This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 28 Oktober 2011

Low Back Pain

Yuliana
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

Pendahuluan
Dalam dunia modern saat ini, tuntutan pekerjaan dapat menimbulkan tekanan fisik dan psikis pada seseorang. Hal ini memperbesar risiko pekerjaan atau terkena penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan jabatannya. Untuk mendukung daya saing produksi, penggunaan alat-alat modern, bahan-bahan berbahaya, zat kimia beracun dalam proses produksi serta tuntutan pekerjaan yang tinggi sering tidak dapat dihindari.1 Prevalensi nyeri muskuloskeletal, termasuk back pain, telah dideskripsikan sebagai sebuah epidemik. Keluhan nyeri biasanya self limiting, tetapi jika menjadi kronik, konsekuensinya serius. Hal ini akhirnya menyebabkan turunnya produktivitas orang yang mengalami back pain.2 Banyak penyebab nyeri muskuloskeletal telah diidentifikasi. Faktor-faktor psikologis dan sosial berperan besar dalam eksaserbasi nyeri dengan mempengaruhi persepsi nyeri dan perkembangan disabilitas kronik. Pemahaman baru ini telah membimbing kita ke arah model biopsikososial dari low back pain.2

Rabu, 19 Oktober 2011

[Anastesi] Keseimbangan Asam Basa


Keseimbangan Asam Basa (KAB)
  • Dilihat dari konsentrasi H+ cairan tubuh
  • Parameter fisiologis terpenting.
  • Berpengaruh terhadap semua enzym dan proses biokimia.

Mekanisme Pengatur
  1. Mekanisme Dapar (penyangga)
  2. Mekanisme Pernafasan
  3. Mekanisme Ginjal

Pengertian
    1. Asam
  • Senyawa kimia atau molekul yang memberi/melepas ion hidrogen (H+).
  • Donor H+ / Donor proton
  • Exp: (Asam clorid) HCL H+ + Cl
(asam karbonat) H2CO3 H+ + HCO3
    1. Basa
  • Senyawa kimia, ion, atau molekul yang menerima H+.
  • Akseptor Proton
  • Exp: NaOH Na+ + OH(ion hidroksil)
(ion bikarbonat) HCO3 + H+ H2CO3
  1. Dapar larutan kimia Asam lemah
Garam dari asam tersebut
  1. Asidosis
  • H+ Darah > Normal, atau pH < normal
  • Kehilangan basa, kelebihan asam.
  1. Asidosis Metabolik
  • Peningkatan asam organik ataupun anorganik
  • Penurunan fraksi karbinat
  • PCO2 tak berubah (kompensasi)
  1. Asidosis Respiratorik
  • Peningkatan berlebih CO2
  1. Alkalosis
  • H+ Darah < Normal, atau pH > Normal
  • Kelebihan Basa (HCO3) kompensasi –
  1. Alkalosis Metabolik
  • Basa meningkat
  • Asam menurun
  • Kenaikan fraksi bicarbonat
  1. Alkalosis Respiratorik
  • Penurunan Asam bikarbonat
  • Hiperventilasi

Standar Bicarbonat (HCO3)
  • Kadar HCO3 Plasma PCO2 40 mmHg, t 37O, O2 penuh
  • SBC  Asidosis Metabolik
  • SBC  Alkalosis metabolik
  • ABC > SBC Asidosis Respirasi
  • ABC < SBC Alkalosis Respirasi
  • ABC ~ SBC nilai rendah Asidosis Metabolik Kompensasi (-)
  • ABC ~ SBC nilai tinggi Alkalosis Metabolik Kompensasi (-)

Base Ekses Defisit
Jumlah Asam kuat dalam MEQ perliter yang perlu dititrasikan dalam darah pH 7,40 pada PCO2 40 mmHg, t 37O.

Mekanisme Pengatur
  1. Mekanisme Dapar (penyangga)
  2. Mekanisme Pernafasan
  3. Mekanisme Ginjal

Mekanisme Dapar Kimia
    1. Sistem Dapar bikarbonat – Asam Karbonat
Asam ………. HCl + NaHCO3 H2CO3 + NaCl
H2CO3 H2O + CO2
Basa………… NaOH H2CO3 NaHCO3 + H2O

pH = pK + Log HCO3/ H2CO3 = 6,1 + Log 27/1,35 = 6,1 + 1,3 = &,4

    1. Sistem Dapar Fosfat
NaOH + NaH2 PO4 Na2HPO4 + H2O
    1. Sistem Dapar Protein
    2. Sistem Dapar Hemoglobin

Mekanisme Pernafasan
      • Konsentrasi CO2 CES diatur.
      • Kecepatan metabolisme < Kecepatan Pengeluaran H2CO3 Darah   PCO2 Alveoli Rangsang Pusat Nafas Hiperventilasi PCO2 .

Mekanisme Ginjal
  • Filtrasi + Reabsorbsi ion Bikarbonat – Glomerolus
  • Pengeluaran Asam Pengasaman garam dapar fosfat Sekresi NH4+

Angka Normal
  • pH = 7,35 – 7,45
  • PCO2 = 35 – 45 mmHg
  • PO2 = 80 – 100 mmHg
  • BE = - 2,5 – + 2,5 mEq/liter
  • Bicarbonat = 22 – 26 mEq/liter
  • TCO2 = 24 – 31 mEq/liter
    JENIS GANGGUAN KAB
    1. Asidosis Metabolik.
      • Karena kekurangan basa dan atau akumulasi kelebihan asam.
      • Terapi :
        • Menghentikan gangguan metabolik Menujun Asidosis, Mengembalikan kehilangan elektrolit.
        • Menghilangkan vol. Sodium Bicarbonat
          BB x 0,2 x BE (mEq/Liter)

    1. Alkalosis Metabolik.
    • Kehilangan ion H lewat Renal atau pun Gastrointestinal.
    • Tambahan ion HCO3
      Pemberian NaHCO3
      Perubahan metabolik Sitrat, laktat, Asetat.
    • Terapi :
      - Pada renal insufisiensi NH4Cl, Crisin Hidroclorid.
      - HCl I.V. (250 mmal HCl/D5/Lt) 300 – 350 mmal/hari

    1. Asidosis Respirasi
    • Berkurangnya Volume. Semenit Penyakit SSP
    • Bagian mekanisme pernafasan Pneumotoraks
    • Penyakit paru akut kronis
    • Akumulasi CO2 Anesthesi rebreathing
    • Terapi : Perbaiki ventilasi

    1. Alkalosis Respirasi
    • Hipoksia karena anemia atau berada di tempat tinggi
    • Hiperventilasi mekanis ventilator
    • Ensefalitis
    • Ansietas
    • Gagal hati, Syok atau Sepsis
    • Terapi : Koreksi penyakit yang mendasari.


[Anastesi] Kelola Medik Intensif


PENDAHULUAN

PASIEN KRITIS : PASIEN YG. NYAWANYA DLM. ANCAMAN (life threatening)

DIPERLUKAN : PENYELAMATAN NYAWA / KEHIDUPAN (life saving)

TINDAKAN MEDIS : ABC DEF GHI (di tempat s/d ICU )

KONDISI KRITIS

Semua keadaan yang dapat mengakibatkan kematian dg segera
Contoh : hipoksia, shock, perubahan homeostasis milieu interna (asidosis-alkalo-sis, kelainan kadar elektrolit), keracunan, gagal fungsi organ (jantung, paru, ginjal, hepar, otak, sal. cerna )


TANDA – TANDA KRITIS

KESADARAN MENURUN (non fisiologis)
VITAL SIGN :
R : ABNORMAL – APNEU
N : BRADI/TAKIKARDIA- ARITMIA
T : HIPOTENSI / HIPERTENSI
t : HIPOTERMIA/HIPERTERMIA

TANDA – TANDA HIPOKSIA
KESADARAN MENURUN, PUCAT, SIANOTIK, pO2 < 50 mmHg


TANDA-TANDA SHOCK
KESADARAN MENURUN, PUCAT, HIPOTENSI, AKRAL DINGIN , TAKIKARDIA, URIN KURANG

GANGGUAN HOMEOSTASIS

ASIDOSIS, ALKALOSIS, HIPO/HIPER : K, Na, Cl, Ca, Mg, PO4, GLUKOSE, HIPERUREMIK, BENDA KETON, DLL.


KERACUNAN

OBAT OVER DOSIS BERBAGAI RACUN, MINUMAN KERAS DLL.


GAGAL FUNGSI ORGAN

(SATU ATAU MULTIPLE )


GAGAL OTAK : KESADARAN MENURUN (KOMA), TAK ADA NAFAS, TAK ADA REFLEKS SARAF KRANIAL


GAGAL JANTUNG : DEKOMP. KORDIS, SHOCK.

GAGAL PARU & GAGAL NAFAS
KESADARAN MENURUN, GANGGUAN PERNAFASAN, SIANOTIK, HIPOKSIA, HIPO/HIPERKARBIA

GAGAL HEPAR
ODEM ANASARKA, HIPOALBUMIN, IKTERIK, BERBAGAI GANGGUAN METABOLISME.


GAGAL SAL. CERNA
TAK ADA PASAGE, PENCERNAAN MAUPUN ABSORBSI MAKANAN

GAGAL GINJAL

URIN POLIURIA, OLIGURIA, ANURIA. ODEM ANASARKA, PERUBAHAN KADAR ELEKTROLIT, UREUM & KREATININ



MANAGEMEN PASIEN KRITIS

APAPUN PENYEBABNYA DAN PENYAKIT DASARNYA :

1. DI TEMPAT : BLS (BASIC LIFE SUPPORT) :
A : AIR WAY ( BEBASKAN JALAN NAFAS)
B : BREATHING (BANTU PERNAFAS-AN SHG. ADEKUAT)
C : CIRCULATION : BANTU SIRKULASI SHG PERFUSI KE JARINGAN TUBUH ADEKUAT (BILA DIPERLUKAN DG. S/D STEP D : DRUG & FLUID).
BILA STABIL, DITRANSPORT KE ICU UNTUK DILAKUKAN ADVANCE & PROLONG LIFE SUPPORT .

MANAGEMENT PASIEN DI ICU

DILAKUKAN LIFE SUPPORT (ABCDEFGHI)
DILAKUKAN DIAGNOSIS & TERAPI INTENSIF
PROTEKSI FUNGSI ORGAN INTENSIF
PENCEGAHAN KOMPLIKASI INTENSIF
PERAWATAN INTERNSIF, NUTRISI & FISIOTERAPI YANG ADEKUAT.


LIFE SUPPORT DI ICU

Dilakukan langkah-langkah A B C D E F G H I dengan alat/fasilitas maupun SDM yang diperlukan secara memadai (relatif ).
Treatment by monitor & dose titration by response
Monitor & treatment & tindakan lain dilakukan secara kontinyu.



DIAGNOSIS & TERAPI INTENSIF

DEFINITIFE DIAGNOSIS, PENYAKIT DASAR/KAUSAL DITEGAKKAN (Ax, Px, + Px PENUNJANG).
PERUBAHAN HOMEOSTASIS (DIAGNOSIS KLINIS) DITEGAKKAN
BERDASAR DX DEFINITIF & KLINIS DILAKUKAN TX & KOREKSI INTENSIF




PROTEKSI ORGAN & PENCEGAHAN KOMPLIKASI
ORGAN DILINDUNGI DARI SECONDARY INJURY
ORGAN DILINDUNGI DARI BERLANJUTNYA PROSES PENYAKIT DIFEINITIF
ORGAN DILINDUNGI IATROGENIC ACCIDENT & NOSOCOMIAL INF.

PERAWATAN, FISIOTERAPI, SUPPORT NUTRISI INTENSIF

PASCA KRITIS
Bila pasien sudah bebas dari critically ill, dilakukan kelola medik lazim menurut spesialisasi penyakit dasar (di bangsal).

Senin, 17 Oktober 2011

[Info Seminar] NATIONAL SEMINAR on ADDICTION MEDICINE


Drug addiction is currently a major problem both in Indonesia and other parts of the world. The estimation number of drug users in Indonesia, according to National Narcotics Board, is approximately 3 million. It is also observed that drug addiction could lead into other health problems, such as HIV/AIDS and mental disorder. Injecting behavior in heroin user lead into HIV infection. There are 8020 cases of AIDS infection among drug users based on 2009 data from Indonesian Ministry of Health. Drug use is classified as a mental disorder based on ICD 10 (International Classification of Disease) and PPDGJ III (Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III). Drug addiction is associated with other mental problems, specifically neurotic, depression, psychotic, and personality disorder.

For more information and to register, contact us directly fromFB event: http://www.facebook.com/event.php?eid=129056070503875 or 
Website: http://seminarnasional-fkuaj.com/

Jumat, 14 Oktober 2011

[Anastesi] EFEK-EFEK ADRENALIN (EPINEFRIN)


Adrenalin (Epinefrin) mempunyai efek meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi adrenoseptor - 1 jantung yang terjadi setelah pelepasan atau pemberian adrenalin (Epinefrin) berhubungan dengan kerja kronotropik positif dan inotropik positif atas jantung. Dengan demikian adrenalin (Epinefrin) juga mempunyai efek kronotropik positif (meningkatkan kecepatan denyut jantung) dan inotropik positif (memperkuat kontraksi myokardium) sehingga cardiac out put (curah jantung) meningkat. Adrenalin (Epinefrin) juga berefek pada timbulnya vasokontriksi karena stimulasi adrenoseptor- pada otot polos dinding pembuluh darah perifer. Kedua hal tersebut berakibat tekanan darah meningkat. Efek adrenalin (Epinefrin) terutama pada arteriola kecil dan sfingter prekapiler sehingga tahanan perifer meningkat.
Pada dosis kecil adrenalin (Epinefrin) juga mengaktivasi adrenoseptor - 2 pada otot polos dinding pembuluh darah dalam bundel otot lurik dan pembuluh koroner berakibat vasodilatasi pembuluh darah tersebut, akibatnya tahanan perifer total sebenarnya bisa turun, hal ini menjelaskan penurunan dalam tekanan diastolik yang kadang-kadang terlihat pada penyuntikan adrenalin (Epinefrin).
Dalam dosis besar terjadi dominasi aktivasi adrenoseptor - sehingga tahanan perifer meningkat, aktivasi adrenoseptor - 1 sehingga curah jantung juga naik. Kedua hal tersebut meningkatkan tekanan darah. Jika sebelum diberi adrenalin sudah lebih dahulu diberi obat penyekat adrenoseptor - maka adrenalin justru menurunkan tekanan darah.
Pada saluran nafas adrenalin (Epinefrin) mempunyai efek bronkodilatasi melalui stimulasi adrenoseptor - 2 pada otot polos bronkhus. Efek tersebut tampak jelas jika sebelumnya sudah ada bronkokonstriksi (misalnya pada serangan asma bronkial). Adrenalin (Epinefrin) yang mempunyai efek vasokonstriksi sehingga dapat mengurangi kongesti mukosa dan dapat memperkuat efek pelebaran saluran nafas.
Adrenalin (Epinefrin) merupakan senyawa endogen yang amat penting dalam pengaturan metabolisme, terutama metabolisme karbohidrat. Adrenalin meningkatkan glikogenolisis di hepar dan otot rangka, menghambat sekresi insulin melalui aktivasi adrenoseptor - (lebih dominan dibanding peningkatan sekresi insulin melalui aktivasi adrenoseptor - 2). Adrenalin (Epinefrin) juga memacu pemecahan lemak (lipolisis) melalui aktivasi adrenoseptor - 1 dan meningkatkan aktivitas lipase.
Adapun efek samping dari adrenalin (Epinefrin) adalah Disritmia ventrikel, angina pektoris, nyeri kepala, tremor, pengeluaran urine berkurang, ketakutan serta ansietas.

[Etika] Eutanasia


Eutanasia berasal dari bahasa Yunani
Eu : normal, baik, sehat, tanpa penderitaan.
Thanatos : mati
→ Mati secara baik (dan mudah) yang tanpa penderitaan
► “Dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang
pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek hidup atau
mengakhiri hidupseorang pasien, dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien itu
sendiri”
Secara Medis :
Membantu seseorang untuk meninggal dunia lebih cepat demi untuk
membebaskannya dari penderitaan akibat penyakit yang diderita.
Tugas utama dokter memuihkan kesehatan (menghambat kematian)
Eutanasia bertentangan dengan tugas profesi dokter
Sehingga timbul pertanyaan “mana yang lebih baik, pasien tersiksa oleh karena penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau mempercepat kematiannya?”
Kejam ????????
Dokter = Manusia, makhluk yang mempunyai “emosi” (afeksi, simpati, empati) terhadap penderitaan manusia lainnya)
Eutanasia merupakan dilema bagi para dokter, karena bertentangan dengan sumpah dokter
Seperti yang diungkapkan oleh Jan Hendrick van den berg.
“terasa kejam jika dokter sampai membunuh pasiennya, sungguh tidak wajar, tidak pula pantas, tetapai juga tidak wajar jika dokter sampai hati membiarkan pasiennya yang menderita, yang sudah lama keadaanya memburuk, yang dalam keadaan vegetatif yang lama, dan yang mungkin juga sudah mati, untuk tetap demikian. Ini tidak boleh dijadikan kebiasaan. Apapun juga merupakan kekejaman.”

Jawaban atas eutanasia sangatlah subyektif, sulit untuk ditetapkan tolak ukurnya, sehingga sangat sulit untuk mencapai titik sepakat tentang eutanasia ini.
Memperpanjang hidup pasien bukan berarti memperpanjang penderitaanya, ada saat timbul pikiran bahwa eutanasia mungkin pilihan yang “lebih baik” diantara alternatif yang semuanya “buruk.”
Pada tanggal 14 Juni 1990 koran NEW YORK TIMES memuat berita tentang seorang dokter jack kevorkian, yang dituduh membunuh atau ikut membantu bunuh diri seorang pasiennya yang menderita alzheimer (Ny. Janet adkins) dia datang kepada dokter untuk mengakhiri hidupnya karena sudah tidak sanggup lagi menghadapi penyakitnya.,
Hal ini menjadi perdebatan sengit 53% (dr hasil polling) setuju dengan sikap ny. Adkins

Hak Untuk Mati.
Karena sangat sulit untuk mencapai titik temu, kemudian timbul pendapat, mengapa tidak diserahkan saja kepada penderita dan keluarganya untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi mereka.
Seorang hakim cordozo berkata
“Setiap manusia dewasa dan mempunyai pikiran yang sehat mempunyai hak untuk menentukan apa yang akan atau boleh diperbuat atas dirinya.” Kemudian timbul pertanyaan lagi “Apakah benar saat itu ia dalam keadaan sehat pikirannya atau dalam tahap depresi ?”
Dari sisi Psikologi Eutanasia Salah.
Kubler Ross dan Aaron T beck yang keduanya adalah psikiater berpendapat bahwa disaat itulah seorang pasien sangat membutuhkan orang lain yang dapat mendengarkan isi hatinya dan memperhatikan dirinya.
Hampir semua agama didunia menolak adanya hak untuk mati.
Islam menjelaskannya dalam
QS. Annissa : 29
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya ALLAH SWT sangat penyayang terhadap kamu.
QS. Al-‘Araf : 185
Maka apabila ajal telah tiba, tidak dapat ia dipercepat atau diperlambat sesaat pun.
Hadits Qudtsi
Hambaku mendahului takdirku terhadapnya, maka kuharamkan baginya masuk surga.
Umat islam diwajibkan untuk berikhtiyar atau mengusahakan untuk menyembuhkan penyakitnya tesebut, karena sesuai dengan hadits nabi bahwa ALLAH SWT tidak menurunkan suatu penyakit, melainkan diturunkannya pula penyembuh baginya, yang diketahui oleh yang mengetahui dan tidak diketahui oleh yang tidak mengetahuinya.

Beberapa negara di “barat” menghormati hak pasien untuk menetapkan nasib dirinya (terutama pasien pada penyakit stadium terminal). Di Indonesia Hukum tampaknya tidak menerima untuk mati seperti yg tercermin dalam pasal 338, 340, 344, 345, 359 KUHP

Keadaan Vegetatif :
Keadaan seseorang berada dalam keadaan koma (tidak sadar) secara berkepanjangan, tetapi belum dapat dikategorikan sebagai telah mati, karena aktivitas elektrik diotaknya masih ada walupun minimal
Berdasarkan Cara Eutanasia dibagi :
Pasif dan Aktif
♥ Eutanasia aktif :
Dokter atau tenaga medis secara sengaja melakukan tindakan untuk memperpendek atau mengakhiri hidup pasien, baik atas permintaan pasien ataupun tidak atas permintaan pasien.
♫ Eutanasia aktif langsung :
memberi tablet sianida atau suntikan zat yang mematikan
♫ Eutanasia aktif tidak langsung :
mencabut oksigen atau alat bantu kehidupan lainnya.
♥ Eutanasia Pasif :
Dokter atau tenaga medis secara sengaja tidak lagi memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien, baik atas permintaan pasien ataupun tidak atas permintaan pasien.
♫ Auto eutanasia :
Pasien secara sadar menolak pertolongan medis yang dapat memperpanjang hidupnya, dan ia mengetahui sikapnya itu akan mengakhiri hidupnya Untuk itu pasien membuat pernyataan tertulis tangan (cocodicil)

Berdasarkan Inisiatif Eutanasia di bagi
♥ Eutanasia atas permintaan pasien
♥ Eutanasia tidak atas permintaan pasien

Yezzi membagi eutanasia menjadi :
♥ Eutanasia pasif
♥ Eutanasia aktif
♥ Eutanasia sukarela
♥ Eutanasia tidak sukarela
♥ Eutanasia non voluntary (adanya pihak ketiga yg menyampaikan keinginan
pasien)
Menurut filsafat Eutanasia :
membiarkan seseorang mati (allowing someone to die)

Oleh karena itu sikap yang seharusnya diambil oleh dokter dan tenaga medis lainnya harus berpihak kepada “memilih hidup”, sekali dokter memihak kepada “memilih kematian” maka ia mengingkari makna profesinya sendiri, karena inti tugas profesi dokter adalah menyelamatkan hidup penderita dan bukan mengakhirinya.
slam menggolongkan eutanasia kepada sikap “putus asa” dan islam sangat melarang umatnya untuk berputus asa.

Kamis, 13 Oktober 2011

[Anastesi] Bantuan Hidup Dasar


Resusitasi Jantung Paru
Adalah usaha untuk mengembalikan fungsi pernafasan, fungsi sirkulasi, fungsi saraf pusat pada pasien cardiac arrest (henti jantung) dimana tidak diharapkan meninggal saat itu.

Pemulaian langkah RJP
  1. Tidak ada respon pada rangsangan
  2. Tidak ada nafas
  3. Tidak teraba nadi arteri besar
Tahap RJP
  1. Bantuan Hidup Dasar (Oksigenasi darurat)
  2. Bantuan Hidup Lanjut (pemulihan sirkulasi spontan)
  3. Bantuan hidup jangka panjang (resusitasi otak & terapi intensive paska resusitasi)
B H D (Bantuan Hidup Dasar)
Indikasi BHD
  1. Apnue (ditentukan ada/tidaknya nafas)
Lihat, perhatikan, rasa, dengar.
  1. Henti jantung --> delivery O2 terhenti

Definisi Henti Nafas – Henti Jantung
  1. Henti nafas --> nafas berhenti (Apnue)
  2. Henti Jantung --> Jantung berhenti kontraksi
--> Kedua keadaan ini saling kait mengkait.

Penyebabnya Henti Nafas – Henti Jantung
  1. Sumbatan jalan nafas partial atau total
  2. Pernafasan yang tidak adekuat baik akut/kronis
  3. Gangguan rangsang pernafasan --> depresi SSP
  4. Gangguan usaha pernafasan --> cervical fracture
  5. Gangguan paru --> infeksi, aspirasi, asma
  6. Kelainan Jantung : primer / sekunder --> VF (iskemi, infark, obat)
Bisa primer atau sekunder. Sistem respirasi dan kardiovaskular saling berintegrasi.


Contoh : Hipoksemia --> Iskemia Miokard
Penyakit berat --> VO2 meningkat
Gagal nafas --> gagal jantung

Pencegahan (penurunan mortalitas)
  1. Identifikasi sebelum henti jantung/nafas.
  2. Kenali orang-orang yang beresiko tinggi (dengan Anemnesis dan Px).
Memburuknya gejalan klinik : hipotensi, gelisah, lethargi, GCS rendah, CO (lembab, dingin, cyanosis, nadi kecil, lemas, UOP<30 ml/jam).
  1. Hubungi fasilitas medis canggih --> ICU/ICCU.

Kontra indikasi BHD
  1. Kematian normal
  2. Stadium terminal suatu penyakit
  3. Dipastikan bahwa fungsi otak tidak dapat pulih yaitu ½ - 1 jam tidak ada nadi pada normotermi tanpa RJP.

Guna / Tujuan BHD
Mempertahankan pernafasan dan sirkulasi yang adekuat sampai kondisi yang menyebabkan henti nafas / henti jantung dapat diatasi (untuk oksigenasi darurat).

Tahapan BHD
  1. Penilaian awal
  2. Membebaskan jalan nafas
  3. Memberi nafas buatan dengan hawa ekshalasi penolong
  4. Pijat jantung

3 elemen penting BHD setelah Penilaian awal
  1. Airway
Penguasaan jalan nafas, misalnya jalan nafas tertutup oleh lidah. Lakukan ekstensi kepala angkat leher; ekstensi kepala angkat dagu; ekstensi kepala doromng mandibula.
  1. Breathing
Dengan ventilasi buatan berikan oksigenasi yang adekuat, adekuat terlihat dari dada naik turun dengan amplitudo yang seirama, keluar masuknya udara dari mulut/ hidung, terasa adanya kompliens.
  1. Circulation
    • Hilang kesadaran 15’ post henti jantung
    • Tidak terasa denyut nadi arteri besar
    • Henti nafas/gasping
    • Death like appearance
    • Pucat
    • Dilated pupil

Urutan tindakan
  1. Pastikan keselamatan penolong dan pasien terjamin
  2. Periksa pasien, lihat responnya
  3. a. Pasien menjawab --> biarkan pasien pada posisi ditemukan
periksa kondisi pasien secara berkala dan teratur
b. Tidak berespon --> i. Cari bantuan.
ii. Buka jalan nafas (jika mungkin) tanpa merobah posisi
      1. Posisikan Head Tilt, siap memebri nafas buatan.
      2. Berikan nafas buatan, pertahankan jalan nafas bebas.
      3. Lihat, dengar, raba --> ada/tidaknya udara pernafasan keluar masuk, lihat pergerakan dada naik turun, dengar suara pernafasan padamulut pasien, raba gerak hawa pernafasan dengan pipi.
  1. Penderita diletakkan pada dasar yang keras

Posisi penolong
  • Berlutut disamping penderita
  • Pangkal tangan letakkan di 2 jari ke atas dari xypoid sternum
  • Tangan lain diatas tangan pertama
  • Tekanan 4 – 5 cm (lengan harus lurus ke 2 bahu tepat diatas sternum)
  • Setelah kompresi harus relaksasi (relaksasi --> kompresi , maksimal 7 detik)

1 Penolong
  • Kompresi 15 kali dalam 9” – 12”
  • Ventilasi 2 kali dalam 2” – 3”
  • 1 daur kompresi-ventilasi berlangsung selama 15”
  • 1 menit berarti 4 kali daur kompresi-ventilasi, atau
  • 1 menit berarti 60 kali kompresi – 8 kali ventilasi

2 Penolong
  • Kompresi 5 kali (3” – 4”)
  • Ventilasi 1 kali dalam 1”
  • 1 daur kompresi-ventilasi selesai dalam 5”
  • 1 menit berarti 12 kali daur kompresi-ventilasi (60:5)
  • 1 menit berarti 60 kali kompresi - 12 kali ventilasi.

Sesudah 4 kali daur kompresi-ventilasi pada 1 penolong, atau
Sesudah 12 kali daur kompresi-ventilasi pada 2 penolong
--> Evaluasi nadi selama 5”, ventilasi dalam 3-5”
Prinsip Dasar Tatalaksana
--> Tujuan utama peningkatan penyampaian oksigen jaringan
CaO2 = Hb X 1,34 X Sat. + Pa O2 X 0,003
DO2 = CO X Hb X 1,34 X Sat. + Pa O2 X 0,003
= Hr X Vol Sekuncup X CaO2