil yang efisien, aman dan ekonomis untuk eradikasi H. pylori pada daerah-daerah yang mempunyai prevalensi tinggi dalam hal resistensi terhadap clarithromycin. Dari studi non-inferioritas terbaru yang dilakukan oleh Dr. Alessandro Federico dan kolega dari Dipartimento Medico Chirurgico di Internistica Clinica e Sperimentale ed UOC di Gastroenterologia e, Napoli, Italy yang telah dipublikasikan dalam jurnal Gastroenterology Juli 2012 ini menunjukkan bahwa pemberian levofloxacin yang dikombinasikan dengan 3 macam obat lainnya memberikan efektivitas sebanding dengan tripel terapi dengan levofloxacin untuk eradikasi H. pylori.

Dalam penelitian ini kelompok responden yang positif terinfeksi H. pylori secara acak mendapatkan terapi 5 hari bersamaan (esomeprazole 40 mg dua kali sehari, amoksisilin 1 g dua kali sehari, levofloxacin 500 mg dua kali sehari, dan tinidazol 500 mg dua kali sehari, n = 90) atau 10 hari terapi sekuensial (esomeprazole 40 mg dua kali sehari, amoksisilin 1g dua kali sehari selama 5 hari diikuti dengan esomeprazole 40 mg dua kali sehari, levofloxacin 500 mg dua kali sehari, dan tinidazol 500 mg dua kali sehari selama 5 hari, n = 90). Resistensi antimikroba dinilai dengan E-test. selain itu efikasi, efek samping, dan biaya juga di evaluasi.

Dari analisis ITT (Intention-to-treat) menunjukkan tingkat eradikasi H.pylori yang sebanding untuk kelompok terapi kuadripel (92,2%; 95% [CI], 84,0% -95,8%) dan terapi sekuensial (93,3%, 95% CI, 86,9% -97,3%). Sedangkan analisis per-protokol, angka eradikasi menunjukkan hasilnya 96,5% (95% CI, 91% -99%) untuk terapi bersamaan dan 95,5% untuk terapi sekuensial (95% CI, 89,6% -98,5%). Perbedaan antara pengobatan bersamaan dan sequensial adalah 1,1% pada ITT studi (95% CI; -7,6% menjadi 9,8%) dan -1,0% dalam analisis per protokol (95% CI; -8,0% menjadi 5,9 %). Prevalensi resistensi antimikroba dan kejadian efek samping sebanding diantara kedua kelompok. Namun teraapi konkomitan (bersamaan) menghemat biaya sebesar 9 dolar jika dibandingkan dengan terai sequensial.

Berdasarkan studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa levofloxacin yang diberikan dengan terapi kuadripel selama 5 hari memberikan efektivitas dan keamanan yang sebanding dengan serta dengan biaya yang lebih ekonomis jika dibandingkan dengan levofloxacin selama 10 hari pada terapi sequensial.adalah sebanding antara kelompok.


Referensi: Alessandro Federico, Gerardo Nardone. Efficacy of 5-Day Levofloxacin-Containing Concomitant Therapy in Eradication of Helicobacter pylori Infection. Gastroenterology 2012:143(1): 55-61.


Minggu, 01 Juli 2012

Varenicline Bermanfaat untuk Ketergantungan Rokok

Varenicline merupakan obat dari kelas yang baru untuk menghentikan kebiasaan merokok. Varenicline merupakan agonis parsial alfa-4β2 nicotinic acetylcholine receptor (nAChR) dan agonis penuh pada alfa-7 nAChR. Adiksi nikotin dimediasi oleh stimulasi dari alfa-4β2 nACgR pusat oleh nikotin, yang menyebabkan terlepasnya dopamine, sehingga pada akhirnya menimbulkan efek yang menyenangkan dengan merokok. Studi terbaru yang dilakukan oleh Dr. Williams dan kolega yang dipublikasikan dalam  Journal Clinical of  Psychiatry tahun 2012, diketahui bahwa vareciline juga memberikan manfaat untuk mengurangi kertergantungan rokok.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berlangsung selama 12 minggu, dengan metode acak, tersamar ganda, dan multisenter. Penelitian yang berlangsung sejak tanggal 8 May 2008 hingga 1 April 2010 ini melibatkan 127 perokok (≥ 15 batang rokok/hari) yang dengan DSM-4 telah dikonfirmasi mengalami gangguan schizophrenia atau schizoaffective. Para subyek penelitian ini menerima varenicline atau plasebo dengan rasio 2:1.

Hasil keluaran primer penelitian ini adalah keamanan dan tolerabilitas dari penggunaan varenicline yang dinilai dengan melihat frekuensi efek samping dan tingkat skor pada the Positive and Negative Syndrome Scale dan skala psikiatri lainnya dari sejak awal penelitian hingga 24 minggu sesudahnya. Abstinence (periode tidak merokok) ditentukan dengan tidak merokoknya pasien selama 7 hari setelah minggu ke-12 dan ke-24, dan diverifikasi dengan kadar karbon monoksida.

Sebanyak 84 pasien menerima varenicline dan 43 pasien menerima plasebo. Pada minggu ke-12 (akhir masa pemberian obat) 16/84 pasien yang menerima varenicline (19,0%) memenuhi kriteria berhenti merokok dibandingkan dengan 2/43 (4,7%) pasien yang menerima plasebo (p =0,046). Pada minggu ke-24, sebanyak 10/84 (11,9%) pasien yang menerima varenicline dan 1/43 (2,3%) pasien yang menerima plasebo, memenuhi kriteria berhenti merokok (p =0,090). Jumlah keseluruhan efek samping pada kedua kelompok serupa, dengan tidak adanya perubahan bermakna dari gejala schizophrenia atau pada tingkat mood dan ansietas. Tingkat pemikiran bunuh diri 6,0% pada kelompok yang menggunakan varenicline dan 7,0% pada kelompok yang menerima plasebo (p =1,0). Ada satu usaha bunuh diri yang dilakukan oleh pasien yang menggunakan varenicline dengan riwayat sebelumnya yang sama (usaha bunuh diri).

Kesimpulan yang ditarik oleh para peneliti adalah bahwa varenicline dapat ditoleransi dengan baik, dengan tidak adanya bukti eksaserbasi dari gejala-gejala psikosisnya, dan penggunaan varenicline ini juga berkaitan dengan penghentian merokok yang lebih tinggi dibandingkan dengan plasebo pada minggu ke-12. Dari hasil penelitian ini peneliti menyatakan bahwa varenicline merupakan terapi penghentian merokkok yang sesuai untuk pasien dengan gangguan schizophrenia atau gangguan schizoaffective.(SFN)

Referensi: Williams JM, Anthenelli RM, Morris CD, Treadow J, Thompson JR, Yunis C, et al. A randomized, double-blind, placebo-controlled study evaluating the safety and efficacy of varenicline for smoking cessation in patients with schizophrenia or schizoaffective disorder. J Clin Psychiatry.2012;73(5)

Delima, Si Buah Eksotis Pencegah Kanker Payudara

Pencegahan adalah obat yang paling baik. Hal ini berlaku juga untuk penyakit kanker. Pengaturan pola makan serta gaya hidup sehat masih menjadi perlindungan utama dari penyakit yang satu ini. Salah satu buah yang sejak dulu berkhasiat sebagai anti kanker adalah buah delima atau pomegranate (Punica granatum).
 
Buah delima selain memiliki aktivitas anti oksidan dari kandungan polifenolnya yang tinggi  ternyata memiliki  mekanisme pencegahan kanker yang lain oleh urolithin, suatu anti aromatase dari senyawa ellagitannin yang banyak dimiliki oleh buah delima. Tim gabungan yang berasal dari Beckman Research Institute of the City of Hope dan University of California-Los Angeles di California berusaha untuk mempelajari aktivitas urolithin ini.

Pada delima, aromatase adalah enzim yang mampu mengubah androgen menjadi estrogen, suatu faktor penting dalam pembentukan kanker payudara. Sementara ellagitannin merupakan salah satu senyawa polifenol dengan kandungan cukup tinggi. Di dalam tubuh, ellagitannin akan terhidrolisis menjadi ellagic acid, yang selanjutnya akan dikonversi oleh bakteri di usus menjadi senyawa urolithin. 

Dalam kesimpulan hasil penelitian tim gabungan tersebut yang dipublikasikan di jurnal Cancer Prevention Research pada tahun 2010 ini, urolithin terbukti menghambat aktivitas aromatase sehingga menghambat proliferasi sel kanker payudara secara in vitro. Walaupun hasil ini perlu dibuktikan secara in vivo, namun hasil penelitian awal ini dapat memberikan gambaran potensi yang dimiliki buah delima untuk mencegah kanker payudara. Karena itu tunggu apa lagi

Referensi: Cancer Prev Res; 3(1);108–13.

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1681/Delima-Si-Buah-Eksotis-Pencegah-Kanker-Payudara.aspx

Merokok Mempercepat Penurunan Fungsi Kognitif dan Eksekutif pada Kaum Laki-laki

Studi terbaru menunjukkan bahwa, perokok yang dilakukan pada usia pertengahan khususnya pada kaum laki-laki akan mempercepat terjadinya penurunan fungsi kognitif dan fungsi eksekutif  jika dibandingkan dengan individu yang tidak merokok. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Dr. Séverine Sabia, PhD. yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Archives of General Psychiatry tahun 2012 ini.
 
Studi yang melibatkan sebanyak 5099 kaum ellaki dan sebanyak 2137 kaum wanita ini merupakan studi kohort dengan rentang usia 44-69 tahun, dimana subyek diambil dari the Whitehall II Study yang dilakukan penilaian fungsi kognitif pada tahun 1997 sampai 1999, dan diulang pada tahun 2002 sampai 2004 dan 2007 sampai 2009 dengan menggunakan parameter the cognitive test battery yang terdiri dari tes memori, vokabulari, fungsi eksekutif  dan performen kognitif global. Status merokok dievaluasi selama periode penelitian. 

Hasil dari studi tersebut, pada kaum laki-laki terjadi penurunan dari semua tes kecuali tes vokabulari jika dibandingkan dengan populasi yang tidak merokok dengan deviasi standar antara seperempat sampai sepertiga. Penurunan fungsi kognitif tercepat terlihat pada kelompok yang pada saat studi masih melakukan merokok jika dibandingkan dengan yang tidak merokok (mean difference in 10-year decline in global cognition = -0.09 [95% CI, -0.15 to -0.03] and fungsi kognitif = -0.11 [95% CI, -0.17 to -0.05]). Pada kelompok yang pada saat studi sudah tidak merokok terjadi penurunan fungsi eksekutif yang paling besar (-0.08 [95% CI, -0.14 to -0.02]), walaupun dalam jangka panjang penurunan pada eks-perokok ini sembanding dengan yang tidak merokok. Sebagai analisis tambahan terhadap gangguan kesehatan dan kematian terjadi perbedaan antara 1,2 sampai 1,5 kali lebih besar pada kelompok perokok. Sedangkan pada kaum wanita penurunan fungsi kognitif tidak dipengaruhi oleh status merokoknya.

Berdasarkan studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak merokok, perokok kaum laki-laki  pada usia paruh baya terjadi penurunan  fungsi kognitif dan fungsi eksekutif yang lebih cepat. Pada eks-perokok yang sudah berhenti miminal 10 tahun tiak dterjadi efek pada penurunan fungsi kognitif.

Referensi: Séverine Sabia, PhD; Alexis Elbaz, MD, PhD; Aline Dugravot, MSc; Jenny Head, MSc; Martin Shipley, MSc; Gareth Hagger-Johnson, PhD; Mika Kivimaki, PhD; Archana Singh-Manoux, PhD . Impact of Smoking on Cognitive Decline in Early Old AgeThe Whitehall II Cohort Study. Arch Gen Psychiatry. 2012;69(6):627-635.

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1683/Merokok-Mempercepat-Penurunan-Fungsi-Kognitif-dan-Eksekutif-pada-Kaum-Laki-laki.aspx

Pilihan Suplementasi Oral Zat Besi untuk Anemia

Anemia defisiensi zat besi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup banyak ditemui, terutama pada bayi, anak-anak, wanita hamil, dan wanita dengan siklus menstruasi yang berat. Suplementasi zat besi secara oral adalah murah, relatif aman dan cukup efektif dalam meningkatkan kadar  hemoglobin dan memelihara penyimpanan zat besi dalam mencegah dan mengoreksi defisiensi zat besi tersebut.  
 
Banyak preparat zat besi yang beredar, dengan dosis yang luas dan bervariasi,  secara  formulasi dalam bentuk yang cepat maupun pelepasan lambat serta  bentuk kimiawi berupa ferro (ferrous) atau ferri (ferric).  Keuntungan penggunaan bentuk ferro dengan ferri masih kontroversi. Dalam suatu review literatur disebutkan, tolerabilitas dan efikasi dari formulasi ferro dibanding ferri yang dievaluasi dalam bentuk ferro sulfat (ferrous sulphate) dan preparat  iron polymaltose complex (IPC), 2 bentuk zat besi yang predominan yang digunakan.  Data sat ini,  menunjukkan bahwa bentuk lepas lambat (slow-release) dari preparat ferro sulfat  tetap digunakan serta menjadi pengobatan standar terapi defisiensi zat besi, berdasarkan indikasi, bioavailabilitas baik, efikasi dan tolerabilitas yang diterima yang ditunjukkan dari beberapa studi klinis besar .

Studi lain adalah suatu penelitian yang dilakukan di India, berdasarkan respon klinis dan efek samping dari ferro sulfat (FS) dan Iron polymaltose complex (IPC) terhadap 118 anak dengan anemia defisiensi zat besi.  Subyek diacak untuk mendapatkan suplementasi dengan IPC oral  (kelompok A, n = 59) atau ferro sulfat  oral (kelompok B, n = 59);  Keseluruhan diberikan zat besi elemental yang terbagi dalam dosis  6 mg/kgbb/hari. 

Dari sebanyak 106 anak yang difollow up dengan masing-masing 53 anak pada setiap kelompok.  Ditemukan kadar hemoglobin dari kelompok yang menerima ferro sulfat  lebih tinggi, serta keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang menerima  iron polymaltose complex.   Dari hasil penelitian di India ini, disimpulkan bahwa bentuk ferro sulfat  memiliki respon klinis yang lebih baik dan lebih sedikit  efek samping yang ditimbulkan secara bermakna selama pengobatan anemia defisiensi zat besi pada anak.(IWA)

Referensi :
1. Santiago P. Ferrous versus Ferric Oral Iron Formulations for the Treatment of Iron Deficiency: A Clinical Overview. Scientific World Journal 2012.2012:846824. Epub 2012 May 2.
2. Bopche AV, Dwivedi R, Mishra R, Patel GS. Ferrous sulfate versus iron polymaltose complex for treatment of iron deficiency anemia in children. Indian Pediatr 2009 Oct;46(10):883-5.

Panduan Diagnosis dan Tata Laksana ISK pada Bayi dan Anak

American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan panduan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi dan anak usia 2-24 bulan dengan demam. Panduan ini terdapat dalam edisi September di jurnal Pediatrics.
Beberapa rekomendasi dari AAP mengenai diagnosis dan penatalaksanaan ISK pada bayi dan anak usia 2-24 bulan dengan demam adalah:
  • Diagnosis infeksi saluran kemih ditegakkan dari spesimen urin dengan piuria dan 50.000 koloni organisme uropatogen/mL atau lebih.
  • Untuk memfasilitasi diagnosis dan terapi ISK rekuren, sebaiknya dilakukan pemantauan setelah 7-14 hari terapi anti-mikroba.
  • Untuk mendiagnosis abnormalitas anatomi, dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan kandung kemih.
  • Karena evidence dari 6 studi terbaru tidak mendukung penggunaan profilaksis anti-mikroba untuk mencegah ISK rekuren dengan demam pada bayi tanpa vesicoureteral reflux (VUR) atau VUR grade 1-4, voiding cystourethrography (VCUG) tidak direkomendasikan secara rutin setelah ISK yang pertama.
  • VCUG direkomendasikan bila USG ginjal dan kandung kemih menunjukkan adanya hidronefrosis, jaringan parut, atau VUR high-grade, atau obstruksi uropati atau keadaan klinik yang atipikal atau kompleks.
  • Bayi dan anak dengan ISK rekuren dan demam sebaiknya dilakukan VCUG.
ISK yang akut diberikan terapi anti-mikroba untuk mengeliminasi infeksi, mencegah komplikasi, dan mengurangi kemungkinan kerusakan ginjal. Anti-mikroba diberikan selama 7-14 hari.
Antibiotik oral yang diberikan menurut AAP antara lain:

Antibiotik
Dosis
Amoxicillin/clavulanate
20-40 mg/kg/hari, dibagi dalam 3 dosis
Sulfonamide
Trimethoprim-sulfamethoxazole
Sulfisoxazole
6-12 mg/kg/hari trimethoprim dan 30-60 mg/kg/hari sulfamethoxazole, dibagi dalam 2 dosis
120-150 mg/kg/hari, dibagi 4 dosis
Cephalosporin
Cefixime
Cefpodoxime
Cefprozil
Cefuroxime axetil
Cephalexin
8 mg/kg/hari, 1 kali sehari
10 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
30 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
20-30 mg/kg/hari, dibagi 2 dosis
50-100 mg/kg/hari, dibagi 4 dosis

Selain itu, antibiotik parenteral yang diberikan menurut AAP antara lain:

Antibiotik
Dosis
Ceftriaxone
75 mg/kg, tiap 24 jam
Cefotaxime
150 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 6-8 jam
Ceftazidime
100-150 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 8 jam
Gentamicin
7,5 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 8 jam
Tobramycin
5 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 8 jam
Piperacillin
300 mg/kg/hari, dibagi dalam dosis tiap 6-8 jam
Panduan yang baru ini diharapkan bermanfaat dalam diagnosis dan penatalaksanaan ISK pada bayi dan anak usia 2-24 bulan dengan demam. (HLI)


Referensi:
1.    AAP issues guideline for UTI management in children. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/748775
2.   Urinary tract infection: clinical practice guideline for the diagnosis and management of the initial UTI in febrile infants and children 2 to 24 months. Pediatrics 2011;128(3):595-610.

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1651/Panduan-Diagnosis-dan-Tata-Laksana-ISK-pada-Bayi-dan-Anak.aspx

Suplementasi Zinc Menurunkan Kejadian Pneumonia dan Diare pada Anak

Pnemonia merupkaan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak kurang dari 5 tahun. Diperkirakan sekitar 20% (1,9 juta) kematian pertahun dari anak-anak usia kurang dari 5 tahun ini disebabkan oleh pnemonia. Dan hampir 2/3-nya terjadi pada bayi, dan lebih dari 90% terjadi di negara-negara berkembang. Studi yang ada, suplementasi zinc mampu menurunkan angka kejadian pneumonia pada anak, studi yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet ini diperkirakan berhubungan dengan adanya potensi zinc sebagai imunomodulator.

Seperti diketahui bersama, zinc atau seng merupakan mineral yang dari beberapa literatur mempunyai potensi untuk meningkatkan status imunologi, dan beberapa studi yang ada zinc ini mempunyai manfaat dalam mencegah dan memperpendek waktu diare. Efek zinc sebagai imunomodulator ini diperkirakan memberikan manfaat  untuk membantu mempercepat penyembuhan infeksi maupun mencegah kekambuhan, zinc akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh melalui kaskade atau langkah-langkah dalam hal peningkatan imunitas yang diawali dengan  mobilisasi dan skuestrasi dari zinc pada jaringan yang kaya atau banyak mengandung zinc-metallomethionin, yang selanjutnya akan mempercepat upregulasi  sintesis protein sebagai bahan untuk imun spesifik, serta aktivasi dari makrofag, limfosit,  dan sel NK.  Anak-anak dengan status zinc yang baik secara umum mempunyai respon imunologis yang lebih baik jika dibandingkan dengan anak-anak dengan status zinc yang lebih jelek. 
 
Dalam studi yang dilakukan oleh Dr. Brooks, tersebut dilibatkan sebanyak 270 anak-anak dengan pneumonia dan  rentang usia antara 2 – 23 bulan, yang masing-masing sebanyak  diberikan preparat zinc 20 mg per hari atau mendapat plasebo, yang ditambahkan pada terapi antibiotik menunjukkan bahwa pada kelompok yang mendapat preparat zinc terjadi penurunan darajat  keparahan dari pneumonia-nya serta terjadi penurunan gejala-gejala pneumonia yang lebih bermakna jika dibandingkan dengan kelompok anak yang mendapat plasebo. Sedangkan studi yang lain adalah studi yang melibatkan sebanyak 1665  anak  dengan rentang usia 60 hari  - 12 bulan, yang selanjutnya diacak untuk mendapatkan zinc sebanyak 70 mg/ minggu atau mendapat plasebo selama 12 bulan. Subyak dinilai setiap minggu dengan beberapa parameter yang diukur adalah meliputi: kejadian diare dan pneumonia, serta kejadian infeksi saluran nafas. 

Dari studi tersebut penulis menyimpulkan bahwa: suplementasi zinc sebesar 70 mg per minggunya, mampu menurunkan kejadian pneumonia serta kematian pada anak-anak, walaupun suplementasi yang diberikan sekali seminggu ini mungkin akan meningkatan risiko kelupaan konsumsi zinc.

Referensi:
1.  Brooks WA., Yunus M., Santosham M., et al. Zinc for severe pneumonia in very young children: double-blind placebo-controlled trial. The Lancet 2004;363:1683-88.
2.  Brooks WA, Mathuram S, Aliya N, et al. Effect of weekly zinc supplements on incidence of pneumonia and diarrhoea in children younger than 2 years in an urban, low-income population in Bangladesh:randomised controlled trial. The Lancet 2005; 366: 999–1004

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1666/Suplementasi-Zinc-Menurunkan-Kejadian-Pneumonia-dan-Diare-pada-Anak.aspx

Levofloxacin untuk Penanganan Infeksi Helicobacter pylori

Resistensi Heliobacter pylori terhadap antibiotik metronidazole dan clarithromycin meningkat di banyak negara. Karena itu, banyak ilmuwan yang mencoba melakukan studi untuk mempelajari penggunaan antibiotik lain untuk penanganan infeksi Heliobacter pylori, terutama antibiotik golongan derivat quinolone.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Gastroenterologia Polska pada tahun 2012 semakin mendukung penggunaan levofloxacin untuk penanganan infeksi Helicobacter pylori. Studi ini mengikutsertakan 50 pasien pengidap infeksi Heliobacter pylori. Sebanyak 25 pasien di kelompok pertama diberikan regimen pantoprazole (2 x 40 mg), amoxicillin (2 x 1000 mg), dan metronidazole (2 x 500 mg) selama 7 hari. Pada 25 pasien lainnya di kelompok kedua, metronidazole diganti dengan levofloxacin (2 x 500 mg).

Hasilnya memperlihatkan bahwa eradikasi H. pylori tercapai pada 72% pasien kelompok pertama dan 88% pasien kelompok kedua (p <0,01). Perbaikan gejala gastrointestinal tercapai pada 56% pasien kelompok pertama dan 68% pasien kelompok kedua (p <0,05). Dua pasien di kelompok pertama mengalami efek samping mual yang relatif ringan.
Sebagai simpulan, levofloxacin efektif dan relatif aman sebagai bagian dari regimen pengobatan Heliobacter pylori. (AGN)

Referensi:
Chojnacki C, Walecka-Kapica E, Romanowski M, Kulig G, Pawłowicz M2, Chojnacki J. Levofloxacin in the treatment of Helicobacter pylori infection. Gastroenterol Pol. 2012;19(1):5-8.

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1665/Levofloxacin-untuk-Penanganan-Infeksi-Helicobacter-pylori.aspx

Asupan Kopi dan Keluhan Inkontinensia Urin pada Wanita

Kopi, berdasarkan studi terbaru ternyata meningkatkan terjadinya inkontinensia urin derajat ringan pada wanita di Amerika. Studi yang dilakukan oleh Dr. Gleason dan kolega ini telah dipublikasikan secara online dalam International Urogynecology Journal bulan Juni 2012. Secara umum tujuan dari studi tersebut adalah menilai atau mengetahui gambaran hubungan antara konsumsi kafein yang terkandung dalam kopi dengan kejadian dan derajat inkontinensia urin pada wanita.
 
Studi yang melibatkan wanita AS ini dilakukan dalam kurun waktu  2005-2006 dan 2007-2008 pada National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) suatu survey  nasional yan gdengan disain cross-sectional. Dengan menggunakan Indeks Keparahan Inkontinensia,  inkontinensia urin (UI) dikategorikan sebagai "apapun" dan "sedang / berat". Jenis UI termasuk stres, urgensi, campuran dan lain-lain. Buku asupan makanan harian secara lengkap, dan konsumsi air rata-rata (gram/ hari), kelembaban makanan total (gram/ hari), dan kafein (miligram / hari) asupan dihitung ke dalam kuartil. Stepwise logistic regression models dibangun untuk penyesuaian faktor sosiodemografi, penyakit kronis, indeks massa tubuh, self-rated health, depresi, aktivitas fisik, penggunaan alkohol, asupan air, asupan kelembaban, dan faktor reproduksi. 

Dari 4.309 wanita tidak hamil (usia ≥ 20 tahun) yang memiliki gejala UI lengkap dan data diet, prevalensi UI apapun bentuknya adalah 41,0% dan 16,5% untuk UI derajat sedang/ berat, dengan jenis UI stres merupakan jenis yang paling umum (36,6%). Rata-rata asupan kafein pada perempuan tersebut adalah sebesar 126,7 mg/ hari. Setelah disesuaikan dengan beberapa faktor, asupan kafein di kuartil tertinggi (≥ 204 mg / hari) dikaitkan dengan UI [prevalensi rasio odds 1,47 (POR), 95% CI 1,07-2,01], tapi tidak memberikan pengaruh untuk UI derajat sedang/ berat  (POR 1,42, 95% CI 0,98-2,07). Jenis UI (stres, urgensi, campuran) tidak dikaitkan dengan asupan kafein.
Dalam kesimpulannya, peneliti menyebutkan bahwa asupan kafein ≥ 204 mg/ hari dikaitkan dengan UI bentuk apapun tapi tidak dengan UI derajat sedang/ berat pada wanita AS.


Referensi: Gleason JL, Richter HE, Redden DT, Goode PS, Burgio KL, Markland AD; Caffeine and urinary incontinence in US women; International Urogynecology Journal (Jun 2012)

Sumber: www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1667/Asupan-Kopi-dan-Keluhan-Inkontinensia-Urin-pada-Wanita.aspx

Konsumsi Buah dan Sayur dapat Membantu dalam Proses Penghentian Merokok ?

Penelitian cross-sectional secara konsisten menemukan bahwa perokok lebih sedikit mengkonsumsi buah dan sayuran setiap hari daripada bukan perokok. dan  studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayuran dapat membantu dalam mengurangi atau membantu proses penghentian ketergantungan merokok. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Dr. Jeffrey P. Hainbach dan kolega dari  Department of Community Health and Health Behavior, University at Buffalo, The State University of New York, yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Nicotine and Tobacco Research bulan Mei 2012.
 
Sebuah uji sampel acak dari 1.000 perokok (usia 25 tahun atau lebih) dinilai FVC (fruit and vegetable consumption) awal dan indikator orientasi kesehatan umum. Analisis multivariabel digunakan untuk menilai apakah  FVC awal dikaitkan dengan intensitas merokok, waktu untuk rokok pertama (TTFC), dan skor tota dari Skala Sindrom Ketergantungan Nikotin (NDSS), disesuaikan dalam hal usia, jenis kelamin, ras / etnis, pendidikan, dan pendapatan rumah tangga. Penelitian ini juga menilai apakah  FVC awal diprediksi 30-hari pantang dari semua produk tembakau pada 14-bulan follow-up antara perokok awal, dengan penyesuaian tambahan untuk indikator orientasi kesehatan umum (minum berat, olahraga, dan penggunaan narkoba).

FVC yang tinggi dikaitkan dengan jumlah rokok yang lebih sedikit per hari, lebih lama TTFC, dan skor NDSS lebih rendah. Mereka yang berada di kuartil tertinggi FVC adalah 3,05 kali lebih besar (p <.01) dibandingkan dalam kuartil terendah untuk berpuasa selama sedikitnya 30 hari di follow-up.  FVC berbanding terbalik dikaitkan dengan indikator ketergantungan nikotin dan diprediksi pantang di follow-up antara perokok awal. Penelitian lebih lanjut pengamatan dan penelitian eksperimental akan memberikan informasi yang berguna mengenai konsistensi hubungan dan membantu menjelaskan mekanisme yang mungkin.

Referensi: Jeffrey P. Haibach, M.P.H., Gregory G. Homish, Ph.D. and Gary A. Giovino, Ph.D., M.S. A Longitudinal Evaluation of Fruit and Vegetable Consumption and Cigarette Smoking.  Nicotine and Tobacco Reasearch. May doi: 10.1093/ntr/nts130 

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1668/Konsumsi-Buah-dan-Sayur-dapat-Membantu-dalam-Proses-Penghentian-Merokok-.aspx

Midazolam Bermanfaat untuk Penanganan Status Epileptikus

Suatu studi meta-analisis menunjukkan bahwa midazolam non-IV seefektif atau lebih unggul dibanding diazepam IV atau rektal untuk mengatasi kejang pada anak dan dewasa muda. Dalam meta-analisis ini diketahui bahwa midazolam bermanfaat untuk penanganan status epileptikus. Studi yang dilakukan oleh Dr. Mc Mullan dan kolega ini telah dipublikasikan dalam Academic Emergency Medicine.
 
Meta-analisis ini membandingkan penggunaan midazolam non-IV dengan diazepam dalam terapi kejang. Tujuan spesifiknya adalah menentukan efikasi, kecepatan, dan keamanan penghentian kejang dengan midazolam non-IV, dibandingkan dengan diazepam IV atau non-IV, sebagai terapi kedaruratan inisial pada pasien anak dan dewasa dengan status epileptikus, yang dilakukan terhadap studi acak dengan kontrol yang dipublikasikan dari tahun 1950 hingga 2009 yang membandingkan midazolam non-IV dengan diazepam dengan berbagai rute pemberian untuk terapi awal status epileptikus pada pasien unit gawat darurat. Sebanyak 6 studi yang melibatkan 774 pasien (usia baru lahir hingga 22 tahun) memenuhi kriteria inklusi.
Tiga studi membandingkan midazolam bukal (0,5 mg/kg atau 10 mg) dengan diazepam rektal (0,5 mg/kg atau 10 mg), dan 3 studi membandingkan midazolam IM atau intranasal (0,2 mg/kg) dengan diazepam IV (0,2 atau 0,3 mg/kg).  Pada analisis yang dikumpulkan dari obat yang diberikan melalui berbagai rute, midazolam lebih unggul dibanding diazepam untuk menghentikan kejang. Midazolam IM atau intranasal seefektif diazepam IV, sedangkan midazolam bukal lebih unggul dibanding diazepam rektal dalam pencapaian kontrol kejang. Waktu untuk penghentian kejang sama antara kelompok midazolam dan diazepam pada 3 studi. Namun pemasangan akses IV dapat secara bermakna memperlambat terapi status epileptikus. 

Dalam kesimpulannya peneliti menyampaikan bahwa midazolam bukal, IM, atau intranasal merupakan alternatif yang efektif, aman, murah, dan mudah diberikan khususnya untuk anak dengan kejang tanpa akses IV.(EKM)

Referensi:
McMullan J, Sasson C, Pancioli A, Silbergleit R. Midazolam versus diazepam for the treatment of status epilepticus in children and young adults: A meta-analysis. Acad Emerg Med. 2010;17(6):575-82

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1674/Midazolam-Bermanfaat-untuk-Penanganan-Status-Epileptikus.aspx

Terapi Oksigen Bermanfaat untuk Nyeri Kepala semua Tipe

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dr. Ozkurt dan kolega yang dipublikasikan secara online dalam American Journal of Emergency Medicine bulan Mei baru-baru ini menyebutkan bahwa pemberian terapi oksigen konsentrasi tinggi memberikan manfaat dalam terapi nyeri kepala dari semua tipe. Dalam studinya Dr. Ozkurt menilai efektivitas terapi inhlasi oksigen untuk penanganan nyeri kepala di departemen gawat darurat.

Dalam studinya,  peneliti  melakukan penelitian dengan disain  prospektif acak, buta tersamar, kontrol plasebo terhadap  pasien yang datang ke UGD dengan keluhan utama sakit kepala. Para pasien diacak untuk menerima baik 100% oksigen melalui masker nonrebreather sebesar 15 L / menit atau pengobatan plasebo dari udara ruangan melalui masker nonrebreather selama 15 menit secara total. Selanjutnya parameter yang diukur adalah  skor nyeri pada 0, 15, 30, dan 60 menit dengan menggunakan skala analog visual (VAS). Pada 30 menit, pasien dinilai untuk kebutuhan obat analgesik. Jenis sakit kepala pasien diklasifikasikan oleh dokter yang mengobati darurat menggunakan kriteria diagnostik standar.
 
Sebanyak 204 pasien setuju untuk berpartisipasi dalam studi ini dan secara acak mendapatkan oksigen (102 pasien) atau  plasebo (102 pasien). Jenis sakit kepala pasien yang meliputi nyeri kepala tension  (47%), migrain (27%), tidak dibedakan (25%), dan kluster (1%). Pasien yang menerima terapi oksigen melaporkan peningkatan secara signifikan dalam visual skor skala analog di semua titik jika dibandingkan dengan plasebo: 22 mm vs 11 mm pada 15 menit (P <.001), 29 mm vs 13 mm pada 30 menit (P <.001) , dan 55 mm vs 45 mm pada 60 menit (P <.001). Ketika ditanya pada 30 menit, 72% dari pasien dalam kelompok oksigen dan 86% pasien pada kelompok plasebo meminta obat analgesik (P = .005).
Selain perannya dalam pengobatan sakit kepala cluster, aliran tinggi terapi oksigen dapat memberikan pengobatan yang efektif dari semua jenis sakit kepala dalam pengaturan ED.

Referensi: Ozkurt B, Cinar O, Cevik E, Acar AY, Arslan D, Eyi EY, Jay L, Yamanel L, Madsen T. Efficacy of high-flow oxygen therapy in all types of headache: a prospective, randomized, placebo-controlled trial;  American Journal of Emergency Medicine (May 2012)

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1675/Terapi-Oksigen-Bermanfaat-untuk-Nyeri-Kepala-semua-Tipe.aspx

Probiotik dan Sistem Kekebalan Tubuh

Efek menguntungkan dari probiotik telah dibuktikan dalam berbagai penyakit. Salah satu mekanisme utama dari tindakan probiotik adalah melalui pengaturan respon kekebalan host. Dari suatu review yang dipublikasikan dalam Current Opinion in Gastroenterology  bulan September 2011,  disebutkan bahwa  probiotik mempunyai potensi dalam regulasi sistem kekebalan tubuh, sehingga potensial diaplikasikan untuk pencegahan dan pengobatan penyakit.
 
Dari temuan-temuan terbaru, diketahui studi genomik dan proteomika probiotik telah mengidentifikasi beberapa gen dan senyawa spesifik yang berasal dari probiotik, yang memediasi efek immunoregulator. Studi mengenai konsekuensi biologis dari probiotik dalam kekebalan host  mendukung  bahwa probiotik berperan dalam  mengatur fungsi  kekebalan sistemik dan sel mukosa dan sel epitel usus. Jadi, probiotik menunjukkan potensi terapi untuk penyakit, termasuk beberapa respon imun penyakit terkait, seperti alergi, eksim, infeksi virus, dan respon potensiasi vaksinasi. 

Probiotik dapat memberikan pendekatan baru untuk pencegahan penyakit dan pengobatan. Namun, hasil studi klinis mengenai aplikasi probiotik adalah awal dan membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.

Referensi: Yan F, Polk DB. Probiotics and immune health.  Current Opinion in Gastroenterology (Sep 2011)

Sumber:  http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1690/Probiotik-dan-Sistem-Kekebalan-Tubuh.aspx

Meta-analisis, Suplemetasi Asam Folat Bermanfaat untuk Pencegahan Stroke

Data menunjukkan adanya kontroversi dari manfaat suplementasi asam folat untuk pencegahan  stroke. Namun dari studi terbaru, yang merupakan suatu meta-analisis menunjukan bahwa suplementasi asam foalt ternyata memberikan manfaat dalam pencegahan stroke. Meta-analisis yang dilakukan oleh Dr. Huo dan kolega ini telah dipublikasikan dalam International Journal of Clinical Practice  bulan Juni 2012 ini. Studi ini melibatkan beberapa uji klinis acak yang sudah dipublikasikan untuk menganalisis lebih jauh mengenai kesimpangsiuran masalah ini. Risiko relatif (RR) digunakan untuk mengukur efek dari suplementasi asam folat terhadap risiko stroke dengan model efek tetap (fixed-effects model).
 
Hasilnya: secara keseluruhan suplementasi asam folat menurunkan risiko stroke sebesar 8% (n =55.764; RR 0,92; 95% CI 0,86-1,00; p =0,038). Pada 10 penelitian tanpa adanya fortifikasi asam folat atau partial fortifikasi (n =43.426), risiko stroke berkurang sebesar 11% (0,89; 0,82-0,97; p =0,010). Di antara penelitan-penelitian ini, efek menguntungkan yang lebih besar terlihat di antara penelitian dengan persentase penggunaan statin yang lebih rendah [<80% (median); 0,77; 0,64-0,92, p =0,005], dan analisis metaregresi juga menyatakan hubungan respon-dosis yang positif antara persentase penggunaan statin dan log-RR untuk stroke yang berhubungan dengan suplementasi asam folat (p =0,013). Dosis harian asam folat sebesar 0,4-0,8 mg tampaknya adekuat untuk pencegahan stroke dibandingkan dengan dosis yang lebih besar. Pada lima penelitian lainnya yang dilaksanakan di populasi yang diberi fortifikasi asam folat (n =12.238), suplementasi asam folat tidak memiliki efek terhadap risiko stroke (1,03; 0,88–1,21, p = 0,69).

Analisis para peneliti ini mengindikasikan bahwa suplementasi asam folat efektif dalam pencegahan stroke pada populasi yang tidak mendapatkan fortifikasi asam folat atau fortifikasi asam folat sebagian. Selain itu, efek menguntungkan yang lebih besar terlihat pada penelitian dengan persentase penggunaan statin yang lebih rendah. Penemuan para peneliti ini menggarisbawahi pentingnya mengidentifikasi populasi target yang bisa mendapatkan manfaat dari terapi dengan asam folat.(SFN)

Referensi: Huo Y, Qin X, Wang J, Sun N, Zeng Q, Xu X, et al. Efficacy of folic acid supplementation in stroke prevention: new insight from a meta-analysis. Int J Clin Pract. 2012 Jun;66(6):544-51.

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1699/Meta-analisis-Suplemetasi-Asam-Folat-Bermanfaat-untuk-Pencegahan-Stroke.aspx

Ceftazidime dan Amikacine Nebulizer Memberikan Manfaat Positif pada Pasien Pneumonia

Penggunaan antibiotik yang diberikan secara inhalasi meningkatkan efektivitas pada pasien pneumonia. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Lu dan kolega yang dipublikasikan dalam American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine menunjukkan bahwa kombinasi ceftazidime dan amikacine untuk terapi pneumonia yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosa pada pasien-pasien yang mendapat tindakan ventilasi mekanik ternyata memberikan hasil ayng lebih baik.

Penelitian merupakan penelitian prospektif dan komparatif ini melibatkan 40 pasien yang diventilasi degan VAP yang disebabkan Pseudomonas aeruginosa. Pasien secara acak diberikan terapi ceftazidime 15 mg/kg tiap 3 jam/hari dan amikacine 25 mg/kg/day melalui nebulizer (n=20), dan 20 pasien lainnya diterapi secara intravena dengan ceftazidime (30 mg/kg sampai 30 min, dilanjutkan dengan dosis 90 mg/kg/sehari), dan amikacin (15 mg/kg/sehari selama 30 menit). Pemberian nebulizer dilakukan menggunakan vibrating plate nebulizer. Outcome klinik, efek infeksi dan pemindai CT toraks dilakukan sebelum dan sesudah terapi 8 hari. 
 
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa lamanya ventilasi, angka kejadian kematian dan rekurensi VAP karena pseudomonas tidak berbeda secara bermakna antara kelompok terapi aerosol (nebulizer) dengan kelompok intravena. Peningkatan volume pernapasan (gas) dan penurunan volume jaringan pada hari ke-8 dibandingkan dengan baseline juga tidak berbeda secara bermakna antara kedua kelompok penelitian.


Aerosol (nebulizer) n=20
Intravena
N=20
Nilai p
Jumpal kesembuhan dari pseudomonas aeruginosa pada hari ke-9 (n,%)
14 (70)
11 (55)
0,33
Durasi penggunaan ventilator (hari)
17±13
12±14
NS
Rekurensi infeksi pseudomonas aeruginosa (n)
3
1
NS
Angka kejadian kematian pada hari ke-28 (n, %)
2 (10)
1 (5)
0,55
Volume gas total paru (mL)
1082 (805-1561)
1419 (1216-1737)
0,17
Volume jaringan total paru (mL)
1025 ± 269
969 ± 242
0,54

Para ahli dalam penelitian ini berpendapat bahwa pemberian ceftazidime and amikacin baik dengan menggunakan nebulizer maupun intravena memberikan efektifitas terapi yang serupa terhadap VAP karena kuman pseudomonas aeruginosa. Namun pemberian melalui nebulizer diharapkan dapat mengurangi kerentanan terhadap antibiotika.

Referensi:
Lu Q, Ferrari F, Gutierrez C, Yang JX, Aymard G, Rouby JJ. Assessment of Efficiency of Nebulized Ceftazidime and Amikacine in Patients with Pneumonia Caused by Pseudomonas aeruginosa. Am J Respir Crit Care Med 179;2009:A5951

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1700/Ceftazidime-dan-Amikacine-Nebulizer-Memberikan-Manfaat-Positif-pada-Pasien-Pneumonia.aspx

Infeksi Helicobacter pylori Meningkatkan Risiko Adenoma Kolorektal

Cukup banyak penelitian mengenai hubungan antara status Helicobacter pylori dan adenoma kolorektal, lesi premaligna kanker kolorektal, tidak konsisten.  Namun dari  studi terbaru yang dilakukan oleh Dr. Hing dan kolega yang dipublikasikan dalam jurnal Digestive Disease and Sciences bulan Juni 2012 menujukkan bahwa  data dari meta-analisis tersebut  adanya sedikit risiko peningkatan adenoma kolorektal pada pasien-pasien yang mengalami infeksi  Helicobacter pylori.

Penelitian ini merupakan cross-sectional yang menyelidiki hubungan antara  adenoma kolorektal dengan infeksi H. pylori dari sebanyak  2.195 subyek asimtomatik yang menjalani kolonoskopi untuk penyaringan dan pengujian H. pylori. Analisis multivariat yang disesuaikan untuk menilai faktor dianggap berkontribusi, termasuk usia, jenis kelamin, merokok, konsumsi alkohol, adanya riwayat keluarga kanker kolorektal, dan penggunaan rutin asam asetilsalisilat. Selanjutnya, dilakukan tinjauan literatur sistematis dan meta-analisis dari studi yang tersedia, termasuk studi saat ini, untuk mengklarifikasi apakah H. pylori infeksi dikaitkan dengan peningkatan risiko adenoma kolorektal.
 
Di antara 2.195 subyek yang memenuhi syarat, 1.253 subjek H. pylori seropositif dan seronegatif sebanyak 942 subjek. Dalam kelompok H. pylori (+) , prevalensi adenoma kolorektal dan  adenoma yang sudah lanjut secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok H. pylori (-)  masing-masing (25,3 vs 20,1%, p = 0,004 dan 6,1 vs 2,9%, p <0,001). Dalam analisis multivariat kami,  H. pylori seropositif adalah faktor risiko independen untuk adenoma kolorektal secara keseluruhan (OR = 1,36, 95% CI = 1,10-1,68) dan  adenoma lanjut (OR = 2,21, 95% CI = 1,41-3,48). Asosiasi yang positif dibatasi pada kasus-kasus dengan adenoma proksimal. Dalam meta-analisis, yang meliputi  sepuluh studi dan 15.863 pasien,  OR pooled untuk adenoma kolorektal berhubungan dengan infeksi H. pylori adalah sebesar 1,58 (95% CI = 1,32-1,88).

Berdasarkan hasil studi tersebut peneliti menyimpulkan bahw, dari studi cross-sectional dan studi saat ini termasuk dalam meta-analisis  menunjukkan bahwa infeksi H. pylori dikaitkan dengan sedikit peningkatan risiko adenoma kolorektal.


Referensi: Hong SN, Lee SM, Kim JH, Lee TY, Kim JH, Choe WH, Lee SY, Cheon YK, Sung IK, Park HS, Shim CS. Helicobacter Pylori Infection Increases the Risk of Colorectal Adenomas: Cross-Sectional Study and Meta-Analysis. Digestive Diseases and Sciences (Jun 2012).

Sumber: http://www.kalbemed.com/News/tabid/229/id/1701/Infeksi-Helicobacter-pylori-Meningkatkan-Risiko-Adenoma-Kolorektal.aspx

Rabu, 06 Juni 2012

Penambahan Zinc pada Terapi Antibiotik Menurunkan Angka Kegagalan Pengobatan

Infeksi bakterial yang serius merupakan salah satu penyebab utama kematian pada bayi awal kelahirannya. Intervensi yang tidak mahal dan dapat dijangkau meningkatkan efek dari pengobatan antibiotik standar dan dapat menurunkan angka kematian pada bayi. Studi terbaru menunjukkan suplementasi zinc pada terapi dengan antibiotik akan menurunkan angka kegagalan terapi pada bayi usia 7-120 hari dengan infeksi bakterial yang serius, hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Prof. Shinjini Bhatnagar PhD dan kolega yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet tahun 2012 ini.
 
Studi tersebut dilakukan dengan disain acak tersamar ganda, plasebo-kontrol, dan melibatkan bayi dengan rentang usia 7-120 hari yang diperkirakan terkena infeksi serius pada tiga rumah sakit di New Dehli India antara 6 Juli 2005 sampai 3 Desember 2008. Dengan acak permutasi blok 6, subyek dikelompokkan menjadi kelompok yang berat badan di bawah standar, atau yang sedang diare untuk mendapatkan masing-masing 10 mg zinc atau plasebo secara oral setiap hari sebagai tambahan pada terapi antibiotik yang sudah diberikan.Parameter penilaian utama adalah seberapa besar angka kegagalan terapi yang didefinisikan dengan seberapa besar perlu mengubah antibiotik dalam waktu 7 hari,  atau kebutuhan untuk perawatan intensif, atau besar kematian yang terjadi  dalam waktu 21 hari. Peserta dan peneliti sama-sama tidak mengetahui jenis dan alokasi pengobatan. Semua analisa dilakukan dengan intention-to-treat.

Dari sebanyak 352 bayi yang diacak untuk mendapatkan zinc dan sebanyak 348 bayi mendaptkan plasebo, hanya sebanyak 332 bayi dari kelompok zinc dan 323 plasbeo yang dapat dinilai untuk keberhasilan terapi. kegagalan terapi secara bermakna lebih rendah pada kelompok zinc 10% daripada kelompok plasebo sebesar 17%, dengan penurunan risiko relatif sebesar 40% (95% CI 10-60, p=0,0113), penurunan risiko absolut sebesar 6,8%  dengan 95 CI% 1,5-12,0, p=0,0111. Pengobatan 15 bayi dengan zinc akan mencegah kegagalan pengobatan sebesar satu pengobatan.  Kematian bayi pada kelompok zinc sebesar 10 dibandingkan dengan sebesar 17 pada kelompok plasebo (RR 0,57. 95% CI 0,27-1,23, p=0,15).

Berdasarkan hasil studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa zinc dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk menurunkan risiko kegagalan terapi pada bayi usia 7-120 hari dengan infeksi bakterial yang serius.

Referensi:  Shinjini Bhatnagar, Nitya Wadhwa MD, Prof Satinder Aneja MD, Rakesh Lodha MD , Prof Sushil Kumar Kabra MD, Uma Chandra Mouli Natchu MD,et al. Zinc as adjunct treatment in infants aged between 7 and 120 days with probable serious bacterial infection: a randomised, double-blind, placebo-controlled trial. The Lancet 2012;379(9831): 2072 - 2078.

Sumber:  http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1613/Penambahan-Zinc-pada-Terapi-Antibiotik-Menurunkan-Angka-Kegagalan-Pengobatan.aspx