This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 19 Januari 2012

Pemaparan Jangka Lama dari Polusi Udara, Meningkatkan Kejadian Diabetes


Studi terbaru menujukkan bahwa, pemaparan jangka panjang dari polusi akibat kendaraan mungkin berkontribusi terhadap kejadian dan perkembangan dari penyakit diabetes mellitus. Studi yang dilakukan oleh Dr. Zorona dan kolega dari Institute of Cancer Epidemiology, Danish Cancer Society, Kopenhagen, Denmark telah dipublikasikan dalam Diabetes Care tahun 2011 ini.

studi yang melibatkan sebanyak 57.053 subyek dari the Danish Diet, Cancer, and Health cohort in the Danish National Diabetes Register ini diikuti sejak 1993 - 1997. Parameter yang diukur adalah kadar nitrogen dioxide, diperkirakan adanya korelasi antara kadara NO2 yang ada dalam darah dengan risiko kejadian diabetes mellitus. Dan untuk membutikan hal tersebut dilakukan iji statistik dengan menggunakan Cox regression model.

Hasil dari studi tersebut rata-rata waktu follow up adalah 9.7 tahun dari sebanyak 51.818 subyek yang memenuhi sebagai subyek. terdapat 4,040 (7.8%) angka kejadian diabetes mellitus total dan sebanyak 2.877 atau 5.5%0 yang sudah dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium. Polusi udara mungkin tidak berhubungan dengan semua (hazard ratio 1.00 [95% CI 0.97–1.04] per rental kuartil sebesar 4,9 µg/m3 berarti kadar NO2 sejak 1971), tetapi hubungan statistik yang signifikan batas terdeteksi dengan kasus yang dikonfirmasi diabetes (1,04 [1,00-1,08]). Diantara kasus diabetes dikonfirmasi, efek yang meningkat drastis dalam merokok (1,12 [1,05-1,20]) dan orang aktif secara fisik (1.10 [1,03-1,16]).

Kesimpulan dari studi tersebut, menunjukkan pemaparan dalam jangka waktu lama polusi udara yang berhubungan dengan poluasi kendaraan/ lalu lintas mungkin berkontribusi  terhadap perkembangan diabetes, khususnya pada individi yang dengan kebiasaan hidup yang sehat, tidak merokok, dan individu yang aktif secara fisik.

Konsumsi Kedelai Kemungkinan Menderita Kanker Paru Lebih Rendah


Orang yang banyak mengkonsumsi produk kedelai yang tidak difermentasi mungkin memiliki kesempatan yang lebih kecil terkena kanker paru-paru, hal ini berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Cina dan ilmuwan AS dengan melakukan meta-analisis dari 11 penelitian observasional, beberapa yang diikuti untuk satu dekade atau lebih. Dari data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa orang yang banyak mengkonsumsi kedelai memiliki risiko 23% lebih rendah terkena kanker paru-paru dibandingkan mereka yang mengkonsumsi sedikit.

Temuan baru tersebut dipublikasikan secara online pada 9 November di American Journal of Clinical Nutrition. Hubungan antara kedelai dan kanker hanya dilakukan untuk produk kedelai yang tidak difermentasi seperti tahu dan susu kedelai, misalnya. Terlebih lagi, itu hanya ditemukan pada orang yang tidak pernah merokok, pada wanita dan pada populasi Asia.
Dr Matthew Schabath, seorang peneliti di Moffitt Cancer Center di Tampa, Florida yang studinya juga dimasukkan dalam analisis, memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui lebih lanjut hubungan antara kedelai dan kanker paru-paru. Mungkin hal ini tidak karena faktor kedelai saja, mungkin juga efek dari semua nutrisi yang dikemas dalam dalam makanan. Studi observasional melakukannya secara konsisten menunjukkan bahwa diet sehat akan memberikan efek yang menguntungkan.

Methylprednisolone Oral Bermanfaat Sebagai Terapi Tambahan untuk Rinosinusitis Kronik


Studi terbaru menunjukkan bahwa penambahan methylprdnisolone oral ke dalam terapi antibiotik memberikan manfaat kepada anak-anak dengan rinosinusitis kronik. Hal ini telah dipublikasikan dalam Journal of Allergy and Clinical Immunology tahun 2011.

Dr. Fadil Ozturk dan koleganya (Ondokuz Mayis University, Samsun, Turkey) meneliti 48 anak umur 6 – 17 tahun dengan rinosinusitis kronik. Setiap pasien telah diberikan beberapa jenis antibiotik, paling tidak 2 atau lebih antibiotik spektrum luas, seperti amoxicillin-clavulanic acid, cephalosporin generasi ke-2, atau clarithromycin. Semua pasien dalam uji klinik ini menerima amoxicillin/clavulanate 45/6,4 mg/kgBB/hari selama 30 hari. Sebagai tambahan, setiap pasien menerima methylprednisolone oral selama 15 hari (dengan penurunan dosis) atau plasebo. Pasien yang diberikan methylprednisolone menerima dosis 1 mg/kgBB/hari selama 10 hari, 0,75 mg/kgBB/hari selama 2 hari, 0,5 mg/kgBB/hari selama 2 hari, dan 0,25 mg/kgBB/hari selama 1 hari.

45 pasien menyelesaikan uji klinik ini (22 pada kelompok methylprednisolone, dan 23 pada kelompok placebo). Kedua kelompok  mengalami perubahan bermakna dalam skor gejala (P < 0,001) dan skor CT (computed tomography) sinus (P < 0,001), dua parameter utama dalam mengukur keberhasilan perawatan. Penambahan methylprednisolone terbukti lebih efektif dibanding plasebo dalam mengurangi skor CT (P = 0,004), total gejala rinosinusitis (P = 0,001), gejala individual obstruksi nasal (P = 0,001), postnasal discharge (P = 0,007), dan batuk (P = 0,009).  Pada akhir perawatan, hanya 14% pada kelompok methylprednisolone yang masih memiliki temuan CT yang abnormal, dibanding dengan 48% anak pada kelompok plasebo.  Temuan ini juga menunjukkan bahwa methylprednisolone mungkin mengurangi kemungkinan kambuh (rekuren) pada jangka waktu menengah, di mana terdapat tren (P= 0,137) kekambuhan yang lebih sedikit pada kelompok methylprednisolone (25%) dibanding dengan kelompok plasebo (43%).

Methylprednisolone oral dapat ditoleransi dengan baik, di mana tidak terdapat perbedaan efek samping pada kedua kelompok, kecuali peningkatan nafsu makan, dan kenaikan berat badan. Efek ini lebih banyak terjadi pada kelompok methylprednisolone dibanding (73%) dengan kelompok plasebo (48%). Tetapi perbedaan berat badan ini tidak berbeda bermakna secara satatistik.
Dari studi ini peneliti menyimpulkan bahwa, methylprednisolone oral dapat menjadi terapi tambahan yang bermanfaat untuk pasien anak dan remaja dengan rinosinusitis kronik.

Rabu, 18 Januari 2012

Simvastatin 40 mg untuk Terapi Jangka Panjang Hiperkolesterolemia


Pemberian simvastatin 40 mg dalam jangka panjang efektif menurunkan kejadian vaskuler secara bermakna dan relatif aman, sehingga dokter dapat memberikan terapi statin dalam jangka panjang mengingat manfaatnya tersebut. Temuan ini terungkap lewat penelitian lanjutan pasca-HPS (Heart Protection Study) yang dilakukan oleh tim Heart Protection Study Collaborative Group dan telah dipublikasikan online di jurnal The Lancet bulan November 2011.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui efikasi dan keamanan terapi statin jangka panjang dalam menurunkan kadar kolesterol LDL. Penelitian lanjutan ini menggunakan data-data dari 20.536 pasien yang berisiko tinggi mengalami komplikasi vaskuler dan non-vaskuler dalam penelitian HPS yang dilakukan sebelumnya. Masa follow-up rata-rata selama penelitian HPS adalah 5,3 tahun, dan follow-up pasca-penelitian pada pasien-pasien yang menyelesaikan penelitian HPS adalah 11 tahun. Outcome primer penelitian ini adalah kejadian vaskuler mayor pertama setelah terapi. Analisisnya menggunakan intention-to treat.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa selama masa penelitian, pemberian simvastatin 40 mg menghasilkan penurunan kadar kolesterol LDL dalam kisaran 1,0 mmol/L dan menurunkan kejadian vaskuler mayor sebesar 23% (95% CI 19-28; p <0,0001), dengan divergensi yang nyata setiap tahunnya. Selama masa pasca-penelitian, tidak terjadi penurunan tambahan terhadap kejadian vaskuler mayor (risk ratio [RR] 0,95 [0,89-1,02]), maupun terhadap kejadian kematian karena kejadian vaskuler (0,98 [0,90-1,07]). Selain itu, para ahli selama masa dan pasca-penelitian tidak menemukan kejadian kanker pada kedua kelompok penelitian (0,98 [0,92-1,05]), juga tidak ada kematian akibat kanker (1,01 [0,92-1,11]) ataupun kejadian non-vaskuler (0,96 [0,89-1,03]).

Sebagai simpulan, pemberian simvastatin 40 mg dalam jangka panjang menghasilkan penurunan kejadian vaskuler yang lebih besar secara bermakna. Walaupun pasca-penelitian terapi dihentikan, manfaat terapi statin menetap hingga 5 tahun tanpa adanya tanda-tanda efek samping yang menghawatirkan.


Referensi:
Effects on 11-year mortality and morbidity of lowering LDL cholesterol with simvastatin for about 5 years in 20 536 high-risk individuals: a randomised controlled trial. The Lancet 2011.

Suplementasi Asam Folat Masa Kehamilan Mencegah Keterlambatan Bicara Anak


Pemberian suplementasi asam folat selama masa kehamilan dapat menurunkan risiko defek tabung neural dan dapat memberikan manfaat yang menguntungkan dalam aspek perkembangan sistem saraf lainnya. Studi terbaru memberikan gambaran perihal manfaat suplementasi asam folat. Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA tahun 2011 ini menunjukkan adanya keterkaitan antara pemberian suplementasi asam folat pada ibu hamil dengan risiko keterlambatan bicara yang berat pada anak mereka kelak pada usia 3 tahun, maka sekelompok peneliti melakukan suatu penelitian. 

Penelitian yang diberi nama The prospective observational Norwegian Mother and Child Cohort Study ini merekrut wanita-wanita hamil selama kurun waktu 1999 hingga Desember 2008. Data-data anak yang lahir sebelum tahun 2008 yang ibunya mengembalikan kuesioner follow up selama 3 tahun digunakan. Pemberian suplementasi asam folat selama masa kehamilan dalam interval 4 minggu sebelum hingga 8 minggu seudah konsepsi dijadikan sebagai pajanan. Risiko relative diperkirakan dengan mengestimasi odds ratio (OR) dengan 95% interval kepercayaan dalam analisis regresi logistik.Kompetensi kemampuan berbahasa anak pada usia 3 tahun diukur berdasarkan laporan ibu melalui 6-point ordinal language grammar scale. Anak dengan bahasa ekspresi yang minimal (hanya 1 kata atau ungkapan-ungkapan yang tidak dapat dimengerti) diklasifikasikan mengalami keterlambatan bicara yang berat.
Di antara 38.954 anak, 204 (0,5%) mengalami keterlambatan bicara yang berat. Anak dari ibu yang tidak menggunakan suplemen dalam kurun waktu yang spesifik tersebut merupakan kelompok rujukan (n= 9052 [24,0%], dengan keterlambatan bicara yang berat pada 81 anak [0,9%]). OR yang disesuaikan untuk 3 pola pajanan pada suplementasi diet ibu adalah:

(1) suplemen selain asam folat (n = 2480 [6.6%], dengan keterlambatan bicara yang berat pada 22 anak [0,9%]; OR 1,04’ 95% CI 0,62 – 1,74);   (2) hanya asam folat (n = 7127 [18,9%], dengan keterlambatan bicara yang berat pada 28 anak [0,4%]; OR 0,55; 95% CI 0,35-0,86);  (3) asam folat dikombinasikan dengan suplemen lain (n = 19 005 [50,5%], with severe language delay in 73 children [0,4%]; OR 0,55; 95% CI 0,39-0,78).
Kesimpulan yang ditarik peneliti dari penelitian yang dilakukannya adalah bahwa pemberian suplementasi asam folat selama masa kehamilan pada usia kehamilan awal berkaitan dengan penurunan risiko keterlambatan bicara yang berat pada anak berusia 3 tahun.

Sepertiga Kasus Kanker Mungkin Disebabkan oleh Faktor Gaya Hidup


Sepertiga dari semua kasus kanker disebabkan oleh 4 gaya hidup yang sering terjadi yaitu meliputi: merokok, diet, alkohol dan kegemukan atau obesitas. Hal ini merupakan hasil dari suatu review yang dilakukan secara mendetail dari faktor gaya hidup dan lingkungan. Para peneliti mengkalkulasi dari fraksi kanker terhadap pengaruh dari masing-masing faktor ini. Penelitian ini dikepalai oleh Max Parkin, MD, professor of epidemiology at Queen Mary University, London, Inggris dan telah dipublikasikan dalam suplemen dari the British Journal of Cancer.

Kajian ini didasarkan pada data terbaru yang tersedia; peneliti memperkirakan kejadian tahun 2010 berdasarkan gambaran pada angka kejadian Inggris 1993-2007. Para peneliti kemudian menghitung proporsi kanker yang dapat dikaitkan dengan 1 dari 14 faktor: merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, kurangnya serat, makan daging merah dan olahan, terlalu banyak garam, kelebihan berat badan atau obesitas, kurang olahraga fisik, radiasi pengion, radiasi ultraviolet, pajanan akibat kerja (misalnya, asbes), infeksi (misalnya, manusia papillomavirus [HPV]), dan khusus untuk wanita, terapi penggantian hormon postmenopause dan kurangnya menyusui.

Kanker pada Laki-laki
                Faktor risiko               
Kanker dikaitkan dengan faktor risiko (%)
Merokok
23.0
Kurang buah dan sayuran
6.1
Pemaparan pekerjaan (abses)
4.9
Alkohol
4.6
Obesitas
4.1
Radiasi sinar matahari berlebihan
3.5

                                                                                       









Kanker pada Wanita
Faktor risiko
Kanker dikaitkan dengan faktor risiko (%)
Merokok
15.6
Obesitas
6.9
Infeksi  (mis: HPV)
3.7
Radiasi sinar matahari berlebihan
3.6
Kekurangan sayur dan buah
3.4
Alkohol
3.3











Ukuran yang digunakan dalam kajian ini adalah fraksi penyebab dari populasi. Beberapa faktor gaya hidup yang dipelajari ternyata tumpang tindih satu sama lain, sehingga persentase menambahkan hingga lebih dari 100%. Pada kanker paru-paru, misalnya, fraksi populasi disebabkan untuk tembakau adalah 85%, untuk faktor pendudukan adalah 13,2%, karena kurangnya buah dan sayuran adalah 9%, dan untuk radiasi pengion adalah 4,7%. Dalam kombinasi, faktor-faktor gaya hidup berkontribusi 89,2% dari kasus kanker paru-paru, dan lebih dari 10% dari kanker paru tidak terkait dengan salah satu faktor. Namun, gaya hidup sehat masih ada jaminan bahwa Anda dapat mengurangi risiko terkena kanker.

Dari hasil studi tersebut, kontrol terhadap 4 gaya hidup yaitu: merokok, alkohol, diet, serta obesitas yang berkoontribusi terhadap kejadian kanker, juga bermanfaat dalam mengendalikan penyakit degeneratif terutama kardiovaskuler, diabetes, serta penyakit ginjal dan hati.

Eperisone hydrochloride, Efektif dan Aman Digunakan pada Kasus LBP


Nyeri punggung bawah atau  Low Back Pain (LBP) dapat  dikarenakan kekakuan atau cedera terbatas pada otot dan struktur sendi lainnya,  juga beberapa  proses peradangan di dalam rongga tulang panggul, proses sumbatan pada saluran kemih ataupun cedera yang langsung mengenai saraf yang ada di sekitar lokasi tersebut.
Kekakuan otot dan tulang ini, perlu dikurangi dengan pemberian relaksasi otot (muscle relaxant), dan salah satu alternatif perelaksasi otot adalah eperisone hydrochloride. Suatu studi eperisone di India baru-baru ini, yang dilakukan oleh para peneliti dipimpin oleh Dr. Chandanwale, menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi gejala tersebut sebagaimana yang dipublikasikan dalam jurnal Postgraduate Medicine  edisi 2011.

Dalam studi tersebut, peneliti mengevaluasi efikasi dan tolerabilitas eperisone pada pasien dengan kekakuan musculoskeletal akut  (acute musculoskeletal spasm) yang berkaitan dengan  nyeri punggung bawah  (low back pain). Eperisone hydrochloride yang merupakan preparat untuk relaksasi otot yang bersifat sentral, dengan mekanisme menghambat jalur refleks nyeri, dan mempunyai efek vasodilator.  

Desain dan set penelitian bersifat  prospektif, randomisasi, tersamar ganda, kontrol plasebo, dan multisenter yang dikumpulkan dari 5 pusat perawatan ortopedik tersier di seluruh  India. Dengan subyek penelitian sebanyak 240 pasien baik pria dan wanita dengan usia antara 18-60 tahun dengan gejala kekakuan otot dan tulang akut yang disebut juga  acute musculoskeletal spasm (AMSP) dengan low back pain (LBP) yang disebabkan  spondylosis deformansprolapsed disc atau muscle sprain.   Sebagai  penilaian  yang dikerjakan untuk  finger-to-floor distance (FFD), lumbar pain, Lasegue's sign, kekakuan otot vertebra, memerlukan pertolongan pengobatan dan respon terapi untuk efikasi dan tolerabilitas.  

Analisa statistik dilakukan data Parametrik yang dianalisa dengan  't' test dan  ANOVA, sedangkan data  non-parametrik dianalisa menggunakan tes Mann-Whitney 'U'  dan tes Kruskall-Wallis. Proporsi perbandingan menggunakan  tes Fischer's (Chi-square).

Hasil 240 orang pasien yang secara randomisasi menerima  eperisone 150 mg/ hari dalam 3 dosis terbagi (n=120) atau (n=120) selama 14 hari,  didapatkan 225 pasien (eperisone, 112 and plasebo, 113) yang menyelesaikan lengkap studi dan 15 orang yang tidak menyelesaikan secara lengkap. Didapatkan perbaikan yang lebih besar secara bermakna  pada FFD (P<0,001) dari  baseline pada hari ke- 14 dengan eperisone yakni 150,66 ke  41,75 dibandingkan dengan plasebo yakni 138,51 ke 101,60. Perbaikan pada parameter lainnya juga lebih besar pada kelompok eperisone.  Untuk terapi 89 pasien (79.46%) terapi menunjukkan rate baik – memuaskan dengan eperisone dibandingkan 43 pasien (38,05%) dengan plasebo.  Nausea, nyeri perut, sakit kepala dan dizziness  merupakan efek samping yang ditemukan pada kedua kelompok pengobatan. Obat darurat diperlukan pada 40 pasien eperisone (35,71%) dan  83 pasien plasebo (73,45%). 

Kesimpulan penelitian, bahwa penggunaan Eperisone hydrochloride  efektif dan dapat ditoleransi dengan baik pada pasien  AMSP dengan LBP.

Progesteron Intra-Vaginal Mencegah Persalinan Preterm


Persalinan preterm yang spontan dianggap sebagai salah satu dari sindroma obstetri yang besar, sebuah istilah yang menggambarkan bahwa kelainan obstetri dengan fenotipe yang serupa disebabkan oleh berbagai proses patologi, memiliki sebuah fase subklinis yang panjang dan dapat disebabkan oleh interaksi antara gen dan lingkungan yang kompleks.

Progesteron dianggap sebagai hormon kunci untuk mempertahankan kehamilan dan penurunan kerja progesteron berimplikasi pada dimulainya kelahiran. Suatu penelitian meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa pemberian progesterone per vaginal pada wanita yang tidak memperlihatkan gejala dengan serviks pendek menurut sonografi (<25 mm) pada trimester pertengahan akan menurunkan risiko persalinan preterm dan memperbaiki morbiditas dan mortalitas neonatal. Penelitian yang dilakukan oleh Romero R, dan kolega ini telah dipublikasikan dalam American Journal of Obstetric and Gynecology November 2011.

Dari sebanyak lima uji klinis dengan kualitas yang baik disertakan di dalam penelitian ini dengan total melibatkan 775 wanita dan 827 anak. Penatalaksanaan dengan progesterone per vaginal berkaitan dengan penurunan secara bermakna pada persalinan preterm <33 minggu (RR 0,58, 95% CI 0,42–0,80), <35 minggu (RR 0,69, 95% CI 0,55–0,88) dan <28 minggu (RR 0,50, 95% CI  0,30–0,81), respiratory distress syndrome (RR 0,48, 95% CI 0,30–0,76), morbiditas dan mortalitas neonatal gabungan (RR 0,57, 95% CI 0,40–0,81). Berat lahir <1500 g (RR 0,55, 95% CI 0,38–0,80), perawatan ke NICU (RR 0,75, 95% CI 0,59–0,94), dan kebutuhan akan ventilasi mekanis (RR 0,66. 05% CI 0,44–0,98). Tidak ada perbedaan bermakna antara pemberian progesterone per vaginal dengan pemberian plasebo dalam hal efek samping pada ibu atau adanya anomali kongenital.

Dari studi ini peneliti menyimpulkan bahwa pemberian progesterone per vaginal pada wanita yang tidak menunjukan gejala dengan serviks pendek menurut sonografi dapat menurunkan risiko persalinan preterm dan morbiditas dan mortalitas neonatal.

Merokok selama Kehamilan dapat Merusakan Pembuluh Darah Anak yang Dikandung


Ibu yang merokok selama kehamilannya mungkin akan menyebabkan gangguan ataupun kerusakan pembuluh darah pada anak usia ketika sampai lima tahunan, hal ini berdasarkan hasil studi yang dipubikasikan secara online dalam  jurnal Pediatrics bulan Desember 2011. Ibu yang merokok akan menyebabkan penebalan dari tunika media pembuluh karotid pada usia muda, dan ini juga terlihat pada neonatus.

Dalam studi tersebut, peneliti menggunakan data kohort dari the Wheezing Illnesses Study Leidsche Rijn (WHISTLER)-Cardio study. Pada usia 5 tahun, sebanyak 259 partisipan dilakukan pengukuran ketebalan tunika media dari pembuluh darah karotid (CIMT) dengan USG dan distensibilitas dari dinding pembuluh darah.

Setelah dilakukan penyesuaian dalam hal usia anak,jenis kelamin, usia ibu, serta lama pemberian ASI menunjukkan bahwa anak dengan ibu yang merokok selama kehamilannya mempunyai kerusakan vaskuler yang lebih banyak jika dibandingkan dengan anak yang dilahirkan dari seorang ibu yang tidak merokok. Ketebalan CIMT sebesar 18,8 mm pada ibu perokok, dan dengan distensibilitas 21% lebih rendah. Sedangkan anak yang dilahirkan  oleh ibu yang tidak merokok tidak ada efek dalam hal CIMT dan distensibilitas pembuluh darah.

Dari studi ini menunjukkan bagaimana efek merokok selama kehamilan terhadap pembuluh darah anak yang terlihat pada saat masuk usia 5 tahun dan pencegahan merupakan tindakan yang spesifik dilakukan pada masa kehamilan.


Terapi Oksigen-Helium Bermanfaat untuk Bayi dengan Bronkiolitis


Bayi dengan bronkiolitis membaik dengan cepat setelah mendapat terapi helium-oksigen jika dibandingkan dengan yang mendapat hanya oksigen murni, hal ini menurut sebuah laporan dari hasil studi yang dilakukan oleh Dr. In K. Kim, dan kolega dari Kosair Children's Hospital, Louisville, Kentucky dan dipublikasikan dalam  Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine tahun 2011.

Peneliti memperkirakan bahwa helium-oksigen meningkatkan aliran gas melalui saluran udaran yang mempunyai resistensi tinggi. Dan peneliti dalam studi ini mempunyai tujuannya adalah untuk membandingkan efektivitas helium-oksigen oksigen vs oksigen saja pada bayi dengan bronchiolitis, yang mendapatkan nebulasi dan selanjutnya mendapatkan rasemat nebulasi epinefrin rasemat sebagai komponen terapi inhalasi berikutnya.

Penelitian ini melibatkan sebanyak 69 bayi usia 2 sampai 12 bulan dengan modifikasi Wood's Clinical Asthma Score (M-WCAS) sebesar 3 atau lebih. Setelah menerima nebulasi albuterol melalui oksigen 100%, pasien secara acak untuk mendapatkan rasemat epinefrin dikombinasikan dengan oksigen 100% atau helium 70% dan oksigen 30%, melalui botol aliran tinggi kanula nasal. Dosis kedua epinefrin diberikan setelah satu jam jika diperlukan, jika pasien melanjutkan terapi inhalasi dengan gas untuk studi mereka. Ukuran hasil utama adalah perubahan yang bermakna dari skor M-WCAS dari awal sampai 240 menit. Peneliti menemukan skor turun 1,84 poin pada kelompok helium-oksigen dibandingkan dengan hanya 0,31 untuk kelompok oksigen (p <0,001),
Pada kenyataannya, meskipun nilai rata-rata M-WCAS sedikit lebih tinggi pada kelompok helium-oksigen pada awal, itu secara bermakna lebih baik daripada pada kelompok oksigen pada semua titik waktu berikutnya. Dan peneliti menyampaikan bahwa penelitian ini menunjukkan kemaknaan peningkatan jangka pendek statistik dan klinis dari skor klinis antara sekelompok kecil pasien dengan bronkiolitis dibandingkan dengan kontrol.

Pengaruh Merokok Terhadap Peradangan Saluran Nafas Pasien Asma dan COPD


Asma dan COPD merupakan dua penyakit inflamasi kronik dari saluran nafas yang ditandai dengan keterbatasan bernafas. Sementara ada banyak kesamaan antara kedua penyakit tersebut, secara mereka patologis kedua berbeda karena keterlibatan sel-sel inflamasi yang berbeda, terutama neutrofil, limfosit CD8 pada PPOK dan eosinofil dan limfosit CD4 pada asma.

Merokok berhubungan dengan percepatan penurunan fungsi paru-paru, peningkatan mortalitas, dan memburuknya gejala pada penyakit asma dan PPOK. Selanjutnya, paparan asap rokok dapat mengubah mekanisme inflamasi pada asma dan menjadi serupa dengan yang terlihat pada COPD yaitu dengan meningkatkan sel CD8 dan neutrofil dan oleh karena itu dapat mengubah respon terhadap terapi. Hal ini seperti yang disampaikan dalam jurnal Respiratory Medicine yang terbit secara online pada Desember 2011.

Paparan asap rokok telah dikaitkan dengan penurunan respon dari kortikosteroid inhalasi yang direkomendasikan sebagai obat lini pertama anti-inflamasi pada asma dan sebagai terapi tambahan pada pasien dengan PPOK berat dengan sejarah eksaserbasi. Mekanisme utama yang diusulkan dalamhal penurunan respons ini diperkirakan karena adanya penurunan enzim deacetylase histon 2 (HDAC2), mekanisme lain yang mungkin berkontribusi termasuk overekspresi dari GR-β, aktivasi jalur MAPK p38 dan peningkatan produksi sitokin inflamasi seperti IL-2, 4, 8, TNF-α dan NF-KSS.

Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa modifikasi leukotrien mungkin sebagai alternatif terhadap kortikosteroid pada perokok dengan asma tetapi saat ini tidak ada obat yang secara efektif mengurangi peradangan pada perokok dengan PPOK. Namun, beberapa HDAC2 enhancer termasuk teofilin dosis rendah dan potensi anti-inflamasi terapi termasuk PDE4-inhibitor dan inhibitor MAPK p38 sedang dievaluasi.

Erosi Gigi dan Gejala Rongga Mulut Pasien GERD Berhubungan dengan Penurunan Aliran Saliva dan Gangguan Fungsi Menelan


GERD tidak hanya memberikan gejala-gejala yang berhubungan dengan lambung, tetapi juga yang berhubungan dengan rongga mulut. Studi terbaru menunjukkan bahwa gejala GERD yang terdapat dalam rongga mulut cenderung dikaitkan dengan volume aliran saliva atau fungsi gangguan menelan. Hal ini merupakan kesimpulan dari hasil studi yang dilakukan oleh Yoshikawa H, dan kolega dan telah dipublikasikan secara online dalam Journal of Gastroenterology bulan Desember 2011.

Studi tersebut melibatkan sebanyak 40 pasien GERD dan 30 (15 mudan dan 15 manula) sukarelawan sehat sebagai kontrol. Data lengkap mengenai kesehatan, diet, dan dan gigi secara rinci diperoleh untuk mengidentifikasi kebiasaan perilaku individu dan potensi berkaitan dengan erosi gigi. Pemeriksaan rongga mulut dilakukan untuk mengevaluasi erosi gigi dan nilai pembusukan gigi, gigi yang hilang, filled indeks (DMF), the papillary, marginal, attached (PMA) untuk indeks radang gusi, dan the Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S). Volume aliran saliva dan fungsi menelan dievaluasi masing-masing dengan the Saxon test and repetitive saliva swallowing test.

Indeks DMF dan Skor OHI-S berbeda secara signifikan antara semua 3 kelompok. Indeks PMA secara signifikan berbeda antara kelompok GERD dan dua kelompok kontrol. Prevalensi erosi gigi adalah 24,3% pada kelompok GERD (0% pada kelompok kontrol). Tidak ada hubungan spesifik yang ditemukan antara kejadian erosi gigi dan sejarah diet atau kebiasaan perilaku. Hasil tes Saxon secara signifikan lebih rendah pada kelompok GERD daripada kedua kelompok kontrol. Frekuensi menelan secara signifikan lebih rendah dan waktu untuk menelan pertama secara signifikan lebih lama pada kelompok GERD daripada di dua kelompok kontrol.

Gejala GERD yang terdapat dalam rongga mulut cenderung dikaitkan dengan volume aliran saliva atau fungsi gangguan menelan. Pengobatan untuk kekeringan mulut disebabkan oleh berkurangnya volume aliran saliva dan rehabilitasi untuk fungsi menelan dapat ditunjukkan pada pasien dengan GERD.


Konsumsi Daging Merah, Terkait Mutasi dan Peningkatan Risiko Karsinoma Sel Ginjal


Konsumsi daging merah yang berlebih mungkin akan meningkatkan risiko terjadinya kanker ginjal. Hal ini terungkap berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Dr. Carrie R Daniel dan kolega, dari the Division of Cancer Epidemiology and Genetics, National Cancer Institute, NIH, Department of Health and Human Services, Rockville, Washington DC, dan dipublikasikan secara online dalam American Journal of Clinical Nutrition bulan Januari 2012. Sebelumnya studi mengenari korelasi antara konsumsi daging dengan risiko kanker ginjal memberikan hasil yang tidak konsisten. Mutagenitas yang berhubungan dengan proses pemasakan, serta variasi subtipe kanker ginjal mungkin merupakan hal yang penting yang berpengaruh.

Studi yang dilakukan Dr. Carrie merupakan studi kohort dalam skala yang besar, yang bersifat prospektif dengan melibatkan sebanyak 492.186 responden yang komplet mengikuti studi tersebut termasuk dalam hal data-data penilaian diet dikaitkan dengan database kadar heme besi, heterocyclic amines (HCA), polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), nitrate, and nitrite dalam daging dimasak dan diproses. Lebih dari rata-rata 9 tahun dilakukan tindak lanjut, dan teridentifikasi sebanyak 1814 kasus renal cells carcinoma-RCC (498 clear cell dan 115 adenokarsinoma papiler). HR dan CI 95% diperkirakan dalam kuintil dengan menggunakan regresi multivariabel Cox proportional hazards.

Asupan daging merah [62,7 g (kuintil 5) dibandingkan dengan 9,8 g (kuintil 1) per 1000 kkal (median)] dikaitkan dengan kecenderungan peningkatan risiko RCC [HR: 1,19; CI 95%: 1,01-1,40; P-trend = 0,06] dan risiko 2 kali lipat dari RCC papiler [P-trend = 0,002]. Asupan benzo (a) pyrene (BAP), penanda PAH, dan 2-amino-1-metil-6-fenil-imidazo [4,5-b] piridin (PhIP), sebuah HCA, dikaitkan dengan peningkatan yang bermakna 20-30% risiko RCC dan 2 kali lipat dari risiko RCC papiler. Tidak ada asosiasi yang diamati untuk subtipe clear cells.

Dari studi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa, konsumsi daging merah mungkin akan meningkatkan risiko RCC (kanker sel ginjal), dengan mekanisme terkait dengan senyawa BaP dan PhIp saat memasak. Dan korelasi ini lebih kuat untuk varian langka yaitu histologik papiler. (ktw)

Allopurinol Menurunkan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi


Pemberian allopurinol pada pasien-pasien yang baru terdiagnosis mengidap hipertensi dan belum mendapatkan terapi anti-hipertensi ternyata efektif menurunkan tekanan darah. Temuan ini terungkap lewat penelitian yang dilakukan oleh dr. Daniel I. Feig dan rekan dari Department of Pediatrics, Renal Section, Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat. Hasil penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association.

Para ahli berpendapat bahwa hipertensi pada umumnya disertai dengan hiperurisemia, dan hiperurisemia memainkan peranan yang penting pada patofisiologi terjadinya hipertensi. Hiperurisemia merupakan salah satu prediktor terjadinya hipertensi dan umum terjadi pada pasien-pasien yang baru terdiagnosis mengidap hipertensi esensial (new-onset essential hypertension). Pada penelitian hewan coba, peningkatan asam urat yang terjadi akibat pemberian penghambat urikase menyebabkan peningkatan tekanan darah sistemik. Untuk itu, dilakukan penelitian untuk mengetahui apakah penurunan asam urat disertai dengan penurunan tekanan darah pada pasien dewasa dengan hiperurisemia dan hipertensi yang baru terdiagnosis.

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian acak, tersamar ganda, dengan kontrol plasebo, silang, antara bulan September 2004 - Maret 2007, melibatkan 30 pasien remaja berusia 11-17 tahun, yang baru terdiagnosis mengidap hipertensi esensial tingkat I, belum mendapat terapi anti-hipertensi apa pun, serta memiliki kadar asam urat serum ≥6 mg/dL. Para subjek penelitian diterapi di Pediatric Hypertension Clinic at Texas Children’s Hospital di Houston, Texas, Amerika Serikat. Metode eksklusi berlaku bagi pasien yang menyandang hipertensi grade II atau dengan penyakit ginjal, kardiovaskular, gastrointestinal, hati, atau endokrin. Pasien dalam penelitian ini diterapi dengan allopurinol 200 mg dua kali sehari selama 4 minggu dan plasebo dua kali sehari selama 4 minggu berikutnya, dengan periode washout 2 minggu antar-terapi. Outcome primernya adalah perubahan tekanan darah saat diperiksa di klinik dan perubahan tekanan ambulatorik (pemeriksaan tekanan darah 24-jam).

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perubahan TDS (tekanan darah sistolik) dan TDD (tekanan darah diastolik) lebih besar dengan terapi allopurinol dibandingkan dengan terapi plasebo.
Tabel 1. Perbandingan efek terapi allopurinol dengan plasebo terhadap tekanan darah.


Allopurinol
Plasebo
Nilai p (*)
Perubahan rata-rata TDS hasil pemeriksaan di klinik (mm Hg), 95%CI
-6,9 (−4,5 - −9,3)
-2,0 (0,3 - −4,3)
=0,009
Perubahan rata-rata TDD hasil pemeriksaan di klinik (mm Hg), 95%CI
-5,1 (−2,5 - −7,8)
-2,4 (0,2 - −4,1)
=0,05
Perubahan rata-rata TDS ambulatorik 24 jam (mm Hg), 95%CI
-6,3 (−3,8 - −8,9)
0,8 (3,4 - −2,9)
=0,001
Perubahan rata-rata TDD ambulatorik 24 jam (mm Hg), 95%CI
−4,6 (−2,4 - −6,8)
−0,3 (2,3 - −2,1)
=0,004
(*)=allopurinol vs plasebo
Para ahli penelitian juga menyampaikan bahwa 20 dari 30 peserta penelitian mencapai tekanan darah normal dengan terapi allopurinol, baik untuk tekanan darah hasil pemeriksaan di klinik maupun tekanan darah ambulatorik. Sementara itu, hanya 1 pasien mencapai tekanan darah normal dengan terapi plasebo (p <0,001).

Simpulannya, pada pasien yang baru terdiagnosis mengidap hipertensi grade I, terapi dengan allopurinol menghasilkan penurunan tekanan darah. Hasil penelitian ini memperlihatkan pendekatan terapi potensial baru untuk hipertensi meskipun kemungkinan efek samping tetap menjadi salah satu pertimbangan utama. Penelitian dengan skala lebih besar dan durasi lebih lama perlu dilakukan untuk mengonfirmasi temuan ini. (YYA)
           
Reference:
1. Hyperuricemia in primary and renal hypertension. N Engl J Med. 1966;275(9):457-64.
2. Effect of Allopurinol on Blood Pressure of Adolescents With Newly Diagnosed Essential Hypertension A Randomized Trial. JAMA. 2008;300(8):924-32.
3. Allopurinol improves endothelial function in sleep apnoea: a randomised controlled study. Eur Respir J 2006;27:997–1002.
4. Serum uric acid in essential hypertension: An indicator of renal vascular involvement. Ann Intern Med. 1980;93(6):817-21.


Sumber: http://adf.ly/5Kgnv

Ibuprofen Sebanding atau Lebih Baik dari Acetaminopen


Sebuah penelitian dilakukan untuk mengevaluasi efek dan keamanan analgesik dan anti-piretik ibuprofen dibandingkan dengan asetaminofen pada pasien anak-anak dan dewasa telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet tahun 2011.

Dalam studi tersebut, pencarian data-data yang diperlukkan dilakukan dengan menggunakan PubMed/MEDLINE (sepanjang  August 2009) and EMBASE (sepanjang Januari 2008), dan pencarian dibatasi dengan data-data dalam bahasa Inggris saja. Dalam PubMed/ MEDLINE, pencarian kata yang digunakan adalah ibuprofen, acetaminophen, paracetamol, penelitian klinik dan penelitian acak terkontrol. Artikel yang dipilih hanya artikel yang secara langsung membandingkan ibuprofen dengan acetaminophen.

Setelah dilakukan pengumpulan data, ditemukan 85 penelitian yang berhubungan dengan tujuan analisa; 54 data mengenai efikasi analgetik, 35 data mengenai efikasi anti-piretik/ penurunan suhu, dan 66 data mengenai kemanan obat (beberapa artikel menunjukkan beragam data). Analisa kualitatif yang dilakukan memperlihatkan bahwa pada umumnya ibuprofen lebih efektif dibandingakan dengan acetaminophen sebagai terapi untuk nyeri dan demam baik pada populasi anak maupun dewasa. Selain itu analisa yang dilakukan memperlihatkan bahwa kedua obat tersebut aman.

Hasil kualitatif nyeri dan demam yang terhitung adalah untuk pasien dewasa (standardized mean difference [SMD] 0,69; 95% CI 0,57 hingga 0,81) dan pada anak-anak (SMD 0,28; 95% CI 0,10 hingga 0,46) untuk nyeri 2 jam pasca-pemberian dan untuk demam pada anak-anak (SMD 0,26; 95% CI 0,10 hingga 0,41) 4 jam pasca-pemberian. Kesimpulan mengenai penurunan suhu/ demam pada pasien dewasa tidak dapat dilakukan karena kurangnya data. Kejadian efek samping antara ibuprofen dengan paracetamol tidak berbeda secara bermakna, baik pada pasien dewasa (1,12; 95% CI 1,00 hingga 1,25), maupun pada pasien anak (0,82; 95% CI 0,60 hingga 1,12).
Kesimpulan dari pada ahli adalah bahwa ibuprofen sama/ lebih efektif dibandingkan dengan asetaminofen sebagai terapi untuk nyeri dan demam pada pasien dewasa maupun anak-anak. Ibuprofen seaman acetaminophen dalam analisa yang dilakukan.


Sumber: http://adf.ly/5Kgq2

Suplementasi Asam Folat dan Vitamin B12 Mencegah Penurunan Fungsi Kognitif pada Usia Lanjut


Suplementasi kombinasi asam folat dan vitamin B12 bermanfaat untuk mencegah penurunan fungsi kognitif pada lanjut usia, hal ini merupakan hasil studi yang dilakukan oleh para peneliti di Australia yakni Dr. Walker dan kolega yang dipublikasi dalam jurnalAmerican Journal of Clinical Nutrition edisi Januari 2012 ini.
Adapun latar belakang dari studi ini adalah belum jelasnya manfaat  asam folat dan vitamin B12 efektif dalam menurunkan gejala depresi. Dan dalam penelitian ini bertujuan tentunya untuk menilai manfaat suplementasi asam folat dan vitamin B12 oral untuk mencegah penurunan fungsi kognitif pada kohort komunitas orang lanjut usia dalam panti yang secara psikologis dapat meningkatkan gangguan stress.

Desain penelitian secara randomisasi dengan kontrol  atau RCT secara lengkap mengunakan desain faktorial menyilang  2 × 2 × 2 yang membandingkan pemberian harian asam folat secara oral dengan dosis 400 mikrogram + 100 mikrogram vitamin B-12 dibandingkan dengan plasebo, peningkatan aktifitas fisik dan gejala depresi yang dibandingkan dengan kontrol intervensi dalam menurunkan gejala depresi yang dikumpulkan pada 900 orang dewasa yang berusia antara 60 - 74 tahun yang secara psikologis mengalami distress ( pengukuran Kessler Distress 10–Scale; scores >15). Intervensi selama 2 tahun dikirimkan dalam 10 modul melalui surat dengan dilakukan treking melalui wawancara telepon.

Pengukuran hasil utama diperiksa dengan perubahan dari fungsi kognitif pada 12 dan  24 bulan menggunakan wawancara telepon untuk tes Cognitive Status–Modified (TICS-M), suatu tes untuk sejumlah faktor termasuk beberapa pengukuran memori, serta test terhadap kognitif pada dewasa dengan wawancara telepon ( kecepatan proses); kuesioner pelapor (the Informant Questionnaire ) pada penurunan kognitif bagi orang lanjut usia diberikan selama 24 bulan. 

Hasil penelitian menunjukkan pemberian asam folat + vitamin B12 meningkatkan skor total TICS-M total (P = 0,032; effect size d = 0,17), TICS-M immediate (P = 0,046; d = 0,15), dan TICS-M delayed recall (P = 0,013; effect size d = 0,18) dalam 24 bulan dibandingkan dengan plasebo.  Tidak ada perubahan bermakna yang terbukti pada orientasi, atensi, memori semantik, kecepatan proses , atau laporan dari pelapor.

Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi jangka panjang dengan  pemberian harian 400 mcg asam folat  + 100 mcg vitamin B12 dapat mempromosi / peningkatan dalam fungsi kognitif sesudah 24 bulan, terutama sekali dalam tampilan memori baik secara cepat maupun lambat. 

Anak yang Dilahirkan Secara Caesar, Meningkat Risiko Terjadi Asma


Studi terbaru mendukung penemuan sebelumnya, yang menyebutkan bahwa anak yang dilahirkan dengan operasi caesar akan meningkat risiko untuk terjadi asma. Temuan ini yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology. Data dariNorwegian Mother and Child Cohort Study (MoBa)menunjukkan bahwa anak-anak yang dilahirkan melalui operasi caesar memiliki peningkatan risiko asma pada usia 3 tahun. Hal ini terutama terlihat di antara anak-anak tanpa kecenderungan turun-temurun untuk asma dan alergi.

Data dari sebanyak 37.000 pastisipan dalam studi MOBa digunakan sebagai data untuk studi mempelajari hubungan antara metode persalinan dan perkembangan infeksi saluran pernapasan bagian bawah, mengi, dan asma dalam 3 tahun pertama kehidupannya. Anak lahir dengan direncanakan atau secara darurat dengan operasi caesar dibandingkan dengan mereka yang lahir pervaginam.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan melalui operasi caesar memiliki resiko sedikit lebih tinggi untuk asma pada usia 3 tahun, tetapi tidak memiliki peningkatan risiko infeksi saluran pernafasan bawah saluran atau mengi. Peningkatan risiko asma pada anak yang dilahirkan melalui operasi caesar lebih tinggi di antara anak-anak dari ibu tanpa alergi.

Anak-anak yang dilahirkan melalui operasi caesar mungkin memiliki peningkatan risiko asma disebabkan oleh flora bakteri pada usus berubah dan mempengaruhi pengembangan sistem kekebalan tubuh mereka, atau karena anak-anak dilahirkan dengan cara ini sering memiliki peningkatan risiko masalah pernapasan serius selama minggu-minggu pertama kehidupan.

Suplementasi Vitamin D3 Oral Memperbaiki Fungsi Tungkai Bawah


Kekurangan vitamin D telah dilaporkan pada pasien dengan gejala osteoarthritis  (OA), dan  pemberian suplemen vitamin D3 membantu dalam menghilangkan rasa nyeri pada keadaan tersebut. Suplementasi Hydroxy vitamin D3 dibandingkan dengan vitamin D3, sebagaimana studi penelitian yang dilakukan oleh Dr. Ferrari dan koleganya di Zurich-Swiss, terhadap wanita pasca menopause ternyata menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan dalam hal meningkatkan efek kekuatan lutut serta tekanan darah dan respon imun, dan hal ini dipublikasi dalam Jurnal of Bone and Mineral Research edisi Oktober 2011.

Adapun sasaran studi penelitian dalam membandingkan efek 25(OH)D(3) / (Hydroxy vitamin D) dibandingkan vitamin D(3) terhadap level 25-hydroxyvitamin D atau (25(OH)D) dalam serum, fungsi ekstremitas bawah, tekanan darah dan petanda/ marker sistem imun bawaan. Studi dilakukan pada  20 wanita sehat pasca menopause dengan rerata level 25(OH)D adalah 13,2 ng/ml (SD=±3,9) dan rerata usia adalah 61,5 tahun (SD ±7,2) yang secara acak menerima  20 µg HyD atau 20µg (800 IU) vitamin D(3) perhari. Diperiksa dalam 14 kunjungan selama 4 bulan, terhadap level 25(OH)D dalam serum, tekanan darah, dan 7 petanda sistem imun bawaan yakni eotaxin, IL-8, IL-12, IP-10, MCP-1, MIP-1β, RANTES. Pada awal (baseline) dan pada 4 bulan kemudian, dilakukan tes untuk fungsi ekstremitas bawah (kekuatan ekstensor dan flexor lutut, timed up and go, duduk dan berdiri yang diulang-ulang) dilakukan suatu pemeriksaan atau assesment.  Seluruh analisa disesuaikan dengan pengukuran awal, usia dan BMI (body mass index).

Hasil studi menunjukkan rerata level 25(OH)D meningkat hingga 69,5 ng/mL pada kelompok hidroksi vitamin D (HyD). Peningkatan ini secara segera dan berkembang. Rerata level 25(OH)D meningkat hingga 31 ng/mL dengan peningkatan lambat pada kelompok vitamin D3. Wanita dengan yang diberikan hidroksi vitamin D dibandingkan vitamin D(3) mempunyai peningkatan  2,8 x pada odds pemeliharaan atau peningkatan fungsi ekstremitas bawah  (OR= 2,79; 95% CI: 1,18-6,58), dan penurunan sebesar 5,7 mmHg pada tekanan darah sistolik (p=0,0002). Kedua tipe vitamin D berkontribusi terhadap respon pada penurunan 5 dari 7 petanda imunitas bawaan yang cukup bermakna pada  HyD untuk eotaxin, IL-12, MCP-1 dan MIP-1 β. Tidak terdapat kasus hiperkalsemia pada setiap kurun waktu tersebut.

Kesimpulan studi dengan 20µg hidroksi vitamin D (HyD) perhari relatif aman, peningkatan segera dan berkembang pada level 25(OH)D dalam serum pada seluruh peserta, yang mana memberikan keuntungan terhadap fungsi ekstremitas bawah, tekanan darah sistemik, dan respon imun bawaan dibandingkan dengan vitamin D(3).



Sumber: http://adf.ly/5KgxI

Hipertensi pada Kehamilan Meningkatkan Risiko Gangguan Mental pada Anak yang Dilahirkan pada Usia Dewasa


Gangguan hipertensi dapat mempengaruhi lingkungan perkembangan janin dan dengan demikian menjadi petunjuk pada mekanisme penyulit pranatal dengan gangguan mental di kemudian hari. Studi terbaru menunjukkan adanya korelasi antara hipertensi tanpa proteinuria dan preeclampsia dalam kehamilan dengan prediksi gangguan mental yang serius pada keturunannya, dan jika seks, masa status sosial ekonomi, panjang usia kehamilan dan paritas dimodifikasi. Studi yang dilakukan The Helsinki Birth Cohort Study ini dipublikasikan secara online dalam Journal of Psychiatric Research bulan Desember 2011.

Dalam studi tersebut, peneliti melibatkan sebanyak 5970 wanita dan laki-laki lahir pada kehamilan normotensi, atau  kehamilan dengan hipertensi dan preeklamsi yang didefinisikan dengan menggunakan tekanan darah ibu dan pengukuran protein urin di klinik bersalin dan rumah sakit. Gangguan mental yang memerlukan rawat inap atau menyebabkan kematian diidentifikasi dari the Finnish Hospital Discharge and Causes of Death Registers antara tahun 1969 dan 2004.

Dibandingkan dengan anak yang lahir pada kehamilan normotensif, anak lahir setelah kehamilan dengan komplikasi hipertensi tanpa proteinuria masing-masing mempunyai 1,19 kali lipat (CI: 1,01-1,41, P-value = 0,04) risiko yang lebih tinggi dari setiap gangguan mental dan 1,44-(CI: 1.11-1,88, nilai-P <0,01) dan 1,39 kali lipat (CI: 0,99-1,93, P-value = 0,05) ebih berisiko terhadap gangguan mood dan kecemasan. Sebaliknya, preeklamsia dikaitkan, dengan risiko yang lebih rendah dari setiap gangguan mental pada anak laki-laki (P-value = 0,02, P-value = 0,04 untuk interaksi 'seks × normotension/ preeklampsia').

Dari studi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa hipertensi tanpa proteinuria pada kehamilan dikaitkan dengan risiko meningkatnya  gangguan mental yang serius pada anak di masa dewasa. Preeklampsia tampaknya, berhubungan dengan resiko lebih rendah dari gangguan mental yang berat pada keturunan laki-laki.


Sumber: http://adf.ly/5Kgzi

JIM DACE (Jakarta Internal Medicine in Daily Practice) 2012


Dalam rangka perayaan ulang tahun yang ke-54, PAPDI JAYA mengadakan JIM DACE - Jakarta Internal Medicine in Daily Practice- dengan tema:"Improving Primary Care in Internal Medicine". Acara yang dikemas dengan berbagai kegiatan ilmiah ini ditujukan untuk meningkatkan kompetensi sejawat dokter di bidang penyakit dalam khususnya membahas kasus-kasus yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan tingkat pertama.
Program JIM DACE ini meliputi: kegiatan meet the expert (pro contra), plenary lecture, symposium (interactive case) dan workshop. Kegiatan direncakan akan dilaksanakan pada tanggal: 18 - 20 Mei 2012 bertempat di Hotel Borobudur Jakarta.

Untuk lebih jelas dapat menghubungi:
Sekretariat PAPDI JAYA 
ICB BUmiputera Building, Ground Floor
Phone: 021-2301267
Fax  : 021-2301267
E-mail: papdijaya@gmail.com
Website: www.papdijaya.org


Sumber: http://adf.ly/5Kh2D

Indeks Masa Tubuh dan Risiko BPH (Benign Prostate Hypertrophy)


Studi epidemiologis telah melaporkan hasil yang inkonsisten terkait obesitas pada BPH. Namun sebuah meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa indeks masa tubuh berkaitan dengan risiko BPH. Meta-analisis yang dilakukan oleh Wang dan kolega ini dipublikasikan dalam jurnal Prostate Cancer and Prostatic Diseases bulan Desember 2011.

Dalam studi ini penelitian-penelitian yang memenuhi syarat dilakukan dengan pencarian website komputer dan review referensi, dan selanjutnya data yang ada dianalisis dan disarikan dengan model acak untuk mendapatkan perkiraan risiko. Meta-analisis dilakukan untuk studi yang melaporkan perkiraan kategori risiko untuk serangkaian tingkat pemaparan.

Sebanyak 19 studi memenuhi kriteria inklusi dari meta-analisis. Hubungan positif dengan indeks massa tubuh (BMI) terlihat pada BPH dan gejala saluran kemih bagian bawah (LUT-lower urinary tract) kelompok gabungan (rasio odds = 1,27, CI 95% 1,05-1,53). Dalam analisis subkelompok, BMI menampilkan hubungan dosis-respons positif dengan BPH/ LUT dalam studi kasus kontrol berbasis populasi dan hubungan positif marjinal diamati antara risiko BPH dan peningkatan BMI. Namun, tidak ada hubungan antara BPH/LUT dan BMI diamati dalam subkelompok lainnya dikelompokkan berdasarkan desain penelitian, wilayah geografis atau hasil primer.

Berdasarkan hasil meta-analisis tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa secara keseluruhan dari literatur yang ada menunjukkan bahwa BMI dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH. Upaya-upaya lebih lanjut harus dilakukan untuk mengkonfirmasi temuan ini dan mengklarifikasi mekanisme biologis yang mendasari.


Sumber: http://adf.ly/5Kh5G

Suplementasi Vitamin C dan E Meningkatkan Angka Eradiksi Helicobacter pylori


Eradikasi Helicobacter pylori saat ini sebagai standar terapinya ada penggunaan "triple therapy" dengan antibiotik ditambahkan dengan antisekresi. Dari studi terbaru menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C dan E mampu memberikan efek meningkatkan respon terapi dalam eradikasi Helicobacter pylori yang ditambahkan pada terapi standar. Hal ini berdasarkan studi yang dilakukan oleh Sezikli dan kolega yang dipublikasikan dalam jurnal Clinic and Research in Hepatology and Gastroenterology bulan November 2011 ini.

Studi ini melibatkan sebanyak 120 pasien yang datang ke klinik rawat jalan gastroenterologi dengan dispepsia nonulcer dan H. pylori positif dengan kapasitas antioksidan total yang rendah. Pasien dalam kelompok A (n=80) diberikan lansoprazole (30mg, BID), amoksisilin (1000mg, BID), dan klaritromisin (500mg, BID) selama 14 hari, serta vitamin C (500mg, BID) dan vitamin E (200 IU, BID) selama 30 hari. Pasien dalam kelompok B (n=40) diberikan lansoprazole (30mg, BID), amoksisilin (1000mg, BID), dan klaritromisin (500mg, BID) selama 14 hari.
Kapasitas antioksidan total lebih rendah dari tingkat normal pada semua pasien.

Seratus lima belas pasien (77 dalam kelompok A, 38 pada kelompok B) dianalisis dengan analisis per protokol. Dalam kelompok A, eradikasi H. pylori dicapai pada 63,8% dari pasien yang mendapatkan terapi dan 66,2% dari pasien dimasukkan dalam analisis per protokol. Pada kelompok B, eradikasi H. pylori dicapai sebesar 42,5% dari pasien yang mendapat pengobatan  dan 44,7% dari pasien dimasukkan dalam analisis per protokol. Tingkat eradikasi secara signifikan lebih tinggi pada kelompok A daripada di kelompok B (p <0,005).
Dari hasil studi tersebut kesimpulan peneliti disebutkan suplementasi vitamin C dan E meningkatkan angka eradikasi H. pylori dari standard triple therapy.