Senin, 04 Juni 2012

Sepsis, Meropenem Tunggal Sebanding dengan Kombinasi Meropenem-Moxifloxacin

Studi terbaru menunjukkan kombinasi meropenem dan moxifloxacin tidak lebih baik dibanding dengan monoterapi meropenem untuk pasien dengan sepsis derajat berat. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association tahun 2012. Terapi antimikroba yang tepat dan segera menghasilkan angka kematian yang lebih rendah terkait sepsis derajat berat. Perananan terapi empiris dengan mengombinasikan 2 antibiotik dengan mekanisme yang berbeda masih bersifat kontroversial.

Sebuah studi paralel, terbuka, acak pada 600 pasien dengan sepsis derajat berat atau syok septik membandingkan pemberian meropenem (n=298) vs meropenem + movifloxacin (n=302). Uji klinik ini dilakukan pada 41 ICU di Jerman mulai dari Oktober 200 7 – Maret 20120. Jumlah pasien yang dievaluasi sebanyak 273 pada kelompok monoterapi dan 278 pada kelompok kombinasi. Meropenem IV (1 g setiap 8 jam) diberikan sebagai agan tunggal atau dikombinasikan dengan moxifloxacin (400 mg setiap 24 jam) selama 7 – 14 hari atau sampai pasien keluar dari ICU atau meninggal (mana yang tercapai lebih dahulu).

Dari 551 pasien yang dievaluasi, tidak terdapat perbedaan rata-rata skor SOFA (sequential organ failure assessment: 0-24 poin, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan kegagalan organ yang lebih berat) selama 14 hari yang bermakna pada kelompok meropenem (8,3 poin; 95% CI, 7,8-8,8 poin) dibandingkan dengan kelompok meropenem + moxifloxacin (7,9 poin; 95% CI, 7,5-8,4 point) (P=0,36). Selain itu, tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal mortalitas, pada hari ke-28, terdapat 66 kematian pada kelompok kombinasi (23,9%; 95% CI, 19,0%-29,4%) dibanding 59 kematian pada kelompok meropenem (21,9%; 95% CI, 17,1%-27,4%) (P=0,58). Pada hari ke-90, terdapat 96 kematian (35,3%; 95% CI, 29,6%-41,3%) dibandingkan 84 kematian (32,1%; 95% CI, 26,5%-38,1%) (P=0,43) pada kelompok monoterapi. Bahkan terdapat insidens efek samping yang lebih banyak pada kelompok kombinasi (n=26; 8,6% [95% CI, 5,7%-12,3%]) dibanding dengan kelompok monoterapi (n=11; 3,8% [95% CI, 1,2%-6,6%]; P=0,02).

Berdasarkan studi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa, pada pasien dengan sepsis berat, pemberian kombinasi meropenem dengan moxifloxacin dibanding monoterapi meropenem tidak memberikan hasil yang lebih baik dalam hal kegagalan organ.(AGN)

Referensi:
Brunkhorst FM, Oppert M, Marx G, Bloos F, Ludewig K, Ptensen C, et al. Effect of empirical treatment with moxifloxacin and meropenem vs meropenem on sepsis-related organ dysfunction in patients with severe sepsis: A randomized trial. JAMA. 2012;


0 komentar:

Poskan Komentar