Minggu, 01 Juli 2012

Varenicline Bermanfaat untuk Ketergantungan Rokok

Varenicline merupakan obat dari kelas yang baru untuk menghentikan kebiasaan merokok. Varenicline merupakan agonis parsial alfa-4β2 nicotinic acetylcholine receptor (nAChR) dan agonis penuh pada alfa-7 nAChR. Adiksi nikotin dimediasi oleh stimulasi dari alfa-4β2 nACgR pusat oleh nikotin, yang menyebabkan terlepasnya dopamine, sehingga pada akhirnya menimbulkan efek yang menyenangkan dengan merokok. Studi terbaru yang dilakukan oleh Dr. Williams dan kolega yang dipublikasikan dalam  Journal Clinical of  Psychiatry tahun 2012, diketahui bahwa vareciline juga memberikan manfaat untuk mengurangi kertergantungan rokok.
Penelitian ini merupakan penelitian yang berlangsung selama 12 minggu, dengan metode acak, tersamar ganda, dan multisenter. Penelitian yang berlangsung sejak tanggal 8 May 2008 hingga 1 April 2010 ini melibatkan 127 perokok (≥ 15 batang rokok/hari) yang dengan DSM-4 telah dikonfirmasi mengalami gangguan schizophrenia atau schizoaffective. Para subyek penelitian ini menerima varenicline atau plasebo dengan rasio 2:1.

Hasil keluaran primer penelitian ini adalah keamanan dan tolerabilitas dari penggunaan varenicline yang dinilai dengan melihat frekuensi efek samping dan tingkat skor pada the Positive and Negative Syndrome Scale dan skala psikiatri lainnya dari sejak awal penelitian hingga 24 minggu sesudahnya. Abstinence (periode tidak merokok) ditentukan dengan tidak merokoknya pasien selama 7 hari setelah minggu ke-12 dan ke-24, dan diverifikasi dengan kadar karbon monoksida.

Sebanyak 84 pasien menerima varenicline dan 43 pasien menerima plasebo. Pada minggu ke-12 (akhir masa pemberian obat) 16/84 pasien yang menerima varenicline (19,0%) memenuhi kriteria berhenti merokok dibandingkan dengan 2/43 (4,7%) pasien yang menerima plasebo (p =0,046). Pada minggu ke-24, sebanyak 10/84 (11,9%) pasien yang menerima varenicline dan 1/43 (2,3%) pasien yang menerima plasebo, memenuhi kriteria berhenti merokok (p =0,090). Jumlah keseluruhan efek samping pada kedua kelompok serupa, dengan tidak adanya perubahan bermakna dari gejala schizophrenia atau pada tingkat mood dan ansietas. Tingkat pemikiran bunuh diri 6,0% pada kelompok yang menggunakan varenicline dan 7,0% pada kelompok yang menerima plasebo (p =1,0). Ada satu usaha bunuh diri yang dilakukan oleh pasien yang menggunakan varenicline dengan riwayat sebelumnya yang sama (usaha bunuh diri).

Kesimpulan yang ditarik oleh para peneliti adalah bahwa varenicline dapat ditoleransi dengan baik, dengan tidak adanya bukti eksaserbasi dari gejala-gejala psikosisnya, dan penggunaan varenicline ini juga berkaitan dengan penghentian merokok yang lebih tinggi dibandingkan dengan plasebo pada minggu ke-12. Dari hasil penelitian ini peneliti menyatakan bahwa varenicline merupakan terapi penghentian merokkok yang sesuai untuk pasien dengan gangguan schizophrenia atau gangguan schizoaffective.(SFN)

Referensi: Williams JM, Anthenelli RM, Morris CD, Treadow J, Thompson JR, Yunis C, et al. A randomized, double-blind, placebo-controlled study evaluating the safety and efficacy of varenicline for smoking cessation in patients with schizophrenia or schizoaffective disorder. J Clin Psychiatry.2012;73(5)

0 komentar:

Poskan Komentar