Kamis, 19 Januari 2012

Methylprednisolone Oral Bermanfaat Sebagai Terapi Tambahan untuk Rinosinusitis Kronik


Studi terbaru menunjukkan bahwa penambahan methylprdnisolone oral ke dalam terapi antibiotik memberikan manfaat kepada anak-anak dengan rinosinusitis kronik. Hal ini telah dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2011.

Dr. Fadil Ozturk dan koleganya (Ondokuz Mayis University, Samsun, Turkey) meneliti 48 anak umur 6 – 17 tahun dengan rinosinusitis kronik. Setiap pasien telah diberikan beberapa jenis antibiotik, paling tidak 2 atau lebih antibiotik spektrum luas, seperti amoxicillin-clavulanic acid, cephalosporin generasi ke-2, atau clarithromycin. Semua pasien dalam uji klinik ini menerima amoxicillin/clavulanate 45/6,4 mg/kgBB/hari selama 30 hari. Sebagai tambahan, setiap pasien menerima methylprednisolone oral selama 15 hari (dengan penurunan dosis) atau plasebo. Pasien yang diberikan methylprednisolone menerima dosis 1 mg/kgBB/hari selama 10 hari, 0,75 mg/kgBB/hari selama 2 hari, 0,5 mg/kgBB/hari selama 2 hari, dan 0,25 mg/kgBB/hari selama 1 hari.

45 pasien menyelesaikan uji klinik ini (22 pada kelompok methylprednisolone, dan 23 pada kelompok placebo). Kedua kelompok  mengalami perubahan bermakna dalam skor gejala (P < 0,001) dan skor CT (computed tomography) sinus (P < 0,001), dua parameter utama dalam mengukur keberhasilan perawatan. Penambahan methylprednisolone terbukti lebih efektif dibanding plasebo dalam mengurangi skor CT (P = 0,004), total gejala rinosinusitis (P = 0,001), gejala individual obstruksi nasal (P = 0,001), postnasal discharge (P = 0,007), dan batuk (P = 0,009).  Pada akhir perawatan, hanya 14% pada kelompok methylprednisolone yang masih memiliki temuan CT yang abnormal, dibanding dengan 48% anak pada kelompok plasebo.  Temuan ini juga menunjukkan bahwa methylprednisolone mungkin mengurangi kemungkinan kambuh (rekuren) pada jangka waktu menengah, di mana terdapat tren (P= 0,137) kekambuhan yang lebih sedikit pada kelompok methylprednisolone (25%) dibanding dengan kelompok plasebo (43%).

Methylprednisolone oral dapat ditoleransi dengan baik, di mana tidak terdapat perbedaan efek samping pada kedua kelompok, kecuali peningkatan nafsu makan, dan kenaikan berat badan. Efek ini lebih banyak terjadi pada kelompok methylprednisolone dibanding (73%) dengan kelompok plasebo (48%). Tetapi perbedaan berat badan ini tidak berbeda bermakna secara satatistik.
Dari studi ini peneliti menyimpulkan bahwa, methylprednisolone oral dapat menjadi terapi tambahan yang bermanfaat untuk pasien anak dan remaja dengan rinosinusitis kronik.

0 komentar:

Poskan Komentar