Kamis, 19 Januari 2012

Levofloxacin Sebagai Terapi Lini Kedua Infeksi H. pylori


Angka eradikasi terhadap bakteri Helicobacter pylori yang merupakan penyebab mayor dari ulkus peptikum mulai mengalami penurunan dalam dekade ini, (angka kegagalan mencapai 30 %; Della Monica et al. 2002; Fennerty et al. 1999) dikarenakan meningkatnya resistensi terhadap antibiotik yang direkomendasikan yaitu claritrhromycin dan metronidazole (Heep et al. 2000; Wang et al. 2000). Oleh karena itu, mulai dilakukan evaluasi terhadap regimen dan substansi baru yang sekiranya dapat menjadi terapi alternatif dari terapi yang telah ada saat ini.

Generasi baru dari antibiotik golongan quiniolone seperti levofloxacin dan moxifloxacin yang memiliki spektrum yang luas terhadap bakteri gram positip dan negatip ternyata memiliki potensi yang sangat baik dalam terapi infeksi dari H. pylori ini. Berdasarkan studi yang melibatkan total sampel dalam jumlah besar penggunaan quinolone ini telah menunjukkan efektivitas dan tolerabilitas yang baik dan sebanding atau lebih baik dibandingkan dengan  terapi lini pertama.

Oleh karenanya, panduan saat ini telah merekomendasikan penggunaan levofloxacin sebagai terapi lini kedua dari infeksi bakteri ini. Dibandingkan dengan terapi kuadripel berbasis bismuth, regimen terapi tripel yang menggunakan levofoxacin atau moxifoxacin lebih ditoleransi dengan baik dan lebih efektif jika diberikan setidaknya selama 10 hari.

American College of Gastroenterology Guideline untuk manajemen infeksi Helicobacter pylori dan  German Level 3 Guideline untuk Helicobacter pylori and Gastroduodenal Ulcer Disease keduanya merekomendasikan kombinasi  PPI (Proton Pump Inhibitor), levofloxacin 500 mg/hari, atau moxifloxacin 400 mg/day, dan amoxicillin 2–1 g/hari sebagai pilihan terapi lini kedua .Sejauh ini sekitar 900 pasien  dari 11 penelitian telah dilakukan untuk membuktikan manfaat terapi levofloxacin dalam kasus ini. Angka eradikasi bervariasi antara 74-96%.

Jika dalam populasi ditemui resistensi terhadap clarithromycin lebih besar daripada 15-20% dan resistensi yang rendah terhadap quinolone, maka terapi tripel dengan levofloxacin dapat dipertimbangkan.


Reference:
http://adf.ly/5Kf6S



Sumber: http://adf.ly/5Kezj

0 komentar:

Poskan Komentar