This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 04 Juni 2012

BP Overtreatment for Diabetics May Be as Common as Undertreatment at VA


The efforts by the Veterans Administration (VA) to ensure that all hypertensive diabetic patients receive appropriate blood-pressure medication has been so successful that many patients may be "overtreated," results of a new study show [1].
The study by Dr Eve Kerr (Department of Veterans Affairs, Ann Arbor Healthcare System, MI) and colleagues, published online May 28, 2012 in the Archives of Internal Medicine, shows that the VA has made impressive progress in reducing undertreatment of hypertension in diabetic patients at its hospitals. But it now "appears that in the VA, rates of potential overtreatment are currently approaching, and perhaps even exceeding, the rate of undertreatment and that high rates of achieving current performance measurement targets are directly associated with medication escalation that may increase risk for patients," the authors conclude.
Kerr et al retrospectively analyzed the care of hypertension in nearly a million established VA patients with diabetes at 879 VA hospitals and smaller outpatient clinics in 2009 and 2010. The measures taken to manage the hypertension in each patient was considered appropriate if the patient did not have high blood pressure (<140/90 mm Hg) during the index visit or if the patient's hypertension was treated appropriately with blood-pressure medication.
In the study, 82% of patients had a blood pressure <140/90 mm Hg and 12% of patients with a higher blood pressure were treated with appropriate clinical actions, according to Kerr et all, so 94% of patients "passed" the test of the study. However, pass rates varied among facilities from 77% to 99% (p<0.001). Among all of the patients with diabetes, 20% had blood pressure below 130/65 mm Hg, and therefore 8% of patients with diabetes were potentially overtreated, the study found. Facility rates of potential overtreatment varied from 3% to 20% (p<0.001), and the facilities with the highest rates of meeting the threshold target of <140/90 mm Hg had higher rates of potential overtreatment (p<0.001).
According to the authors, recent improvements in treatment of diabetic patients have been partially driven by performance measures focused on specific risk-factor thresholds. "Yet, the evidence does not fully support the 'treat-to-target' approach implied in current performance measures," Kerr et al argue. "While there is no doubt that appropriate management of hypertension among patients with diabetes is of critical importance, our data suggest that the VA and other high-performing health systems may have reached the point when threshold measures for BP control have the potential to do more harm than good," Kerr et al explain.
"Most randomized controlled trials provide causal evidence for the benefit of treatment (eg, a BP medication or statin) and not a particular threshold risk-factor level achieved in the intervention group," Kerr et al. explain. "Consequently, such measures can promote overtreatment and diastolic hypotension, which has been shown in multiple studies to be associated with worse cardiovascular outcomes."
Instead of these dichotomous thresholds, the study authors favor "tightly linked" clinical action measures strongly tied to the evidence. The VA is now instituting new clinical action measures for hypertension management that capture the complexity of clinical decisions, credit the facility for delivering the right evidence-based treatment even if a specific risk-factor threshold is not achieved, and reduce the potential for overtreatment and unintended consequences accounting for other patient-specific factors.
In an accompanying editorial [2], Dr Eileen Handberg (University of Florida, Gainesville) argues that Kerr et al's definition of "overtreatment" is based on their critique of current hypertension management research and not guidelines that were available to the VA clinicians evaluated by the study. "With no guidance as to a lower threshold other than epidemiological (for BP) and other risk-factor (for LDL-cholesterol) data that 'lower is better,' one could argue that lower BPs were an indicator of better care, not 'overtreatment,' " Handberg argues. The study presents no evidence that these "overtreated" patients were at increased risk, so "a blanket statement that 10% of the VA population may be overtreated creates a negative impression of care that might not be true."
Nevertheless, Handberg agrees that "reporting of performance measures is important, and the development of tightly linked clinical measures as those by Kerr et al are an important step forward in evaluating the complexities of management for hypertension and serve as a model for other measures."
Neither the authors nor the editorialist have any financial disclosures.

Liraglutide (GLP-1 analogue), Mempunyai Potensi untuk Menurunkan Berat Badan

Studi terbaru menunjukkan 35,6% kelebihan berat badan hilang pada pasien obesitas yang diberikan liraglutide 3 mg/hari selama setahun. Dr. Nick Finer (University College London Hospitals (UCLH) and UCLH Centre for Weight Loss, Metabolic and Endocrine Surgery at University College London, United Kingdom) melaporkan di 19th European Congress on Obesity (ECO) bahwa nilai number needed to treat (NNT) untuk mencapai 10% penurunanan berat badan total pada pemberian liraglutide hanya sebesar 3, dan sebesar 2 untuk mencapai 5% penurunan kelebihan berat badan.

Liraglutide merupakan injeksi subkutan long-acting glucagon-like peptide (GLP)-1 analogue yang telah disetujui untuk perawatan diabetes tipe 2 sebagai terapi pendamping diet dan olahraga. Dala uji klinik 20 minggu, yang kemudian diperpanjang menjadi 52 minggu ini, peserta dengan BMI 30–40 kg/ m2, umur 18-65 tahun, dan dengan kadar gula darah puasa < 126 mg/dL diberikan plasebo selama 2 minggu dan kemudian secara acak diberikan 1 dari 6 pilihan perawatan: liraglutide subkutan 1,2 mg/hari, 1,8 mg/hari, 2,4 mg/hari, atau 3 mg/hari; injeksi placebo subkutan; atau orlistat oral 120 mg 3x/hari. Dari minggu 20–52, investigator dan peserta dibuat tidak mengetahui obat yang diberikan (liraglutide atau plasebo). Selama uji klinik ini, peserta menjalani diet pengurangan 500 kkal/hari dan melakukan aktivitas fisik yang lebih tinggi.

Total 356 peserta menyelesaikan uji klinik sampai minggu ke-52. Penurunan berat badan terjadi pada minggu ke-20, kemudian berlanjut sampai minggu ke-52, terkait dengan dosis liraglutide (dose dependent). 75% pasien yang diberikan liraglutide 3 mg dikategorikan sebagai responder (paling tidak mengalami penurunan BB sebesar 5%) dibanding 32% pasien yang diberikan plasebo dan 38% pada pasien orlistat. Responder liraglutide mengalami kehilangan BB sebesar 7,9 kg pada minggu ke-12, dan pada minggu ke 52, kehilangan BB sebesar 11,1 kg (sekitar 12% dari rata-rata total berat badan atau 35,6% dari kelebihan berat badan). Non-responder liraglutide hanya mengalami kehilangan BB sebesar 3,2 kg pada minggu ke-12, tetapi pada minggu ke-52, total Bb yang hilang sebesar 6 kg. Respon pada kelompok plasebo mengalami penurunan berat badan sebesar 7,1 kg pada minggu ke-52. Pada minggu ke-52, tidak ada pasien kelompok liraglutide yang mengalami kenaikan berat badan, dibanding 27% pada kelompok plasebo dan 13% pada kelompok orlistat yang mengalami kenaikan berat badan.

Namun diperlukan studi yang lebih lengkap untuk indikasi penggunaan liraglutide sebagai obat penurun berat badan, salah satunya mungkin data keamanan kardiovaskuler, sebagai konsekuensi adanya masalah pada sibutramine di masa lalu.(AGN)


Referensi:
19th European Congress on Obesity (ECO). Abstract #152. Presented May 11, 2012

Sepsis, Meropenem Tunggal Sebanding dengan Kombinasi Meropenem-Moxifloxacin

Studi terbaru menunjukkan kombinasi meropenem dan moxifloxacin tidak lebih baik dibanding dengan monoterapi meropenem untuk pasien dengan sepsis derajat berat. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association tahun 2012. Terapi antimikroba yang tepat dan segera menghasilkan angka kematian yang lebih rendah terkait sepsis derajat berat. Perananan terapi empiris dengan mengombinasikan 2 antibiotik dengan mekanisme yang berbeda masih bersifat kontroversial.

Sebuah studi paralel, terbuka, acak pada 600 pasien dengan sepsis derajat berat atau syok septik membandingkan pemberian meropenem (n=298) vs meropenem + movifloxacin (n=302). Uji klinik ini dilakukan pada 41 ICU di Jerman mulai dari Oktober 200 7 – Maret 20120. Jumlah pasien yang dievaluasi sebanyak 273 pada kelompok monoterapi dan 278 pada kelompok kombinasi. Meropenem IV (1 g setiap 8 jam) diberikan sebagai agan tunggal atau dikombinasikan dengan moxifloxacin (400 mg setiap 24 jam) selama 7 – 14 hari atau sampai pasien keluar dari ICU atau meninggal (mana yang tercapai lebih dahulu).

Dari 551 pasien yang dievaluasi, tidak terdapat perbedaan rata-rata skor SOFA (sequential organ failure assessment: 0-24 poin, di mana skor yang lebih tinggi menunjukkan kegagalan organ yang lebih berat) selama 14 hari yang bermakna pada kelompok meropenem (8,3 poin; 95% CI, 7,8-8,8 poin) dibandingkan dengan kelompok meropenem + moxifloxacin (7,9 poin; 95% CI, 7,5-8,4 point) (P=0,36). Selain itu, tidak terdapat perbedaan bermakna dalam hal mortalitas, pada hari ke-28, terdapat 66 kematian pada kelompok kombinasi (23,9%; 95% CI, 19,0%-29,4%) dibanding 59 kematian pada kelompok meropenem (21,9%; 95% CI, 17,1%-27,4%) (P=0,58). Pada hari ke-90, terdapat 96 kematian (35,3%; 95% CI, 29,6%-41,3%) dibandingkan 84 kematian (32,1%; 95% CI, 26,5%-38,1%) (P=0,43) pada kelompok monoterapi. Bahkan terdapat insidens efek samping yang lebih banyak pada kelompok kombinasi (n=26; 8,6% [95% CI, 5,7%-12,3%]) dibanding dengan kelompok monoterapi (n=11; 3,8% [95% CI, 1,2%-6,6%]; P=0,02).

Berdasarkan studi tersebut peneliti menyimpulkan bahwa, pada pasien dengan sepsis berat, pemberian kombinasi meropenem dengan moxifloxacin dibanding monoterapi meropenem tidak memberikan hasil yang lebih baik dalam hal kegagalan organ.(AGN)

Referensi:
Brunkhorst FM, Oppert M, Marx G, Bloos F, Ludewig K, Ptensen C, et al. Effect of empirical treatment with moxifloxacin and meropenem vs meropenem on sepsis-related organ dysfunction in patients with severe sepsis: A randomized trial. JAMA. 2012;


Metformin, Manfaatnya pada Pasien Obesitas Non-Diabetes dengan Hipertensi

Obesitas dan Hipertensi sering berkaitan dengan efek metabolisme dan inflamasi sistemik derajat rendah. Metformin menurunkan berat badan dan proses inflamasi pada pasien dengan diabetes. Dan studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan metformin juga memberikan efek yang menguntungkan pada pasien obesitas non-diabetes dengan hipertensi. Metformin mampu menurunkan kolesterol total, obesitas abdominal, dan kadar CRP pada pasien non-diabetes tersebut. Hal ini merupakan kesimpulan dari studi yang dilakukan oleh Dr. He dan kolega dan dipublikasikan secara online dalam Journal of Hypertension bulan April 2012 ini.

Studi tersebut melibatkan sebanyak 180 partisipan, yang secara acak mendapat metformin dan sebanyak 180 partisipan yang secara acak mendapat plasebo. Pada minggu ke-24, pemberian metformin jika dibandingkan dengan plasebotidak memberikan efek yang bermakna pada penurunan tekanan darah, kadar gula darah, HDL maupun LDL, namun menurunkan total kolesterol serum (0,27 mmol/L, P=0,038). Metformin secara bermakna juga menurunkan berat badan (-0,7 kg. P=0,006), BMI (-0,2 kg/m, P=0,024), serta lingkar pinggang (-0,9 cm, P=0,008), dan baik lemak subkutan (-6,1 cm, P=0,043) maupun viseral (-5,4 cm, P=0,028) yang diukur dengan menggunakan computered tomography, dan menurunkan kadar C-reactive protein (-0,6 mg/dL, P<0,001). Namun tidak ada perbedaan yang bermakna dalam hal kejadian efek samping (P=0,785).

Berdasarkan hasil studi tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa metformin tidak memberikan efek terhadap tekanan darah, kadar gula darah, namun mampu menurunkan total kolesterol, obesitas abdominal, dan kadar C-reactive protein pada pasien obes dengan hipertensi tanpa diabetes.

Referensi:
He H, Zhao Z, Chen J, Ni Y, Zhong J, Yan Z, Li Y, Liu D, Pletcher MJ, Zhu Z; Metformin-based treatment for obesity-related hypertension: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Journal of Hypertension (Apr 2012).











Penggunaan NSAIDs Jangka Panjang Mengurangi Risiko Kanker Kulit

Studi terbaru (population based, case control) yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Cancer pada Mei 2012, menunjukkan bahwa penggunaan nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) dapat mengurangi risiko terjadinya squamous cell carcinoma (SCC) atau malignant melanoma (MM). Studi yang dilakukan oleh Sigrun Alba Johannesdottir Bsc., ini menggunakan data dari Danish Cancer Registry (DCR), di mana peneliti mengidentifikasi semua kasus SCC, MM, dan BCC yang didiagnosis pad pasien dengan umur 20 tahun atau lebih di Denmark utara, mulai dari tahun 1991–2009. Peneliti mengidentifikasi 1974 kasus SCC, 13.316 kasus BCC, dan 3242 kasus MM.

Secara umum penggunaan NSAID (>2 peresepan) terkait dengan penurunan risiko SCC (incidence rate ratio [IRR], 0,85; 95% confidence interval [CI], 0,76–0,94) dan MM (IRR, 0,87; 95% CI, 0,80–0,95) dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan (<2 peresepan). Hal ini terutama untuk penggunaan jangka pangka panjang (≥7 tahun) dan penggunaan intensitas tinggi (>25% cakupan peresepan selama total durasi penggunaan). 

Sekalipun penggunaan NSAID tidak terkait dengan penurunan risiko basal cell carcinoma (BCC) secara umum (IRR, 0,97; 95% CI, 0,93–1,01), penurunan risiko BCC selain di kepala tercatat pada penggunaan jangka panjang (IRR, 0,85; 95% CI, 0,76–0,95) dan intensitas tinggi (IRR, 0,79; 95% CI, 0,69–0,91). Efek dari NSAID meningkat sesuai dengan lamanya durasi dan intensitas penggunaan yang mungkin menunjukkan efek biologis kumulatif (dose response effect) dalam inisiasi karsinogenesis. Peneliti mencatat bahwa NSAID yang terkait dengan penurunan risiko kanker terutama adalah NSAID nonselektif dan COX-2 inhibitor generasi lama (diclofenac, meloxicam, etodolac). Tidak seperti studi lain, studi ini tidak mendukung temuan bahwa COX-2 inhibitor baru terkait dengan penurunan risiko kanker kulit dan BCC.

Berdasarkan penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa NSAID secara umum, termasuk aspirin, NSAID nonselektif lain, dan COX-2 inhibitor generasi lama terkait dengan penurunan risiko kanker kulit, khususnya SCC dan MM.(AGN)



Referensi:
Sigrun Alba Johannesdottir, Ellen T. Chang, Frank Mehnert, Morten Schmidt, Anne Braae Olesen and Henrik Toft Sørensen. Nonsteroidal anti-inflammatory drugs and the risk of skin cancer : A population-based case-control study. 29 May 2012 | DOI: 10.1002/cncr.27406


Peranan Vitamin D pada Asma Bronkiale

Vitamin D merupakan salah satu vitamin yang mempunyai banyak manfaat, selain fungsi utamannya untuk sistem rangka tubuh, studi terbaru menunjukkan bahwa vitamin D jugamempunyai pengaruh terhadap kejadian dan mekanisme asma bronkial. Hal ini merupakan studi yang dilakukan oleh Dr. Luong dan kolega yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Pulmonary Pharmacology & Therapeutics bulan April 2012.

Dalam studi tersebut disebutkan bahwa vitamin D dan metabolismenya mempunyai peran penting sebagai hormon untuk memodulasi sistem imunitas dan mampu menekan sel Th2 yan gberperan dalam reaksi alergi pada saluran nafas. Beberapa faktor genetik mungkin berkontribusi dalam terjadinya asma ini yang diatur oleh vitamin D, seperti Vitamin D receptor (VDR), human leukocyte antigen genes (HLA), human Toll-like receptors (TLR), matrix metalloproteinases (MMPs), a disintegrin and metalloprotein-33 (ADAM-33), dan poly(ADP-ribosyl) polymerase- 1 (PARP-1).

Vitamin D juga terlibat dalam asma melalui efek pada obesitas, vaksinasi basil Calmettee Guérin (BCG) dan kadar vitamin D yang tinggi tinggi, suplemen vitamin D, checkpoint protein kinase 1 (Chk1), plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) dan gamma delta T cells (gdT). Vitamin D berperan dalam asma dan mekanismenya dengan cara baik melalui genomik dan / atau non-genomik.


Referensi:
Luong Kv, Nguyen LT. The role of vitamin D in asthma. Pulmonary Pharmacology & Therapeutics 2012:25(2):137-43.


Suplementasi Co-enzyme Q-10 Menurunkan Keluhan Nyeri Kepala pada Pasien Fibromialgia

Coenzyme Q10 adalah substansi menyerupai vitamin larut lemak dan dikenal juga dengan nama ubiquinone. Coenzyme Q10 diindikasikan untuk pengobatan berbagai penyakit kardiovaskuler, neurologi dan imunologi. Studi terbaru menunjukkan bahwa splementasi co-enzim Q10 juga memberikan manfaat dalam mengurangi nyeri kepala pada pasien-pasien dengan fibromialgia. Studi yang dilakukan oleh Dr. Cordero dan kolega ini dipublikasikan secara online dalam jurnal PloS One tahun 2012 ini.

Dalam studi tersebut peneliti melibatkan sebanyak 10 pasien fibromyalgia dan 15 subyek sebagai pembanding yang juga dilakukan evaluasi parameter-parameter stress oksidatif yaitu kadar coenzyme Q10, kadar catalase dan kadar malondialdehyde. Selain itu juga dinilai beratnya sakit kepala dengan visual analog score (VAS), fibromyalgia impact questionnaire (FIS), dan headache impact test (HIT-6). Korelasi antara kadar coenzyme Q10, catalase dan malondialdehyde dengan beratnya gejala sakit kepala (HIT-6) dihitung dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson (r). 

sebanyak 10 pasien fibromyalgia diberikan suplementasi coenzyme Q10 dalam bentuk ubiquinone sebanyak 300 mg / hari selama 3 bulan kemudian dievaluasi kembali parameter-parameter stress oksidatif yaitu kadar coenzyme Q10, catalase dan malondialdehyde serta beratnya gejala sakit kepala dengan visual analog score (VAS), fibromyalgia impact questionnaire (FIS), dan headache impact test (HIT-6).

Hasil pertama dari penelitian ini adalah kadar coenzyme Q10 dan catalase berkorelasi negatif secara signifikan dengan beratnya gejala sakit kepala (HIT-6) dengan koefisien korelasi: r = -0,59; P<0,05 & r = -0,68; P<0,05.2 Selain itu kadar malondialdehyde berkorelasi positif secara signifikan dengan beratnya sakit kepala (HIT-6) dengan koefisien korelasi: r = 0,33; P<0,05.2. Hasil kedua dari penelitian ini adalah pemberian suplementasi coenzyme Q10 dalam bentuk ubiquinone 300 mg / hari selama 3 bulan meningkatkan secara bermakna kadar coenzyme Q10 (p<0,001) dan catalase (p<0,001) serta menurunkan secara bermakna kadar malondialdehyde (p<0,001).2 Selain itu beratnya gejala sakit kepala juga membaik secara bermakna setelah suplementasi coenzyme Q10 diukur dengan menggunakan visual analog score (VAS) (p<0,01), fibromyalgia impact questionnaire (FIS) (p<0,01), dan headache impact test (HIT-6) (p<0,05).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah beratnya gejala sakit kepala pada fibromyalgia berkorelasi dengan parameter-parameter stress oksidatif. Lebih lanjut, suplementasi coenzyme Q10 menunjukkan perbaikan gejala klinis yang bermakna pada sakit kepala fibromyalgia. Penelitian lanjutan dengan uji klinis acak, tersamar ganda diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini. (NNO)


Referensi:
Cordero MD, Cano-Garcia FJ, Alcocer-Gomez E, De Miguel M, Sanzhez-Alcazar JA. Oxidative Stress Correlates with Headache Symptoms in Fibromyalgia: Coenzyme Q10 Effect on Clinical Improvement. PLoS One. 2012; 7(4): 1-6.