Kamis, 19 Januari 2012

Makanan Kaya Vitamin E Menurunkan Risiko Demensia dan Penyakit Alzheimer Jangka Panjang


Stres oksidatif diperkirakan berperan penting dalam patogenesis penyakit Alzheimer, sebuah penyakit yang tampaknya dimulai sejak bertahun-tahun sebelumnya, sebelum munculnya gejala klinis demensia. Sejalan dengan hipotesis ini, data penelitian mendukung pernyataan bahwa antioksidan mencegah tubuh dari degenerasi neuron.  Dari studi terbaru menunjukkan asupan makanan kaya dengan vitamin E mampu menurunkan risiko demensia dan Alzheimer dalam jangka panjang, studi yang dilakukan oleh Dr. Elizabeth E. Devore., dkk ini dipublikasikan dalam jurnal Archive of Neurology tahun 2010.

Studi tersebut adalah Rotterdam Study ini merupakan penelitian kohort berbasis populasi di Omoord (sebuah daerah di Rotterdam, Belanda) yang didesain untuk menginvestigasi penyakit pada usia lanjut. Pada tahun 1990, sebanyak 7.893 penduduk Omoord yang berusia 55 tahun atau lebih, setuju untuk berpartisipasi di dalam penelitian ini. Dari jumlah ini, sebanyak 7.046 orang (88%) menjalani pemeriksaan kognitif dan dinyatakan bebas dari demensia sebagai data awal. Untuk penilaian asupan zat gizi, 125 orang dikeluarkan dari penelitian berkaitan dengan status kognitif yang dipertanyakan karena dapat menyebabkan pelaporan yang tidak dapat dipercaya. Sebanyak 477 orang lainnya yang dirawat di panti perawatan dikeluarkan lagi dari penelitian karena asupan makanan pada panti mereka tidak dapat menggambarkan kebiasan makan sebelumnya. Sehingga sebanyak 6.444 orang subyek penelitian yang memiliki risiko mengalami insidensi demensia terpilih untuk dinilai pola asupan makanannya. Namun demikian, dari jumlah ini peneliti juga tidak mendapatkan informasi mengenai asupan makanan dari 1.049 orang subyek penelitian. Akhirnya, peneliti mendapatkan 5.395 subyek penelitian yang terbebas dari demensia, tidak berada di dalam suatu panti perawatan, dan memberikan informasi mengenai pola asupan makanan pada awal penelitiannya.

Selama periode penelitian yang berjalan selama 9,6 tahun ini, demensia terjadi pada 465 subyek penelitian yang 365 di antaranya didiagnosis mengalami penyakit Alzheimer. Pada analisis multivariate dengan penyesuaian untuk usia, pendidikan, genotip apolipoprotein E epsilon4, asupan energi total, asupan alkohol, kebiasaan merokok, indeks masa tubuh, dan penggunaan suplemen, asupan vitamin E dosis tinggi pada awal penelitian berkaitan dengan rendahnya risiko jangka panjang demensia (p =0,02) Dibandingkan dengan subyek penelitian pada tertile terendah dari asupan vitamin E, subyek penelitian yang berada pada tertile tertinggi memiliki 25% lebih rendah untuk mengalami demesia (hazard ratio 0,75; 95% confidence interval 0,59 – 0,95). Kadar asupan zat gizi vitamin C, beta karoten, dan flavonoid tidak berkaitan dengan risiko demensia setelah penyesuaian multivariate (p<0,99 untuk kecenderungan vitamin C dan beta karoten dan p= 0,60 untuk kecenderungan flavonoid).

Peneliti menyimpulkan bahwa asupan makanan yang kaya akan vitamin E dapat menurunkan risiko demensia dan penyakit Alzheimer dalam jangka panjang. 

0 komentar:

Poskan Komentar