This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 06 Juni 2012

Penambahan Zinc pada Terapi Antibiotik Menurunkan Angka Kegagalan Pengobatan

Infeksi bakterial yang serius merupakan salah satu penyebab utama kematian pada bayi awal kelahirannya. Intervensi yang tidak mahal dan dapat dijangkau meningkatkan efek dari pengobatan antibiotik standar dan dapat menurunkan angka kematian pada bayi. Studi terbaru menunjukkan suplementasi zinc pada terapi dengan antibiotik akan menurunkan angka kegagalan terapi pada bayi usia 7-120 hari dengan infeksi bakterial yang serius, hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Prof. Shinjini Bhatnagar PhD dan kolega yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet tahun 2012 ini.
 
Studi tersebut dilakukan dengan disain acak tersamar ganda, plasebo-kontrol, dan melibatkan bayi dengan rentang usia 7-120 hari yang diperkirakan terkena infeksi serius pada tiga rumah sakit di New Dehli India antara 6 Juli 2005 sampai 3 Desember 2008. Dengan acak permutasi blok 6, subyek dikelompokkan menjadi kelompok yang berat badan di bawah standar, atau yang sedang diare untuk mendapatkan masing-masing 10 mg zinc atau plasebo secara oral setiap hari sebagai tambahan pada terapi antibiotik yang sudah diberikan.Parameter penilaian utama adalah seberapa besar angka kegagalan terapi yang didefinisikan dengan seberapa besar perlu mengubah antibiotik dalam waktu 7 hari,  atau kebutuhan untuk perawatan intensif, atau besar kematian yang terjadi  dalam waktu 21 hari. Peserta dan peneliti sama-sama tidak mengetahui jenis dan alokasi pengobatan. Semua analisa dilakukan dengan intention-to-treat.

Dari sebanyak 352 bayi yang diacak untuk mendapatkan zinc dan sebanyak 348 bayi mendaptkan plasebo, hanya sebanyak 332 bayi dari kelompok zinc dan 323 plasbeo yang dapat dinilai untuk keberhasilan terapi. kegagalan terapi secara bermakna lebih rendah pada kelompok zinc 10% daripada kelompok plasebo sebesar 17%, dengan penurunan risiko relatif sebesar 40% (95% CI 10-60, p=0,0113), penurunan risiko absolut sebesar 6,8%  dengan 95 CI% 1,5-12,0, p=0,0111. Pengobatan 15 bayi dengan zinc akan mencegah kegagalan pengobatan sebesar satu pengobatan.  Kematian bayi pada kelompok zinc sebesar 10 dibandingkan dengan sebesar 17 pada kelompok plasebo (RR 0,57. 95% CI 0,27-1,23, p=0,15).

Berdasarkan hasil studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa zinc dapat diberikan sebagai terapi tambahan untuk menurunkan risiko kegagalan terapi pada bayi usia 7-120 hari dengan infeksi bakterial yang serius.

Referensi:  Shinjini Bhatnagar, Nitya Wadhwa MD, Prof Satinder Aneja MD, Rakesh Lodha MD , Prof Sushil Kumar Kabra MD, Uma Chandra Mouli Natchu MD,et al. Zinc as adjunct treatment in infants aged between 7 and 120 days with probable serious bacterial infection: a randomised, double-blind, placebo-controlled trial. The Lancet 2012;379(9831): 2072 - 2078.

Sumber:  http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1613/Penambahan-Zinc-pada-Terapi-Antibiotik-Menurunkan-Angka-Kegagalan-Pengobatan.aspx

Studi Awal, NAC (N-Acetylcysteine) Oral Bermanfaat untuk Autisme

 Ketidakseimbangan sistem eksitasi dan inhibisi  dengan kelainan dalam jalur glutamatergic diperkirakan berkontribusi terhadap patofisiologi autisme. Selain itu, ketidakseimbangan yang menahun dari proses  kronis  baru-baru ini juga terkait dengan gangguan ini, oleh karena itu penggunaan antioksidan diharapkan memberikan manfat untuk pasien-pasien ADHD ini. Dan studi terbaru menunjukkan bahwa  N asetilsistein-oral (NAC), sebuah modulator glutamatergic dan antioksidan memberikan manfaat untuk anak dengan gangguan autisme. Studi klinis skala kecil ini dilakukan oleh Dr. Antonio Hardan dan kolega dan telah dipublikasikan secara online dalam jurnal Biologycal Psychiatry Juni 2012. 
 
Penelitian NAC ini merupakan studi 12-minggu,  acak- tersamar ganda, terkontrol plasebo yang dilakukan  pada anak dengan gangguan autis. Subyek diacak untuk mendapatkan NAC dengan dosis  900 mg setiap hari selama 4 minggu, kemudian 900 mg dua kali sehari selama 4 minggu dan 900 mg tiga kali sehari selama 4 minggu. Parameter utama adalah  (Checklist Perilaku Menyimpang [ABC] iritabilitas subskala) dan penilaian keamanan  dilakukan pada awal, dan 4 8, dan 12 minggu. Parameter sekunder termasuk ABC stereotypy subscale, Repetitive Behavior Scale-Revised, and Social Responsiveness Scale.

Sebanyak tiga puluh tiga subyek (31 subyek laki-laki, 2 subyek perempuan; usia 3,2-10,7 tahun) secara acak dilibatkan dalam penelitian ini. Follow-up data tersedia pada 14 subjek pada kelompok NAC dan 15 pada kelompok plasebo. Pemberian NAC secara peroral secara umum ditoleransi dengan baik dan dengan efek samping terbatas. Dibandingkan dengan plasebo, NAC menghasilkan peningkatan signifikan pada iritabilitas ABC subskala (F = 6,80, p <.001, d = 0,96).
Data dari penelitian tersebut mendukung potensi dari NAC untuk penanganan iritabilitas anak dengan gangguan autis.  Penelitian dalam skala yang besar dan terkontrol diperlukan untuk memastikan manfaat ini.



Referensi: Biol Psychiatry. 2012;71:956-961

Sumber: http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1620/Studi-Awal-NAC-N-Acetylcysteine-Oral-Bermanfaat-untuk-Autisme.aspx

Tigecycline Sebanding dengan Kombinasi Ceftriaxone dan Metronidazole

Studi multisenter yang dipublikasikan di jurnal Clinical  Microbiology and  Infection pada tahun 2010 membandingkan tigecycline dengan ceftriaxone + metronidazole dalam hal efikasi klinis dan keamanan untuk perawatan pasien dengan cIAI (complicated intra abdominal infection). Dalam studi multisenter ini, tigecycline dibandingkan dengan ceftriaxone + metronidazole dalam hal efikasi klinis dan keamanan. Pada studi ini, 473 pasien cIAI secara acak diberikan tigecycline (dosis awal 100 mg diikuti 50 mg setiap 12 jam) atau ceftriaxone (2 g sekali sehari) + metronidazole (1-2 g/hari) selama 4–14 hari.
 
End point primer yang dinilai adalah tingkat kesembuhan klinis. Dari 473 pasien, 376 dapat dievaluasi secara klinis. Pada 376 pasien ini, tingkat kesembuhan klinis adalah 70,4% (133/189) pada kelompok tigecycline dibanding  74,3% (139/187) pada kelompok ceftriaxone + metronidazole (95% CI; - 13,1 – 5,1; p 0,009 untuk noninferioritas).  Tingkat kesembuhan klinis untuk subyek dengan skor Acute Physiological and Chronic Health Evaluation II = 10 adalah 56,8% pada kelompok tigecycline vs 58,3% pada kelompok ceftriaxone + metronidazole. Respons mikrobiologis serupa pada kedua kelompok perawatan, dengan eradikasi mikrobiologis dicapai pada 68,1% kelompok tigecycline dibanding 71,5% pada kelompok ceftriaxone + metronidazole. Efek samping yang paling banyak dilaporkan pada kedua kelompok perawatan adalah mual (tigecycline [38,6%] vs ceftriaxone/metronidazole [27,7%]) dan muntah  (tigecycline [23,3%] vs ceftriaxone/metronidazole [17,7%]). 8,9% pasien pada kelompok tigecycline menghentikan perawatan karena efek samping, dibanding 4,8% pada kelompok ceftriaxone + metronidazole.

Kesimpulan peneliti dalam studi ini tigecycline noninferior dibandingkan dengan ceftriaxone/metronidazole untuk pasien dengan cIAI.

Referensi:
Towfigh S, Pasternak J, Poirier A, Leister H, Babinchak T. A multicentre, open-label, randomized comparative study of tigecycline versus ceftriaxone sodium plus metronidazole for the treatment of hospitalized subjects with complicated intra-abdominal infections. Clin Microbiol Infect 2010;16: 1274–81.


Sumber: http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1622/Tigecycline-Sebanding-dengan-Kombinasi-Ceftriaxone-dan-Metronidazole.aspx

Penggunaan Dexmedetomidine pada Anak

Dexmedetomidine adalah golongan alpha-2-­adrenergic agonist yang poten, serta memiliki efek sedatif, analgesik, dan menghilangkan kecemasan tanpa menimbulkan depresi napas. Penggunaan dexmedetomidine dapat menurunkan penggunaan obat sedatif atau analgesik tradisional, serta menimbulkan rasa tenang, nyaman, dan kooperatif. Berdasarkan efektivitas yang baik pada dewasa, dexmedetomidine sekarang dipertimbangkan untuk dipergunakan pada pasien anak. 

Sebuah studi yang diikuti 120 pasien anak dengan usia 5-14 tahun yang akan menjalani tonsilektomi dengan anestesi inhalasi sevoflurane untuk menilai efektivitas dexmedetomidine pada anak. Secara acak pasien anak dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kontrol, kelompok konsentrasi dexmedetomidine rendah, dan kelompok konsetrasi dexmedetomidine tinggi dan menerima plasebo atau 0,5 μg/kgBB (loading dose) selama 10 menit dan dilanjutkan dengan infus pemeliharaan 0,2 μg/kgBB selama pembedahan atau 1 μg/kgBB (loading dose) selama 10 menit dan dilanjutkan dengan infus pemeliharaan 0,4 μg/kgBB selama pembedahan.

Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat kejadian emergence agitation lebih tinggi secara bermakna pada kelompok plasebo dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan konsentrasi dexmedetomidine tinggi ketika ekstubasi (p<0,05). Selain itu, terdapat perbedaan bermakna antara ketiga kelompok pada skor VAS ketika ekstubasi dan 5-10 menit setelah ekstubasi (p <0,05).

Simpulannya, dexmedetomidine aman dan efektif dalam menurunkan tingkat kejadian emergence agitation dini pada anak pascatonsilektomi dengan anestesi inhalasi sevoflurane. Dosis yang direkomendasikan adalah 1 μg/kgBB (loading dose) selama 10 menit dan dilanjutkan dengan infus pemeliharaan 0,4 μg/kgBB selama pembedahan. (MAJ)

Referensi:
  1. Reiter PD, Pietras M, Dobyns EL. Prolongad dexmedetomidine infusions in critically ill infants and children. Indian Pediatr. 2009;46:767-73.
  2. Meng QT, Xia ZY, Luo T, Wu Y, Tang LH, Zhao B, et al. Dexmedetomidine reduces emergence agitation after tonsillectomy in children by sevoflurane anesthesia: A case-control study. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2012; DOI: 10.1016.j.ijporl.2012.03.028.
Sumber: http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1621/Penggunaan-Dexmedetomidine-pada-Anak.aspx

Tata Laksana Hiperglikemia pada Pasien dengan Nutrisi Parenteral

Pemberian nutrisi parenteral seringkali digunakan sebagai life-saving. Sekitar 20-30% pasien dirumah sakit mengalami kondisi malnutrisi energi dan protein. Asupan nutrisi yang adekuat sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup sel dan fungsi organ, serta penyembuhan penyakit ataupun luka. Akan tetapi, meskipun digunakan sebagai life-saving, pemberian nutrisi parenteral dalam jangka panjang maupun pendek dapat memberikan beberapa komplikasi dan efek samping, seperti penyakit hati, sepsis yang berkaitan dengan kateter, syok septik, abnormalitas cairan dan elektrolit, dan terutama adalah hiperglikemia, khususnya pada nutrisi parenteral dengan kandungan glukosa. 

Meskipun pemberian nutrisi parenteral dengan kandungan glukosa dapat menyebabkan risiko terjadinya hiperglikemia, akan tetapi pemberian karbohidrat nutrisi parenteral dalam bentuk glukosa masih direkomendasikan, khususnya bagi pasien dengan penyakit pankreas akut. Hal ini disebabkan karena, glukosa mudah di dapat, mudah di monitor, dan juga lebih murah dibandingkan dengan jenis karbohidrat lainnya. Dengan tatalaksana dan kontrol gula darah yang tepat sebelum pemberian nutrisi parenteral, maka risiko hiperglikemia dapat di kontrol dan juga dihindari. Penanganan hiperglikemia yang umumnya digunakan adalah dengan pemberian insulin. Insulin dapat diberikan secara ­add-on ke dalam larutan parenteral nutrisi ataupun dapat diberikan secara terpisah (drip).

Kadar gula darah sewaktu harus diperhatikan dengan baik sebelum dimulai untuk diberikan nutrisi parenteral. Kadar gula darah sewaktu yang direkomendasikan adalah <180 mg/dL (<10 mmol/L) sebelum pasien tersebut dapat diberikan nutrisi parenteral yang mengandung glukosa. Begitu pula dengan kadar gula darah sewaktu pada 24 jam dan 48 jam setelah pemberian nutrisi parenteral yang mengandung glukosa.  Kadar gula darah sewaktu yang direkomendasikan adalah 140-180 mg/dL. Pada pasien dengan kadar gula darah >180 mg/dL setelah pemberian nutrisi parenteral ataupun sebelum harus mendapatkan terapi insulin untuk menurunkan kadar gula darah dan juga risiko morbiditas lainnya. Pada pasien diabetes tipe 1 dan 2, pemberian nutrisi parenteral glukosa harus diturunkan. Direkomendasikan pasien diabetes tipe 1 memulai dosis nutrisi parenteral glukosa dengan dosis 100 g glukosa/hari dan 150 g glukosa/hari pada pasien diabetes tipe 2 dan menjaga kadar gula darah <180 mg/dL.

Pemberian insulin pada pasien non-diabetes direkomendasikan untuk diberikan dengan dosis 1 unit/20 g karbohidrat dan untuk pasien dengan diabetes dengan dosis 1 unit/10 g karbohidrat + 0,15 unit/kgBB/hari jika CBG (capillary blood glucose) mencapai <200 mg/dL (11,1 mmol/L) dan 1 unit/5 g karbohidrat + 0,25 unit/kgBB/hari jika CBG mencapai >200 mg/dL. Insulin dapat diberikan dengan cara 2/3 insulin diberikan secara add-on atau bersamaan dengan nutrisi parenteral dan 1/3 menggunakan long-actin insulin. Keadaan hipoglikemi dapat terjadi jika CBG <80 mg/dL. Maksimal dosis insulin yang diberikan bersamaan dengan nutrisi parenteral (add-on) adalah 60 unit/L. Jika pasien tersebut masih memerlukan insulin, maka add-on insulin di dalam nutrisi parenteral harus dihentikan dan diberikan insulin secara drip

Sebagai simpulan, dengan tatalaksana dan pengawasan gula darah secara tepat, maka hiperglikemia dan juga risiko morbiditas dan mortalitas oleh keadaan tersebut dapat turunkan dan di kontrol dengan baik. Pemberian nutrisi parenteral sangat penting, khususnya pada pasien yang tidak dapat menerima nutrisi enteral dan memiliki gangguan fungsi saluran cerna. Asupan nutrisi yang tidak adekuat dapat meningkatkan risiko hipoglikemi yang memiliki risiko mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi dibandingkan dengan hiperglikemia yang dapat di kontrol dengan baik. (MAJ)

Referensi:
  1. Kumar PR, Crotty P, Raman M. Hyperglycemia in hospitalized patients receiving parenteral nutrition is associated with increased morbidity and mortality: A review. Gastroenterol Res Pract. 2011;2011:1-7.
  2. Cheung NW, Napier B, Zaccaria C, Fletcher JP. Hyperglycemia is associated with adverse outcomes in patients receiving total parenteral nutrition. Diabetes Care 2005;28:2367-71.
  3. Gianotti L, Meier R, Lobo DN, Bassi C, Dejong CHC, Ockenga J, et al. ESPEN guidelines on parenteral nutrition: Pancreas. Clin Nutr. 2009;28:428-35.
  4. Mirtallo JM. Should insulin be added to parenteral nutrition. Proceedings of the 33rd ESPEN Congress; 2011 September 3-6; Gothenburg, Sweden.
  5. Soetedjo NNM. Hyperglycemia in parenteral nutrition: Can we avoid and how long should we decrease the blood glucose level?. Paper presented at: Simposium Endokrinologi Klinik Bandung IX; 2012 May 26-27; Bandung, Indonesia
Sumber: http://www.kalbemedical.org/News/tabid/229/id/1623/Tata-Laksana-Hiperglikemia-pada-Pasien-dengan-Nutrisi-Parenteral.aspx

Senin, 04 Juni 2012

Better Blood Pressure Control With Antihypertensive Drug Combo


Among elderly hypertensive patients in Japan, adding a calcium channel blocker (CCB) to an angiotensin II receptor blocker (ARB) provided better blood pressure control than a doubled dose of the ARB.
Dr. Shokei Kim-Mitsuyama from Kumamoto University Graduate School of Medical Sciences told Reuters Health by email, "We think that ARB plus CCB combination therapy is suitable for antihypertensive treatment in elderly hypertensive patients with previous cardiovascular disease" -- whereas for some diabetics, high dose ARBs will be enough to control hypertension.
Dr. Kim-Mitsuyama and colleagues in the OSCAR study group randomly assigned 1,164 elderly Japanese patients with cardiovascular disease or type 2 diabetes to receive either olmesartan 40 mg or olmesartan 20 mg plus amlodipine or azelnidipine.
At 36 months, mean systolic and diastolic blood pressures were lower by 2.4 mm Hg (p=0.03) and 1.7 mm Hg (p=0.02), respectively, in the combination therapy group, the research team reported online April 14 in The American Journal of Medicine.
Also, significantly more patients in combination group achieved the target blood pressure of <140/90 mm Hg (p=0.003).
There were fewer primary end points in the ARB plus CCB group than in the high-dose ARB group, but the difference failed to achieve statistical significance overall.
However, in the prespecified subgroup analysis of patients with cardiovascular disease, the incidence of primary end points (fatal and non-fatal cardiovascular events and non-cardiovascular deaths) was 63% higher in the high-dose ARB group than in the ARB plus CCB group (p=0.03).
Therefore, the researchers note, the effect of treatment "might differ depending on whether patients have cardiovascular disease; this finding is not definitive but may be considered as hypothesis generating."
The number of serious adverse events did not differ between the two treatment groups, according to their report.
"We have ongoing several kinds of subgroup analysis according to eGFR, sex, age, etc.," Dr. Kim-Mitsuyama said. "We hope that further subanalysis will provide new insight into ARB-based antihypertensive therapy."
Am J Med 2012.

BP Overtreatment for Diabetics May Be as Common as Undertreatment at VA


The efforts by the Veterans Administration (VA) to ensure that all hypertensive diabetic patients receive appropriate blood-pressure medication has been so successful that many patients may be "overtreated," results of a new study show [1].
The study by Dr Eve Kerr (Department of Veterans Affairs, Ann Arbor Healthcare System, MI) and colleagues, published online May 28, 2012 in the Archives of Internal Medicine, shows that the VA has made impressive progress in reducing undertreatment of hypertension in diabetic patients at its hospitals. But it now "appears that in the VA, rates of potential overtreatment are currently approaching, and perhaps even exceeding, the rate of undertreatment and that high rates of achieving current performance measurement targets are directly associated with medication escalation that may increase risk for patients," the authors conclude.
Kerr et al retrospectively analyzed the care of hypertension in nearly a million established VA patients with diabetes at 879 VA hospitals and smaller outpatient clinics in 2009 and 2010. The measures taken to manage the hypertension in each patient was considered appropriate if the patient did not have high blood pressure (<140/90 mm Hg) during the index visit or if the patient's hypertension was treated appropriately with blood-pressure medication.
In the study, 82% of patients had a blood pressure <140/90 mm Hg and 12% of patients with a higher blood pressure were treated with appropriate clinical actions, according to Kerr et all, so 94% of patients "passed" the test of the study. However, pass rates varied among facilities from 77% to 99% (p<0.001). Among all of the patients with diabetes, 20% had blood pressure below 130/65 mm Hg, and therefore 8% of patients with diabetes were potentially overtreated, the study found. Facility rates of potential overtreatment varied from 3% to 20% (p<0.001), and the facilities with the highest rates of meeting the threshold target of <140/90 mm Hg had higher rates of potential overtreatment (p<0.001).
According to the authors, recent improvements in treatment of diabetic patients have been partially driven by performance measures focused on specific risk-factor thresholds. "Yet, the evidence does not fully support the 'treat-to-target' approach implied in current performance measures," Kerr et al argue. "While there is no doubt that appropriate management of hypertension among patients with diabetes is of critical importance, our data suggest that the VA and other high-performing health systems may have reached the point when threshold measures for BP control have the potential to do more harm than good," Kerr et al explain.
"Most randomized controlled trials provide causal evidence for the benefit of treatment (eg, a BP medication or statin) and not a particular threshold risk-factor level achieved in the intervention group," Kerr et al. explain. "Consequently, such measures can promote overtreatment and diastolic hypotension, which has been shown in multiple studies to be associated with worse cardiovascular outcomes."
Instead of these dichotomous thresholds, the study authors favor "tightly linked" clinical action measures strongly tied to the evidence. The VA is now instituting new clinical action measures for hypertension management that capture the complexity of clinical decisions, credit the facility for delivering the right evidence-based treatment even if a specific risk-factor threshold is not achieved, and reduce the potential for overtreatment and unintended consequences accounting for other patient-specific factors.
In an accompanying editorial [2], Dr Eileen Handberg (University of Florida, Gainesville) argues that Kerr et al's definition of "overtreatment" is based on their critique of current hypertension management research and not guidelines that were available to the VA clinicians evaluated by the study. "With no guidance as to a lower threshold other than epidemiological (for BP) and other risk-factor (for LDL-cholesterol) data that 'lower is better,' one could argue that lower BPs were an indicator of better care, not 'overtreatment,' " Handberg argues. The study presents no evidence that these "overtreated" patients were at increased risk, so "a blanket statement that 10% of the VA population may be overtreated creates a negative impression of care that might not be true."
Nevertheless, Handberg agrees that "reporting of performance measures is important, and the development of tightly linked clinical measures as those by Kerr et al are an important step forward in evaluating the complexities of management for hypertension and serve as a model for other measures."
Neither the authors nor the editorialist have any financial disclosures.