This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 22 Januari 2012

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim


Kanker leher rahim merupakan kanker dengan peringkat nomor dua di Indonesia setelah kanker payudara (Sistem Informasi Rumah Sakit, 2008), namun merupakan kanker pembunuh nomor satu untuk wanita  Indonesia. Hal ini cukup memprihatinkan karena sebetulnya kanker ini dapat dicegah
dengan berbagai cara. Edukasi yang tepat diperlukan untuk menurunkan kejadian kanker leher rahim. Tulisan ini akan mengulas berbagai metode pencegahan kanker leher rahim.

Pencegahan kanker leher rahim:
1. Perilaku seksual yang sehat. Setia pada satu pasangan seksual dapat mengurangi risiko infeksi HPV (human papilloma virus). Pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa infeksi HPV ditularkan secara
seksual. Dengan perilaku seksual yang beragam saat ini, bukannya tidak mungkin dapat terjadi penularan dengan cara lain. Namun, hal ini tentu masih perlu diteliti lebih lanjut.
2. Vaksinasi HPV. Cara ini merupakan pencegahan primer kanker leher rahim. Vaksin yang beredar di Indonesia bersifat protektif terhadap 2 subtipe HPV risiko tinggi, yaitu HPV 16 dan 18. Subtipe HPV 16 dan 18 merupakan penyebab 70% kasus 2 kanker leher rahim. Mengingat vaksin hanya dapat memberikan perlindungan 70%, dengan divaksin bukan berarti seorang wanita “bebas tugas” dari pemeriksaan rutin sitologi. Hal ini diperkuat oleh berbagai panduan (guideline) yang menyatakan bahwa wanita yang sudah divaksin harus tetap menjalani pemeriksaan rutin tanpa kecuali, sama seperti
3,4 mereka yang belum divaksin. Karena itu, pemeriksaan yang bertujuan untuk deteksi dini menjadi hal yang penting.
3. Deteksi dini. Pemeriksaan yang ditujukan untuk deteksi dini, seperti IVA, pap smear, liquid based cytology, dan HPV DNA, merupakan pencegahan sekunder kanker leher rahim. Deteksi dini dipandang
penting; apabila kelainan terdeteksi lebih awal (apalagi pada tahap lesi pra-kanker), dan ditangani dengan baik, perburukan penyakit dapat dicegah. Deteksi dini yang ideal mencakup pemeriksaan sitologi (abnormalitas sel) dan deteksi infeksi HPV (dengan tes HPV DNA) karena akan meningkatkan
sensitivitas maupun spesifisitas pemeriksaan hingga mendekati 5 100%. Karakteristik pemeriksaan sitologi adalah sensitivitas yang relatif rendah tapi spesifisitas tinggi. Sebaliknya, pemeriksaan HPV DNA mempunyai sensitivitas yang tinggi tapi spesifisitas rendah.
Dengan demikian, bila dilakukan bersamaan, sensitivitas menjadi 100% dan 5 spesifisitas 92,5%. Karena itu, berbagai panduan merekomendasikan setiap wanita di atas 30 tahun untuk menjalani
pemeriksaan sitologi sekaligus deteksi infeksi HPV, dan setelah dianalisis, metode 6 ini terbilang cost-effective. Alasan lainnya adalah karena di atas 30 tahun imunitas seseorang mulai menurun. Bahkan,
berbagai panduan mengatakan bahwa apabila hasil pemeriksaan sitologi negatif dan infeksi HPV terperiksa negatif, wanita bersangkutan perlu menjalani tes ulang tidak lebih cepat dari 3 tahun kemudian. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa infeksi HPV subtipe risiko tinggi yang persisten rata-rata baru menimbulkan 7 abnormalitas sel setelah minimal 5 tahun.

Pemeriksaan Sitologi
Untuk pemeriksaan sitologi, pemerintah dan praktisi kebidanan dan kandungan membuat kebijakan penapisan (screening) mulai dari yang paling sederhana, yaitu dengan IVA (inspeksi visual dengan asam asetat). IVA dianjurkan dilakukan setiap kali dokter atau bidan membuka liang vagina. Pemeriksaan ini sangat sederhana dan murah sehingga 8 bisa dilakukan di Puskesmas. IVA disukai
karena sangat murah tapi penilaian hanya bersifat makroskopik dengan mata biasa.
Pap smear memiliki sensitivitas yang lebih baik karena penilaian sel dilakukan di bawah mikroskop. Sensitivitas pap smear sangat dipengaruhi oleh cara pengambilan sediaan oleh praktisi dan kemampuan menilai sediaan oleh ahli patologi. Beberapa literatur menunjukkan bahwa kemampuan pap smear dalam mendeteksi HSIL (high-grade squamous intraepithelial lesion) lebih rendah daripada sitologi berbasis cairan, dan hasil tidak memuaskan lebih tinggi daripada 9-11 sitologi berbasis cairan. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan pap smear, yaitu sel yang diperoleh tidak semuanya tersapu di atas kaca objek sehingga tidak semuanya dapat dinilai. Selain itu, lendir, darah, dan sel radang dapat mengganggu penilaian di bawah mikroskop. Karena itu, sekarang dikembangkan metode sitologi
berbasis cairan, yaitu sediaan yang diambil dimasukkan ke dalam cairan pengawet sehingga semua sel ikut dinilai, kemudian diproses sedemikian rupa sehingga sel-sel yang dinilai tersebut tersaji dengan rapi. Di samping itu, lendir dan darah tidak mengganggu pandangan karena sudah disingkirkan.

Pemeriksaan Infeksi HPV
Infeksi HPV merupakan penyebab kanker leher rahim. Ada sekitar lebih dari 100 subtipe HPV namun yang ditularkan secara seksual sekitar 40 subtipe dan yang dianggap ganas (risiko tinggi) sekitar 15
subtipe (16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 12 59, 68, 73, dan 82). HPV subtipe risiko tinggi
ditemukan pada 99% kanker leher rahim.
Infeksi HPV tidak bergejala dan dapat hilang dengan sendirinya dengan imunitas yang baik selayaknya infeksi virus lainnya. Namun, apabila infeksi HPV subtipe risiko tinggi ini persisten, dapat menyebabkan perubahan sel yang abnormal dan bila tidak ditangani 13 dapat berkembang menjadi kanker.
Subtipe HPV terbanyak pada berbagai populasi berbeda-beda. Penelitian oleh International Agency for Research on Cancer Multicenter Cervical Cancer Study Group menyebutkan subtipe HPV terbanyak pada pasien kanker leher rahim secara berurutan 12 adalah 16, 18, 45, 31, 33, 52, 58, dan 35. Di
Indonesia, subtipe terbanyak pada populasi umum (melibatkan 3 kota dengan n=2686) berturut-turut adalah 52, 16, 18, 39, 51, 45.14 Sementara itu, pada populasi pasien kanker leher rahim di Indonesia (n=74), subtipe 15 terbanyak adalah 16, 18, 52, dan 45.

Saat ini ada 2 macam pemeriksaan HPV DNA, yaitu
1. HPV DNA: Hanya untuk mengetahui ada tidaknya infeksi HPV subtipe risiko tinggi,
dan
2. HPV DNA Genotyping: Dapat mengetahui hingga ke subtipe HPV.

Beberapa artikel review menyatakan bahwa pemeriksaan HPV DNA (hingga penentuan
subtipe HPV) dipandang penting untuk 2 alasan:
1. Mengetahui persistensi. Faktor yang menyebabkan perubahan sel ke arah keganasan
adalah persistensi virus. Apabila seseorang terinfeksi oleh subtipe yang sama 2 kali berturut-turut dengan jeda 1 tahun, diistilahkan sebagai infeksi persisten.
Namun, apabila terinfeksi oleh subtipe yang berbeda walaupun sama-sama subtipe risiko tinggi, dikenal sebagai infeksi sesaat (transient infection).
2. Karena infeksi oleh subtipe 16 dan 18 merupakan 70% penyebab kanker leher rahim, berbagai artikel mengusulkan pembedaan tata laksana untuk kedua subtipe tersebut. Bila ditemukan subtipe
16 atau 18, tanpa memandang ada tidaknya abnormalitas pada pemeriksaan sitologi, tata laksananya berupa kolposkopi.
Namun, bila ditemukan subtipe risiko tinggi lainnya (bukan subtipe 16 atau 18), tata laksana bergantung pada kelainan sitologi.
Apabila ditemukan HSIL pada pemeriksaan sitologi, tata laksananya berupa kolposkopi. Apabila kelainan sitologinya adalah LSIL (low-grade squamous intraepithelial lesion) atau lebih rendah,
pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sitologi dan HPV setahun kemudian. Apabila ditemukan subtipe yang sama (infeksi persisten), tata 13 laksananya berupa kolposkopi.

Simpulan
Program vaksinasi HPV harus didukung dengan program penapisan (screening) untuk deteksi dini dalam rangka menurunkan kejadian kanker leher rahim di Indonesia. Deteksi dini yang ideal adalah pemeriksaan sitologi berbasis cairan sekaligus HPV DNA genotyping.


DAFTAR PUSTAKA


Sabtu, 21 Januari 2012

Atlas Of Hematology

Bagi mahasiswa kedokteran atau mahasiswa analis kesehatan bisa belajar tentang gambaran hematologi dari situs ini http://adf.ly/5KdeN, gratis.
Selain gambaran normal, gambaran abnormal juga diperlihatkan antaralain: anemia, leukemia, parasit, jamur dan lain-lain
Adapun situs lainnya yang layak untuk dicoba:
http://adf.ly/5Kdia
http://adf.ly/5Kdib
http://adf.ly/5Kdic



    Medical Calculator

    Dalam dunia kedokteran diperlukan berbagai hitungan, dari menghitung dosis obat sampai menentukan skor suatu kasus. Ternyata diinternet tersedia situs-situs keren untuk menghitung skor-skor tersebut:

    1. http://adf.ly/5Kdqe
    Seperti terlihat pada screenshot diatas tersedia beberapa kategori:
    • General
    • Cardiology
    • Drug/ Pharm
    • Fluid/ Electrolytes
    • Obstetrics
    • Pediatric
    • Pulmonary/ Renal
    2. http://adf.ly/5KdtF
    Yang ini tidak kalah keren, dibagi per spesialis dan menunya juga lebih banyak

    3. http://adf.ly/5Kdvj




      Untuk situs lainnya silahkan googling dengan kata kunci medical calculator

      Semoga bermanfaat

      MyRemisal Ver.1, Sistem Informasi Rekam Data Medik Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak


      Download: http://adf.ly/5Kdzp

      Software ini merupakan karya anak bangsa Indonesia yang diperuntukan untuk rumah sakit ibu dan anak. 
      Aplikasi Client Server, Terdapat fasilitas eksport data ke word, Xml, pdf, rtf, ODT, SQl dll. Transaksi Registrasi Pasien bisa menggunakan Barcode(Kartu Periksa menggunakan Barcode).  Untuk sementara baru tersedia versi windows, untuk versi linux nanti menyusul, untuk login pakai user 1, password 1, setelah login silahkan ganti passwordnya

      Cara Instalasi: 
      1. Ekstrak file hasil downloadan tadi, sehingga menghasilkan folder Khanza Hms
      2. Masuk ke folder tersebut, jalankan Khanza HMS.exe

      Pilih English > OK

      Next
      Jika di sistem belum terinstall java virtual machine, maka kita harus nginstall dulu



      Next

      Proses instalasi berlangsung

      Instalasi Java Virtual Machine selesai


      Instalasi MyRemisal
       Next
      Install



      Instalasi WAMP5 Server, Next

      Pilih I accept, Next

      Next

      Next

      Next

       Install

       Proses instalasi berlangsung

      Yes

      Pilih Lauch WAMP5 now, finish

      Proses instalasi selesai, pilih Run Khanza HMS 2011 untuk menjalankan program secara langsung

      Buka phpmyadmin
      Buat database dengan nama sik
      Import file sik.sql

      Jalankan software khanza HMS dari start menu
      Klik login
      Username: 1
      Password 1



      Setelah masuk kita disuguhi menu-menu, silahkan di atur sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya saya akan mencoba mereview software ini apakah sesuai dengan kebutuhan.
      Kalau pasien ke rumah sakit sebelum berobat tentunya mereka harus daftar dulu ke pendaftaran, kita lihat menu pendaftaran yang disediakan oleh software ini, pilih menu Pasien > Pasien Umum


      •  No. rekam medis langsung otomatis diberikan oleh sistem, bisa juga kita ketik manual
      • Tanggal lahir kita harus memulih dari menu drop down, seharusnya kita juga bisa mengetik manual dengan format tgl/bln/tahun, sehingga agak merepotkan juga kalau ternyata pasiennya sudah tua, selain itu juga kadang-kadang ada pasien yang lupa tanggal lahirnya, mungkin bisa disediakan kolom untuk umur, jadi biarkan software yang mengestimasi sendiri tanggal lahir pasiennya
      • Pada menu pencarian pasien di kolom Key Word kita bisa mencari pasien berdasarkan nama, no rekam medis ataupun no identitas
      Setelah daftar pasien menuju ke poli yang dituju misal disini kita ke poli penyakit dalam

      Sumber: http://adf.ly/5Ke2w

      CMS 3X (Clinic Management System): Software Rekam Medis Gratis Dan Powerfull

      Bagi dokter atau klinik yang membutuhkan software buat rekam medis yang gratis dan powerfull bisa pake software CMS 3X (Clinic Management System). CMS 3X ini di kembangkan oleh Mobigator technology Hongkong dengan lisensi opensource, sehingga kita bisa memakai dan merubah kode sumbernya. 
      Beberapa tangkapan layarnya:




      Software ini berjalan di Linux dan Windows, saya sudah ngetes di sistem Ubuntu 10.04 dan Ubuntu terbaru 11.10, bagi anda yang tertarik silahkan download di http://adf.ly/5Ke70

      Selamat mencoba !!!


      Kamis, 19 Januari 2012

      Vitamin D Dosis Tinggi Gagal Mengurangi Eksaserbasi PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik)

      Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) exacerbations and secondary COPD outcomes showed no improvement with high-dose vitamin D, according to a small, single-center randomized trial — the first such trial of vitamin D and COPD. However, the study probably will not put the concept to rest that vitamin D merits further scientific study for patients with moderate to severe COPD. The trial was published in the January 17 issue of the Annals of Internal Medicine.
      "Particularly for COPD, the vitamin D pathway is an attractive target for intervention studies because vitamin D deficiency may enhance chronic airway and systemic inflammation, reduce bacterial clearance, and increase the risk for infectious exacerbations at the same time," write lead author An Lehouk, PhD, from the Department of Medical Sciences, University Hospitals Leuven, Belgium, and colleagues.
      There was no significant improvement in several exacerbation outcomes, including time to the first exacerbation (the primary outcome), time to the second exacerbation, annual rate of exacerbations, and median time to first hospitalization for an exacerbation.
      The investigators randomly assigned 182 patients who had moderate to severe COPD, all of whom were current or former smokers who were older than 50 years, to monthly supplementation with 100,000 IU of vitamin D or placebo. In the intention-to-treat analysis, vitamin D yielded no benefit in survival, dyspnea, emotional, mastery, fatigue scores, Chronic Respiratory Questionnaire scores, or forced expiratory volume in 1 second.
      "Vitamin D supplementation resulted in a steep and significant increase in serum25-(OH)D levels that remained stable during the study (52 ng/mL [SD, 16]) (mean between-group difference, 30 ng/mL [(confidence interval [CI]), 27 to 33 ng/mL]; P < .001)," the authors write.
      A post hoc subgroup analysis of patients with the most severe vitamin D deficiency showed that the rate of exacerbations per patient year declined by 43% (rate ratio, 0.57; CI, 0.33 - 0.98; = .042). Hypercalciuria occurred in a small number of patients, but it was transient.
      The authors suggest that it may be difficult to disentangle a benefit for vitamin D because patients often were getting maximum inhalation therapy. Further, they point out that high-dose vitamin D may be more valuable earlier in the disease course, "consistent with the idea that such milder stages are also more sensitive to disease modification." Further, they contend that the post hoc analysis, although only hypothesis-generating, raises the importance of looking more closely at patients with COPD who have the most severe levels of vitamin D deficiency.
      In an accompanying editorial, Diane R. Gold, MD, MPH, and JoAnn E. Manson, MD, DrPH, from the Division of Preventive Medicine at Harvard Medical School in Boston, Massachusetts, urge larger and longer-term trials. "Variability in the physiology, immunology, and genetics underpinning the final common pathway of chronic airflow obstruction and risk for exacerbation is likely to modify the pulmonary responses to vitamin D supplementation in patients with COPD."
      "Such trials should probably study daily dosing," they conclude. They also call attention to randomized trials of vitamin D only ramping up recently, noting that daily vitamin D will be tested rigorously in 2 National Institutes of Health trials.
      Several of the authors disclosed grant support, writing assistance, consultancies, board membership, advisory board membership, payment for lectures, travel and meeting expenses, owning patents, and receiving royalties from Altana, AstraZeneca, Boerhinger Ingelheim, Dompé, GSK, Hybrigenix, Laboratoires SMB, Lilly, Novartis, Nycomed, and/or Pfizer.The editorialists have disclosed no relevant financial relationships.
      Ann Intern Med. 2012;156:105-114, 156-157. Article full textEditorial extract

      Diet Kaya Kalium, Menurunkan Risiko Stroke


      Orang yang banyak mengkonsumsi buah dengan kadar kalium tinggi, sayuran dan produk susu akan berkurang kemungkinannya untuk menderita stroke dibanding mereka mengkonsumsi sedikit, hal ini ditunjukkan dari hasil sebuah studi terbaru yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Stroke yang berdasarkan dari analisis 10 studi internasional dan melibatkan lebih dari 200.000 subyek dewasa dan usia paruh baya. Sebaliknya, risiko stroke akan berkurang seiring dengan peningkatan asupan kalium. Untuk setiap kenaikan 1.000 mg kalium sehari, kemungkinan menderita stroke dalam lima sampai 14 tahun ke depan menurun 11%.

      Dalam studi tersebut, secara keseluruhan, 8.695 orang (sekitar satu dari 30) menderita stroke. Namun penurunan risiko stroke terlihat dengan setiap kenaikan 1.000 mg kalium harian setelah disesuaikan untuk faktor seperti usia, kebiasaan olahraga dan merokok. Kalium secara khusus dikaitkan dengan penurunan risiko stroke iskemik, tetapi tidak untuk risiko stroke hemoragik. Ini tidak jelas mengapa hal ini terjadi.

      Jika kalium melindungi hanya terhadap stroke iskemik, hal inimenunjukkan bahwa ada hal lain yang lebih baik daripada kontrol tekanan darah. Temuan ini sejalan dengan studi baru-baru ini oleh the U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang melibatkan lebih dari 12.000 orang dewasa selama 15 tahun. Dalam penelitian tersebut, peneliti menemukan bahwa orang yang mengkonsumsi natrium tinggi dan sedikit asupan kalium lebih mungkin untuk meninggal dengan apapun penyebab selama masa studi.