This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 28 Januari 2012

Epi Info: Software Statistic Epidemiologi


Epi Info adalah software yang dikembangkan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Software ini ditujukan untuk keperluan survei , entri data dan analisis secara elektronik. Dalam modul analisis meliputi t-test, ANOVA, statistik nonparametrik, cross tabulasi dan stratifikasi estimasi odds rasio, risk ratio dan risk differences dan lain-lain




NB: Ternyata software ini bisa juga kita gunakan untuk tujuan lain, misalnya untuk bikin form MCU (Medical Checkup)

Sumber:
http://adf.ly/5K2Lb


Penanganan Rheumatoid Arthritis (RA): Pendekatan Agresif dengan Kontrol Ketat



Agen biologis terbukti secara klinis efektif untuk penanganan RA, baik sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan metotresat atau DMARDs (Disease Modifying Arthritis Rheumatoid Drugs) lainnya. Keberhasilan agen biologis ini juga berdampak terhadap pendekatan terapi RA dan tujuan terapi. Dahulu, dengan metode pengobatan konvensional, setiap perbaikan dianggap baik. Sekarang terjadi perubahan dengan konsep “pendekatan agresif dengan kontrol ketat”. Pada RA, remisi klinis dianggap sebagai tujuan akhir terapi.

Pertemuan American College of Rheumatology (ACR) akhir tahun 2010 membahas penggunaan agen biologis dan biosimilar baru untuk pengobatan rheumatoid arthritis (RA). Beberapa makromolekul inhibitor TNF telah disetujui di AS dan di beberapa negara lain, untuk pengobatan RA dan sejumlah kondisi peradangan sistemik auto-imun: Etanercept, Infliximab, Adalimumab, Pegol certolizumab, Golimumab. Tocilizumab – antibodi monoklonal (MAB) yang bekerja menghambat reseptor interleukin-6 – merupakan agen biologis terbaru yang disetujui oleh FDA di tahun 2010.


Dalam uji klinis Behandel Strategieen (Best), 508 pasien dengan RA dini (artritis <2 tahun) secara acak menerima 1 dari 4 kelompok pengobatan:
1. Monoterapi sekuensial (dimulai dengan methotrexate)
2. Terapi kombinasi step-up (dimulai dengan methotrexate)
3. Terapi kombinasi awal dengan methotrexate, sulfasalazine, dan prednison dosis tinggi.
4. Terapi kombinasi awal dengan methotrexate dengan infliximab

Di semua kelompok, dilakukan evaluasi pasien dengan interval 3 bulan. Pasien yang tidak mencapai target terapi (aktivitas penyakit rendah, skor DAS ≤ 2,4) akan diubah rencana perawatannya (dengan algoritma) untuk setiap kelompok. Jika pasien memberikan respons baik pada pengobatan, terapi dapat dikurangi atau bahkan ditarik.

Hasil : Selama 7 tahun periode follow up, 46% pasien mencapai remisi (DAS <1,6); tidak ada perbedaan signifikan dalam parameter kesembuhan antara kelompok, 16% - 17% pasien mencapai dan tetap berada dalam remisi dengan semua obat DMARDs dan atau agen biologis dihentikan.

Kesamaan respons klinis di semua kelompok menunjukkan pilihan pengobatan awal mungkin tidak berpengaruh penting untuk memperbaiki kondisi penyakit.

Data ini menunjukkan adanya periode "window of opportunity" pada tahap awal penyakit, yang memerlukan pendekatan agresif diikuti dengan penyesuaian pengobatan sesuai dengan respons terhadap terapi.

Metode ini terbukti memiliki hasil klinis yang signifikan dengan tingkat remisi yang tinggi, memungkinkan pengurangan dosis atau bahkan penghentian pengobatan untuk pasien RA. Pada awalnya agen biologis digunakan pada pasien dengan RA sedang–berat. Tetapi dengan adanya konsep “pendekatan agresif” ini, agen biologis mungkin dapat digunakan pada pasien dengan RA dini. Tantangannya adalah bagaimana memprediksi pasien yang responsif terhadap agen tertentu dan bagaimana memantau aktivitas penyakit saat menggunakan agen tersebut. 


REFERENSI :
1. Kavanaugh A. Early aggressive treatment, tight control, and emerging biosimilars. Medscape Education Rheumatology 2010.
2. Waknine Y. Tocilizumab Approved for Refractory Rheumatoid Arthritis. Medscape Medical News.
3. Dirven L. Seven year results of DAS steered treatment in the BeSt study: clinical and radiological outcomes. Program and abstracts of the American College of Rheumatology (ACR) 2010
Annual Scientific Meeting 2010.
4. Etanar RF. Therapy in real-life patients with rheumatoid arthritis. Program and abstracts of the American College of Rheumatology (ACR) 2010 Annual Scientific Meeting 2010.

Sumber: 




Faktor Resiko Gout


Gout adalah jenis penyakit peradangan sendi yang disebabkan oleh pengendapan kristal monosodium urat dalam cairan sendi dan jaringan lain," demikian menurut Tuhina Neogi, MD, PhD, dari  departemen Penelitian Epidemiologi Klinis dan Unit Pelatihan, Fakultas Kedokteran Universitas Boston, dan Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Boston, Massachusetts.

Gout terkait dengan hiperurisemia, dengan kadar asam urat lebih dari nilai batas kelarutan asam urat pada suhu fisiologis dan pH: 6,8 mg per desiliter (404 √¨mol per liter). Manusia hanya memiliki uricase dalam jumlah yang sedikit, sehingga tidak dapat mengubah asam urat menjadi allantoin larut sebagai produk akhir dari metabolisme purin.

Diperkirakan 6,1 juta orang dewasa di Amerika Serikat menderita gout, prevalensi ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Gout lebih banyak menyerang pria, dibanding wanita, dengan rasio 3 atau 4 berbanding 1; perbedaan ini mulai berkurang pada kelompok usia lanjut. Hal ini mungkin terkait dengan penurunan estrogen pada wanita lanjut usia, karena estrogen memiliki efek urikosurik. Meningkatnya insidens dan prevalensi gout mungkin berkaitan dengan pertambahan usia penduduk,
tingkat obesitas, dan perubahan diet.

Faktor Risiko
Selama ini gout hanya dikaitkan dengan masalah diet dan konsumsi jenis obat tertentu yang dapat menyebabkan hiperurisemia, tetapi ternyata terdapat berbagai faktor lain yang dapat meningkatkan risiko gout. Penggunaan diuretik thiazide, cyclosporine, dan asam asetilsalisilat dosis rendah (<1 g per hari) dapat menyebabkan hiperurisemia, sedangkan asam asetilsalisilat dosis tinggi (≥ 3 g per hari)
bersifat urikosurik.
Faktor-faktor yang berkaitan dengan hiperurisemia dan asam urat antara lain adalah: resistensi insulin, sindrom metabolik, obesitas, insufisiensi ginjal, hipertensi, gagal jantung kongestif, transplantasi organ.
Pengaruh urikosurik keadaan glikosuria pada pasien diabetes dapat mengurangi risiko gout. Kelainan bawaan langka terkait kromosom X dapat menyebabkan gout. Studi genome-wide telah mengidentifikasi polimorfisme yang umum terjadi di beberapa gen yang terlibat dalam transportasi asam urat: SLC2A9, ABCG2, SLC17A3, dan SLC22A12.
Risiko kejadian gout meningkat pada orang yang banyak mengonsumsi makanan dengan kandungan purin tinggi (terutama daging dan makanan laut), etanol (terutama bir dan alkohol), minuman ringan, dan fruktosa. Risiko kejadian gout menurun pada mereka yang banyak mengonsumsi kopi, produk susu, dan vitamin C (yang menurunkan kadar asam urat).
Faktor pemicu untuk flare (eksaserbasi akut) berulang meliputi penggunaan diuretik, konsumsi alkohol, menjalani rawat inap, dan menjalani tindakan operasi. Terapi untuk menurunkan kadar asam urat (misal: allopurinol) mungkin dapat memicu timbulnya serangan gout akut, mungkin disebabkan oleh perpindahan asam urat yang disimpan dalam jaringan tubuh (terjadi fluktuasi kadar asam urat).

REFERENSI :
http://adf.ly/5K2R7

Vitamin D Meningkatkan Motilitas Sperma


Motilitas sperma mempunyai peranan penting dalam mencapai ovum (sel telur) wanita. Dengan demikian, gangguan motilitas sperma sering menjadi salah satu penyebab ketidaksuburan (infertilitas) pada pria. Motilitas sperma ditentukan oleh persentase sperma yang bergerak aktif serta kemampuannya untuk 'berenang' di dalam rahim. Motilitas sperma yang rendah, bersama dengan jumlah sperma yang rendah, dapat menjadi penyebab keadaan infertilitas pada pria.

Para peneliti dari Universitas Copenhagen Denmark, yang dipimpin oleh dr. Jensen, dalam publikasi di Human Reproduction edisi Maret 2011, menyampaikan bahwa vitamin D mempunyai peranan dalam fungsi reproduksi pria dengan meningkatkan motilitas sperma.

Reseptor vitamin D, yang dikenal sebagai VDR, terekspresi pada spermatozoa manusia. Kekurangan VDR serta defisiensi vitamin D pada hewan coba (tikus) terbukti mengganggu fertilitas, menyebabkan jumlah sperma yang sedikit, dan motilitas spermatozoa yang rendah. Karena itu, para peneliti ingin menyelidiki peranan aktivasi vitamin D atau 1,25(OH) D pada sperma- 2 3 tozoa manusia dan kadar vitamin D dalam serum berkaitan dengan kualitas cairan semen.

Studi ini menggunakan desain crosssectional guna menilai kualitas cairan semen dan kadar vitamin D serum pada 300 pria, dibarengi studi in vitro yang sampelnya diambil dari 40 pria untuk melihat efek
vitamin D terhadap kadar kalsium intrasel, motilitas sperma, dan reaksi akrosom.
Sampel seluruh pria berasal dari analisis cairan semen dan darah rutin untuk pengukuran FSH (follicle-stimulating hormone), inhibin B, 25-hidroksi vitamin D, albumin, fosfatase alkali, kalsium, dan
hormon paratiroid (PTH).

Hasil studi menunjukkan bahwa 44% subjek mengalami insufiensi Vitamin D (<50 nM), dan kadar vitamin D berbanding terbalik dengan hormon PTH (p <0,0005). Kadar vitamin D dalam serum berhubungan positif dengan motilitas sperma dan motilitas progresif (p <0,05), dan pada pria dengan
defisiensi vitamin D (kurang dari 25 nM) mempunyai proporsi motilitas lebih rendah (p = 0,027), motilitas progresif (p = 0,035) dan morfologi spermatozoa normal (p = 0,044) apabila dibandingkan dengan pria yang memiliki kadar vitamin D tinggi (lebih dari 75 nM). 1,25(OH)2D3 meningkatkan kadar kalsium intraselular pada spermatozoa manusia melalui reseptor vitamin D yang memediasi pelepasan kalsium dari simpanan kalsium intraselular, meningkatkan motilitas sperma, dan menginduksi reaksi akrosom in vitro. 

Sebagai simpulan, 1,25(OH) D meningkat- 2 3 kan kadar kalsium intrasel, motilitas sperma, dan menginduksi reaksi akrosom pada spermatozoa matang. Selain itu, kadar vitamin D serum berhubungan positif dengan motilitas sperma. Dengan demikian, vitamin D mempunyai peranan terhadap fungsi sperma pada reproduksi manusia.

REFERENSI
http://adf.ly/5K2d5


Kombinasi Glucosamine-Chondroitin untuk Penanganan Nyeri Sendi Terkait Penghambat Aromatase


Studi terbaru menunjukkan bahwa glucosamine dikombinasikan dengan chondroitin dapat memperbaiki gejala  artralgia (nyeri sendi) pada pasien kanker payudara yang disebabkan penggunaan obat penghambat aromataseGlucosamine dan chondroitin merupakan 2 suplemen yang sangat populer untuk penanganan osteoartritis, sekalipun terdapat perdebatan mengenai efikasi kedua suplemen ini.

Penghambat aromatase digunakan secara luas untuk perawatan kanker payudara, tetapi dikaitkan dengan efek samping muskuloskeletal yang signifikan, termasuk nyeri dan kaku sendi. Nyeri dan kaku sendi ini umumnya tidak merespons terhadap pemberian obat analgesik konvensional dan umumnya menurunkan kepatuhan pasien dalam menggunakan obat penghambat aromatase. Studi ini meneliti pasien wanita dengan kanker payudara stadium I – III yang telah menerima terapi obat penghambat aromatase minimal selama 3 bulan, yang melaporkan rasa nyeri (nilai  ≥ 4 pada visual analogue scale), dan mereka yang sebelumnya sudah menderita osteoartritis dan rasa nyerinya memburuk setelah memulai perawatan dengan penghambat aromatase.

Dari 53 pasien yang mendaftar, 40 pasien menyelesaikan studi periode pertama (12 minggu), 37 pasien mengikuti studi sampai selesai (24 minggu). Populasi pasoen bervariasi, 40% kulit putih, 40% hispanik, nilai median usia adalah 61 tahun. Peserta uji klinis  rata-rata terdidik dengan baik, cenderung memiliki berat badan berlebih, dan rata-rata sudah terdiagnosis kanker payudara selama 3,5 tahun. Peserta uji klinik menerima glucosamine1500 mg/hari dan chondroitin 1200 mg/hari dan dievaluasi setiap 6 minggu di klinik.  End point primer studi ini adalah perubahan kriteria Outcome Measure in Rheumatology Clinical Trials dan Osteoarthritis Research Society International (OMERACT-OARS) dalam waktu 24 minggu.

Pada end point primer ini, pasien harus memenuhi 1 dari 2 bagian kriteria:
  1. Perbaikan 50% atau lebih pada salah satu skala fungsi, termasuk perubahan 10% dalam skala penilaian global, atau
  2. Perbaikan 20% atau lebih pada skala nyeri dan fungsi dan perubahan signifikan dalam skala penilaian global.
Setelah 12 minggu, 38% pasien memenuhi kriteria end point primer. Setelah 24 minggu, 46% pasien memenuhi kriteria ini. End point sekunder meliputi perubahan dalam indeks Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis (WOMAC), Modified Score for the Assessment and Quantification of Chronic Rheumatoid Affections of the Hands (M-SACRAH), dan Brief Pain/Stiffness Inventory-Short Form (BPI-SF). Versi analog visual dari WOMAC dan M-SACRAH digunakan dalam studi ini (0 - 100 mm), di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan hasil yang lebih buruk. Untuk end point sekunder, terdapat perbaikan signifikan dalam rerata skor WOMAC setelah 24 minggu, dibandingkan dengan keadaan awal, dalam parameter fungsi (rata-rata perbedaan: 11,9 mm; P = 0,01) dan rasa nyeri (rata-rata perbedaan: 10,7 mm, P = 0,02). Akan tetapi tidak dapat perbaikan signifikan pada parameter kekakuan (perbedaan rata-rata 7,5 mm; P = 0,15).
Skala M-SACRAH menunjukkan hasil yang kurang lebih sama dengan yang diamati pada skala WOMAC. Terdapat perbaikan signifikan setelah 24 minggu, dalam parameter fungsi (rata-rata perbedaan: 8,4 mm; P = 0,02) dan rasa nyeri (rata-rata perbedaan: 12,9 mm, P < 0,01). Akan tetapi tidak dapat perbaikan signifikan pada parameter kekakuan (perbedaan rata-rata 7,9 mm; P = 0,13).
Terdapat pengurangan nyeri dan kekakuan pada panggul dan lutut pada minggu ke-12 dan minggu ke-24, dan juga perbaikan dalam fungsi pada 50% pasien. Perbaikan ini juga terjadi pada sendi tangan dan pergelangan tangan. Pada Brief Pain/Stiffness Inventory, perbaikan ini terjadi pada 35% - 50% wanita. Pada uji klinik ini, juga terjadi perbaikan kekuatan genggaman yang diukur dengan menggunakan  Martin Pneumatic Squeeze Dynamometer. Efek samping yang umum dilaporkan dalam studi ini adalah sakit kepala, dispepsia, dan nausea.
Sebagai simpulan, glucosamine dan chondroitin tampaknya aman pada wanita dengan kanker payudara dan memberikan manfaat untuk rasa nyeri terkait penggunaan obat penghambat aromatase. (AGN)


Reference:
  1. Joint supplements for aromatase inhibitor adverse effects. Medscape Medical News. Available from:http://www.medscape.com/viewarticle/753885
  2. Glucosamine sulfate in the treatment of knee osteoarthritis symptoms: a randomized, double-blind, placebo-controlled study using acetaminophen as a side comparator. Arthritis Rheum. 2007;56(2):555–67.
  3. Bruyere O, Reginster JY. Glucosamine and chondroitin sulfate as therapeutic agents for knee and hip osteoarthritis. Drugs Aging 2007;24(7):573–80.

Terapi Osteoporosis Bersifat Individual


Pedoman untuk pengobatan osteoporosis sudang tersedia, namun pedoman ini hanya menyarankan ketika untuk mengobati pasien, tanpa rekomendasi spesifik tentang apa peresepan obat dalam berbagai situasi. Pilihan terapi osteoporosis harus individual didasarkan pada pertimbangan kemanjuran, keamanan, biaya, kenyamanan (yaitu, dosis rejimen dan pengiriman), dan manfaat non-osteoporosis yang terkait dengan masing-masing agen. Hal ini merupakan tulisan dari Dr. Silverman S yang dipublikasikan scara online dalam Jurnal Osteoporosis International pada bulan Januari 2012.
Bifosfonat, yang diberikan secara oral atau intravena, harus dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama, khususnya pada pasien yang lebih tua, karena keberhasilan mereka di berbagai beberapa bagian tulang, namun, ada potensi masalah keamanan jangka pendek dan jangka panjang.

Modulator reseptor estrogen selektif (SERM) harus dipertimbangkan untuk wanita menopause yang lebih muda dengan berisiko terhadap patah tulang vertebra dari pinggul atau sebagai terapi lini kedua pada wanita yang tidak dapat mentoleransi terapi lini pertama. Dosis rendah terapi hormon mungkin tepat sebagai pencegahan pada wanita dengan gejala menopause pada risiko patah tulang lebih rendah.
Kalsitonin, dengan profil keamanan yang relatif ringan, mungkin cocok untuk wanita tua yang mungkin mengalami kesulitan mengikuti jadwal dosis kompleks bifosfonat oral. Dan terapi anabolik seperti teriparatide harus dipertimbangkan untuk pasien berisiko tinggi. Strontium ranelate (disetujui di luar Amerika Utara), dengan sifat baik anabolik dan antiresorptif, mungkin tepat bagi wanita yang tidak dapat mentolerir atau tidak dapat dibreikan bifosfonat.
Denosumab adalah antibodi monoklonal yang sesuai untuk perempuan dengan risiko patah tulang tinggi atau yang telah gagal dengan terapi osteoporosis lainnya, dan dapat dipertimbangkan pada pasien dengan insufisiensi ginjal. Ini akan menjadi penting untuk memasukkan agen baru (misalnya, bazedoxifene, (jaringan kompleks estrogen selektif) ke paradigma perawatan individual untuk mengoptimalkan hasil klinis pada pasien dengan osteoporosis.

Pola Diet Mencegah Penyusutan Otak


Orang dengan diet tinggi beberapa vitamin atau asam lemak omega 3 cenderung memiliki penyusutan otak yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer lebih rendah daripada orang dengan diet rendah nutrisi, hal ini menurut sebuah penelitian yang diterbitkan secara online dalam jurnal Neurology  edisi, 28 Desember 2011. Mereka yang diet tinggi asam lemak omega 3 dan vitamin C, D, E, dan vitamin B juga memiliki skor tinggi pada tes berpikir mental daripada orang dengan diet rendah nutrisi mereka.

Dalam temuan yang lain, penelitian menunjukkan bahwa orang dengan diet tinggi lemak trans lebih cenderung memiliki penyusutan otak dan skor yang rendah pada tes berpikir dan memori dibandingkan orang dengan diet rendah lemak trans. Penelitian ini melibatkan sebanyak 104 orang dengan usia rata-rata 87 dan faktor risiko yang sangat sedikit untuk memori dan masalah berpikir. Tes darah digunakan untuk menentukan tingkat berbagai nutrisi dalam darah dari masing-masing peserta. Semua peserta juga menjalani tes memori dan kemampuan berpikir. Dan sebanyak 42 peserta menjalani Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan untuk mengukur volume otak mereka.

Secara keseluruhan, peserta memiliki status gizi yang baik, tetapi sebanyak 7% kekurangan vitamin B12 dan 25% kekurangan vitamin D. Untuk nilai berpikir dan memori, biomarker nutrisi menyumbang 17% dari variasi dalam nilai. Faktor-faktor lain seperti usia, lama pendidikan, dan tekanan darah tinggi menyumbang 46% dari variasi. Untuk volume otak, biomarker nutrisi menyumbang 37% dari variasi.

Hasil penelitian ini perlu dikonfirmasi, tapi jelas sangat menarik untuk berpikir bahwa orang mampu menghambat penyusutan otak mereka dan menjaga ketajamannya dengan menyesuaikan pola dietnya.

Perbandingan Febuxostat dengan Allopurinol untuk Terapi Gout


Sebuah analisis retroprospektif terhadap 222 wanita pengidap gout, yang membandingkan febuxostat dengan allopurinol, menunjukkan bahwa febuxostat 80 mg/hari lebih efektif dibanding allopurinol 100, 200, atau 300 mg/hari untuk menurunkan kadar asam urat di bawah 6 mg/dL.

Studi retroprospektif lain, yang dilakukan oleh dr. Saima Chohan dan kolega dari University of Chicago Pritzker School of Medicine dan Takeda Global Research & Development, membandingkan keefektifan febuxostatallopurinol, dan plasebo pada terapi gout. Data studi ini mencakup 4.101 pasien, 226 di antaranya adalah wanita. Empat  pasien dengan nilai awal kadar asam urat di bawah 8 mg/dL dikeluarkan dari studi.
Dibandingkan dengan pasien pria pada studi yang sama, pasien wanita lebih tua (rata-rata usia 62 tahun vs 52 tahun), lebih berat (rata-rata indeks massa tubuh 36 vs 33 kg/m2), dan lebih sedikit yang mengonsumsi alkohol (37,6% vs 69%). Pasien wanita juga lebih lama menderita gout (12 vs 8 tahun) dan memiliki kecenderungan yang lebih untuk menderita hipertensi, diabetes, hiperlipidemia, obesitas, dan gangguan ginjal.
Dosis febuxostat yang diberikan adalah 40, 80, 120, atau 240 mg/hari. Dosis allopurinol adalah 100, 200, atau 300 mg/hari, bergantung pada fungsi ginjal. Proporsi pasien wanita yang mencapai kadar asam urat <6 mg/dL pada kunjungan terakhir lebih besar pada kelompok febuxostat dibandingkan dengan kelompok allopurinol. Efikasi penurunan kadar asam urat febuxostat 80 mg atau 120 mg secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan allopurinol (p <0,001 dan p <0,006).

Peneliti menduga bahwa febuxostat 80, 120, atau 240 mg/hari memiliki efikasi penurunan asam urat yang lebih baik dibanding dengan allopurinol pada pasien wanita dengan gangguan ginjal derajat ringan – sedang, dan febuxostat 50 mg/hari sama efektifnya pada pasien wanita dengan gangguan ginjal ringan (tetapi tidak pada mereka dengan gangguan ginjal yang lebih serius).

Efek samping pada pasien wanita sebanding dengan kelompok pasien secara keseluruhan. Sekalipun pasien wanita dengan gout cenderung memiliki gangguan kardiovaskuler, metabolik, dan ginjal, terapi penurunan asam urat dengan febuxostat dan allopurinol secara umum relatif aman. 

Simpulannya, febuxostat 80 mg/hari dan 120 mg/hari menurunkan asam urat lebih baik dibandingkan dengan allopurinol 100 – 300 mg/hari pada pasien wanita pengidap gout, dan keduanya relatif aman. Namun, belum terdapat perbandingan antara febuxostat dengan allopurinol dengan dosis yang lebih tinggi (600 mg/hari). (YYA)


Reference:
1.  Kelly JC. Febuxostat better than allopurinol for women with gout. Medscape medical news. Available from:http://www.medscape.com/viewarticle/755607
2.   Chohan S, Becker MA, MacDonald PA, Chefo S, Jackson RL. Women with gout: The efficacy and safety of urate-lowering with febuxostat and allopurinol. Arthritis Care Res. 2011.

Jumat, 27 Januari 2012

Autopsy: Emergency Room

Lesson 1 - Minutes From Death













Lesson 2 - Massive Blood Loss














Lesson 3 - Violent Impact






















Autopsy: Life & Death

Lesson 1 - Blood













Lesson 2 - Tumours










Lesson 3 -  Poison











Lesson 4 - Time





















Health Matters: Obesity Prevention with the Healthy Works Program


Management of Autoimmune Liver Diseases


Health Matters: Gastric Bypass Surgery


Therapeutic Options for the Failing Heart: Drugs Devices and Transplantation


New Advances in Prevention and Management of Cancer


Towards the Eradication of Childhood Cancers




Untuk mengunduh video tersebut baca di sini

Anatomy For Beginners

1. Lesson 1 - Movement









2. Lesson 2 - Circulation 











3. Lesson 3 - Digestion 









4. Lesson 4 - Reproduction













Untuk mengunduh video tersebut baca di sini
Untuk menyatukan menjadi 1 bagian baca di sini




Kamis, 26 Januari 2012

Cara Mencari dan Mengunduh Video Kedokteran di Internet

Di internet dengan mudah sekali kita bisa mendapatkan video kedokteran yang kita butuhkan, kita tinggal mencari dan mengunduhnya. Untuk dapat melakukannya syaratnya:
1. Komputer terkoneksi internet
2. Browser firefox, unduh firefox terbaru disini http://www.mozilla.org/en-US/firefox/new/
3. Add on firefox untuk mengunduh downthemall
Buka browser firefox
Tools > Add on > Get Add on> ketik downthemall

Yang diinstall: Downthemall, Downthemall Anticontainer dan Downthemall Scheduler

4. Add on firefox untuk mengunduh atau merubah format video easy youtube video downloader
Buka browser firefox
Tools > Add on > Get Add on> ketik easy youtube downloader

install

Setelah melakukan langkah-langkah di atas silahkan browser firefoxnya di restart (ditutup dan dibuka kembali).
Masuk ke http://www.youtube.com/
Pada kolom pencarian ketik video yang ingin kita cari, disini saya ingin mencari anatomy for beginners

Tekan enter, nanti ditampilkan video yang sesuai dengan kata kunci pencarian

Terlihat hasilnya, pilih video yang ingin anda tampilkan, misal disini saya pilih yang urutan ke 1


Klik pada tab Downloads, nanti ditampilkan pilihan, pilih salah satu:
flv --> menyimpan video dengan format flv
mp4 -->  menyimpan video dengan format mp4
mp3 --> hanya menyimpan audionya saja dengan format mp3
240p, 360p --> itu resolusi video, makin tinggi makin bagus


Pilih Downthemall


Simpan videonya dilokasi yang ditentukan, klik Start


Proses unduh pun dimulai, tunggu sampai selesai

Selamat mencoba !!!










Minggu, 22 Januari 2012

Tofacitinib, Obat Baru Untuk Rhematoid Arthitis

Tofacitinib merupakan imunomodulator terbaru yang bekerja sebagai penghambat janus kinase (JAK). Tofacitinib terbukti  menghambat JAK 1, 2, dan 3 secara in vitro serta bekerja lebih spesifik pada JAK 1 dan 3 daripada JAK 2. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, tofacitinib bekerja dengan memodulasi sinyal sitokin proinflamasi, termasuk interleukin (IL)-2, IL-4, IL-7, IL-9, IL-15, dan IL-21, yang menghasilkan
efek terhadap sistem imun dan mekanisme peradangan.
Tofacitinib tersedia dalam sediaan oral maupun topikal (untuk indikasi psoriasis). Hal ini merupakan salah satu keunggulan tofacitinib dibanding agen biologis lain yang umumnya tersedia dalam sediaan injeksi. Dalam uji klinis fase 3, pemberian tofacitinib oral pada pasien dewasa dengan rheumatoid arthritis (RA) derajat sedang-berat yang tidak responsif terhadap DMARDs (Disease Modifying Antirheumatic Drugs) yang lain menujukkan efikasi yang sangat baik selama 6 bulan terapi. Hal ini disampaikan oleh oleh Joel Kremer dari Fakultas Kedokteran Albany, New York. Lebih lanjut, dikatakan bahwa pemberian tofacitinib mulai menunjukkan manfaatnya setelah 2 minggu perawatan.
Hasil penelitian ini disampaikan dalam kongres EULAR 2011 (European League Against Rheumatism) di London. Sebanyak 792 pasien secara acak diberi tofacitinib 5 mg atau 10 mg 2 kali/hari atau plasebo, yang ditambahkan pada terapi awal dengan DMARDs konvensional, termasuk
methotrexate. Pada bulan ke-3, semua pasien kelompok plasebo yang tidak responsif secara klinis diberi tofacitinib 5 atau 10 mg, menggantikan plasebo. Pada bulan ke-6, semua pasien yang masih diberi plasebo, diganti dengan tofacitinib 5 atau 10 mg. Total waktu perawatan pasien adalah 12 bulan.
Pada bulan ke-6, sebanyak 58,3% pasien pada kelompok tofacitinib 10 mg, 52,7% pada kelompok tofacitinib 5 mg, dan 31,2% pada kelompok plasebo memperoleh perbaikan minimal 20% pada kriteria
American College of Rheumatology (ACR20). Perbedaan pada kelompok tofacitinib dan plasebo secara statistik sangat bermakna (p <0,0001 untuk kelompok tofacitinib 5 dan 10 mg vs plasebo). Sebagai tambahan, sebanyak 36,6% pada kelompok tofacitinib 10 mg, 33,8% pada kelompok tofacitinib 5 mg, dan 12,7% pada kelompok plasebo mencapai paling tidak ACR50, dengan perbedaan sangat bermakna (p <0,0001 untuk kelompok tofacitinib 5 dan 10 mg).
Pada bulan ke-6, fungsi fisik juga membaik secara bermakna pada kedua kelompok tofacitinib, berdasarkan Health Assessment Questionnaire–Disease Index. Insidens efek samping yang dilaporkan pada bulan ke-3 dan ke-6 kurang lebih sebanding antara kelompok tofacitinib dan kelompok plasebo.
Kebanyakan efek samping bersifat ringan, dan yang paling sering dilaporkan adalah infeksi. Infeksi serius terjadi pada 2 pasien kelompok tofacitinib 5 mg, 4 pasien kelompok tofacitinib 10 mg, dan 2 pasien kelompok plasebo yang kemudian pindah ke kelompok tofacitinib 5 atau 10 mg. Peningkatan
kadar enzim hati dilaporkan terjadi pada bulan ke-3 pada 29% pasien yang diberi tofacitinib, tetapi tidak ada peningkatan lebih lanjut. Empat kematian dilaporkan, tiga di antaranya tidak terkait obat. Satu kematian pada pria berusia 58 tahun, diduga akibat gagal napas dan disinyalir terkait dengan obat. Berkenaan dengan mortalitas, Paul Emery, dari rumah sakit pendidikan di Leeds, Inggris, mengatakan bahwa angka kematian terkait dengan penggunaan DMARDs diperkirakan sebesar 22/1000 pasien per tahun.

Simpulannya, uji klinis ini menunjukkan bahwa tofacitinib merupakan agen biologis terbaru dengan efikasi yang tinggi serta  profil keamanan yang cukup baik (dibanding DMARDs lainnya) untuk RA. (AGN)

REFERENSI
http://adf.ly/5KdUl

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim


Kanker leher rahim merupakan kanker dengan peringkat nomor dua di Indonesia setelah kanker payudara (Sistem Informasi Rumah Sakit, 2008), namun merupakan kanker pembunuh nomor satu untuk wanita  Indonesia. Hal ini cukup memprihatinkan karena sebetulnya kanker ini dapat dicegah
dengan berbagai cara. Edukasi yang tepat diperlukan untuk menurunkan kejadian kanker leher rahim. Tulisan ini akan mengulas berbagai metode pencegahan kanker leher rahim.

Pencegahan kanker leher rahim:
1. Perilaku seksual yang sehat. Setia pada satu pasangan seksual dapat mengurangi risiko infeksi HPV (human papilloma virus). Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa infeksi HPV ditularkan secara
seksual. Dengan perilaku seksual yang beragam saat ini, bukannya tidak mungkin dapat terjadi penularan dengan cara lain. Namun, hal ini tentu masih perlu diteliti lebih lanjut.
2. Vaksinasi HPV. Cara ini merupakan pencegahan primer kanker leher rahim. Vaksin yang beredar di Indonesia bersifat protektif terhadap 2 subtipe HPV risiko tinggi, yaitu HPV 16 dan 18. Subtipe HPV 16 dan 18 merupakan penyebab 70% kasus 2 kanker leher rahim. Mengingat vaksin hanya dapat memberikan perlindungan 70%, dengan divaksin bukan berarti seorang wanita “bebas tugas” dari pemeriksaan rutin sitologi. Hal ini diperkuat oleh berbagai panduan (guideline) yang menyatakan bahwa wanita yang sudah divaksin harus tetap menjalani pemeriksaan rutin tanpa kecuali, sama seperti
3,4 mereka yang belum divaksin. Karena itu, pemeriksaan yang bertujuan untuk deteksi dini menjadi hal yang penting.
3. Deteksi dini. Pemeriksaan yang ditujukan untuk deteksi dini, seperti IVA, pap smear, liquid based cytology, dan HPV DNA, merupakan pencegahan sekunder kanker leher rahim. Deteksi dini dipandang
penting; apabila kelainan terdeteksi lebih awal (apalagi pada tahap lesi pra-kanker), dan ditangani dengan baik, perburukan penyakit dapat dicegah. Deteksi dini yang ideal mencakup pemeriksaan sitologi (abnormalitas sel) dan deteksi infeksi HPV (dengan tes HPV DNA) karena akan meningkatkan
sensitivitas maupun spesifisitas pemeriksaan hingga mendekati 5 100%. Karakteristik pemeriksaan sitologi adalah sensitivitas yang relatif rendah tapi spesifisitas tinggi. Sebaliknya, pemeriksaan HPV DNA mempunyai sensitivitas yang tinggi tapi spesifisitas rendah.
Dengan demikian, bila dilakukan bersamaan, sensitivitas menjadi 100% dan 5 spesifisitas 92,5%. Karena itu, berbagai panduan merekomendasikan setiap wanita di atas 30 tahun untuk menjalani
pemeriksaan sitologi sekaligus deteksi infeksi HPV, dan setelah dianalisis, metode 6 ini terbilang cost-effective. Alasan lainnya adalah karena di atas 30 tahun imunitas seseorang mulai menurun. Bahkan,
berbagai panduan mengatakan bahwa apabila hasil pemeriksaan sitologi negatif dan infeksi HPV terperiksa negatif, wanita bersangkutan perlu menjalani tes ulang tidak lebih cepat dari 3 tahun kemudian. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa infeksi HPV subtipe risiko tinggi yang persisten rata-rata baru menimbulkan 7 abnormalitas sel setelah minimal 5 tahun.

Pemeriksaan Sitologi
Untuk pemeriksaan sitologi, pemerintah dan praktisi kebidanan dan kandungan membuat kebijakan penapisan (screening) mulai dari yang paling sederhana, yaitu dengan IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). IVA dianjurkan dilakukan setiap kali dokter atau bidan membuka liang vagina. Pemeriksaan ini sangat sederhana dan murah sehingga 8 bisa dilakukan di Puskesmas. IVA disukai
karena sangat murah tapi penilaian hanya bersifat makroskopik dengan mata biasa.
Pap smear memiliki sensitivitas yang lebih baik karena penilaian sel dilakukan di bawah mikroskop. Sensitivitas pap smear sangat dipengaruhi oleh cara pengambilan sediaan oleh praktisi dan kemampuan menilai sediaan oleh ahli patologi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa kemampuan pap smear dalam mendeteksi HSIL (high-grade squamous intraepithelial lesion) lebih rendah daripada sitologi berbasis cairan, dan hasil tidak memuaskan lebih tinggi daripada 9-11 sitologi berbasis cairan. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan pap smear, yaitu sel yang diperoleh tidak semuanya tersapu di atas kaca objek sehingga tidak semuanya dapat dinilai. Selain itu, lendir, darah, dan sel radang dapat mengganggu penilaian di bawah mikroskop. Karena itu, sekarang dikembangkan metode sitologi
berbasis cairan, yaitu sediaan yang diambil dimasukkan ke dalam cairan pengawet sehingga semua sel ikut dinilai, kemudian diproses sedemikian rupa sehingga sel-sel yang dinilai tersebut tersaji dengan rapi. Di samping itu, lendir dan darah tidak mengganggu pandangan karena sudah disingkirkan.

Pemeriksaan Infeksi HPV
Infeksi HPV merupakan penyebab kanker leher rahim. Ada sekitar lebih dari 100 subtipe HPV namun yang ditularkan secara seksual sekitar 40 subtipe dan yang dianggap ganas (risiko tinggi) sekitar 15
subtipe (16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 12 59, 68, 73, dan 82). HPV subtipe risiko tinggi
ditemukan pada 99% kanker leher rahim.
Infeksi HPV tidak bergejala dan dapat hilang dengan sendirinya dengan imunitas yang baik selayaknya infeksi virus lainnya. Namun, apabila infeksi HPV subtipe risiko tinggi ini persisten, dapat menyebabkan perubahan sel yang abnormal dan bila tidak ditangani 13 dapat berkembang menjadi kanker.
Subtipe HPV terbanyak pada berbagai populasi berbeda-beda. Penelitian oleh International Agency for Research on Cancer Multicenter Cervical Cancer Study Group menyebutkan subtipe HPV terbanyak pada pasien kanker leher rahim secara berurutan 12 adalah 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58, dan 35. Di
Indonesia, subtipe terbanyak pada populasi umum (melibatkan 3 kota dengan n=2686) berturut-turut adalah 52, 16, 18, 39, 51, 45.14 Sementara itu, pada populasi pasien kanker leher rahim di Indonesia (n=74), subtipe 15 terbanyak adalah 16, 18, 52, dan 45.

Saat ini ada 2 macam pemeriksaan HPV DNA, yaitu
1. HPV DNA: Hanya untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV subtipe risiko tinggi,
dan
2. HPV DNA Genotyping: Dapat mengetahui hingga ke subtipe HPV.

Beberapa artikel review menyatakan bahwa pemeriksaan HPV DNA (hingga penentuan
subtipe HPV) dipandang penting untuk 2 alasan:
1. Mengetahui persistensi. Faktor yang menyebabkan perubahan sel ke arah keganasan
adalah persistensi virus. Apabila seseorang terinfeksi oleh subtipe yang sama 2 kali berturut-turut dengan jeda 1 tahun, diistilahkan sebagai infeksi persisten.
Namun, apabila terinfeksi oleh subtipe yang berbeda walaupun sama-sama subtipe risiko tinggi, dikenal sebagai infeksi sesaat (transient infection).
2. Karena infeksi oleh subtipe 16 dan 18 merupakan 70% penyebab kanker leher rahim, berbagai artikel mengusulkan pembedaan tata laksana untuk kedua subtipe tersebut. Bila ditemukan subtipe
16 atau 18, tanpa memandang ada tidaknya abnormalitas pada pemeriksaan sitologi, tata laksananya berupa kolposkopi.
Namun, bila ditemukan subtipe risiko tinggi lainnya (bukan subtipe 16 atau 18), tata laksana bergantung pada kelainan sitologi.
Apabila ditemukan HSIL pada pemeriksaan sitologi, tata laksananya berupa kolposkopi. Apabila kelainan sitologinya adalah LSIL (low-grade squamous intraepithelial lesion) atau lebih rendah,
pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sitologi dan HPV setahun kemudian. Apabila ditemukan subtipe yang sama (infeksi persisten), tata 13 laksananya berupa kolposkopi.

Simpulan
Program vaksinasi HPV harus didukung dengan program penapisan (screening) untuk deteksi dini dalam rangka menurunkan kejadian kanker leher rahim di Indonesia. Deteksi dini yang ideal adalah pemeriksaan sitologi berbasis cairan sekaligus HPV DNA genotyping.


DAFTAR PUSTAKA